Showing posts with label Hobby. Show all posts
Showing posts with label Hobby. Show all posts

Thursday, April 16, 2009

Perahu 007

ISO 200 - 1/2s - F22 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng- sunrise ~

Tuesday, April 14, 2009

Sang Penyihir Dari Portobello

Baru beli bukunya beberapa hari yang lalu di Gramedia. Niatnya sih sebelumnya mau pesen online aja, tapi nanggung. Berhubung beberapa hari ini libur, jadi ada kesempatan untuk segera menyelesaikan bukunya.

Buku ini menceritakan kisah hidup tentang Athena, seorang wanita anak seorang gipsi yang dilahirkan di Transylvania yang kemudian diadopsi oleh pasangan yang berasal dari Lebanon. Yang menarik adalah kisah hidup Athena yang merupakan inti dari novel ini, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, orang-orang yang pernah berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengannya: ibu angkatnya, suaminya (dan mantan suaminya), jurnalis, pendeta, alhi kaligrafi, sejarawan, aktris, hingga numerologis. Dan semuanya disusun secara kronologis kecuali di bagian awal bukunya, karena bukunya diawali dengan kisah kematiannya. Menjadikannya semacam biografi namun fiksi tentunya.

Dalam perjalananan ceritanya Athena selalu berusaha menjati jati dirinya. Mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam diri manusia. Dia mencari sesuatu yang hilang dari hidupnya, yaitu apa yang dia sebut sebagai 'ruang kosong'. Pencariannya ini menuntunnya untuk menjadi seorang pemimpin spiritual yang kontroversial di Portobello.

Novel ini menurutku cukup inspiring, mengajari banyak hal berkaitan dengan cinta, identitas, perubahan, dan sudut pandang. Semua yang ada di dalam hidup ini akan tampak berbeda jika mencoba memandangnya dari sudut pandang dan perspektif yang lain, seperti halnya bagaimana karakter Athena yang digambarkan dari sudut pandang orang-orang sekitarnya.

Walaupun demikian, seperti novel-novel Paulo Coelho yang lain, dimana sarat dengan hal-hal yang berbau spiritual, aku merasa banyak pertentangan-pertentangan ketika membaca novel ini, terutama yang berkaitan dengan keyakinan yang aku anut. Memang inspiring sih jika bisa mengambil pesan moralnya, tapi dibumbui dengan hal-hal yang agak-agak klenik dan kontrovesial. Ini nih yang nggak kusuka dari novel-novelnya dia. Yah, mungkin sisi positif yang bisa aku ambil adalah tak ada salahnya juga mengetahui, hitung-hitung menambah pengalaman. Asal jangan ikut-ikutan aja.

Saturday, April 11, 2009

Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al-Quran yang Terlupakan

Berawal dari melihat secara tak sengaja buku tersebut di rumah, dan kebetulan ada salah seorang temanku yang sudah membaca dan merekomendasikan buku ini, akhirnya aku putuskan untuk membacanya. Tadinya buku ini masuk prioritas terakhir, berhubung masih ada beberapa buku yang ingin aku baca duluan. Tapi sesekali, tak apa-apa lah membaca buku sains daripada kebanyakan membaca novel dan buku-buku bacaan ringan.

Dari judulnya, bisa diterka apa isi buku ini. Buku yang ditulis oleh Agus Purwanto, D.Sc, doktor fisika partikel lulusan ITB dan Universitas Hiroshima ini mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran (ayat-ayat tentang alam semesta) dari perspektif sains modern. Di pengantarnya, penulis menyatakan bahwa kelalaian dan pengabaian sains di Dunia Islam terjadi secara luas. Umat Islam masih berkutat dan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk perkara fikih. Meski ayat-ayat yang mengatur fiqih hanya berjumlah seperlima dari ayat kauniyah yang berjumlah 750 ayat, tetapi telah menyedot hampir semua energi ulama dan umat Islam. Sebaliknya ayat-ayat kauniyah yang berjumlah lebih banyak, malah terabaikan.

Berhubung latar belakang penulis adalah fisika, khususnya fisika partikel, jadinya penjelasan-penjelasan yang ada di buku ini juga dikaitkan dengan ilmu fisikanya. Sangat menarik, karena banyak hal yang aku dapat dari buku ini, terutama mengenai fisika, walaupun sekedar kulitnya saja. Sebagian diantaranya mencoba menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang dipelajari ketika SMA, dan sebagian sisanya, nggak pernah aku dapatkan ketika SMA, antara nggak ngerti apa isinya dan sekaligus penasaran.

Yang disayangkan dari buku ini, karena bahasan yang ditulis cukup banyak, jadi penjelasannya kurang mendalam. Sisi negatifnya, aku jadi nggak ngerti apa yang sedang dijelaskan. Sementara sisi positifnya, ini membuatku penasaran dan ingin mempelajari lebih jauh mengenai bahasan tersebut. Dan terkadang apa yang dijelaskan sudah advanced, jadi mesti nyari-nyari artikel pengantarnya biar aku ngerti apa yang sedang dibahas, Harapanku adalah kedepannya ada lagi buku-buku sejenis yang membahas lebih dalam, atau mencoba mengaitkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran dengan ilmu-ilmu lain seperti Biologi dan Kimia misalnya.

Buku cocok dibaca oleh orang-orang yang menyukai sains, khususnya fisika. Entah apa kata mereka yang telah membaca buku ini. Tapi untukku, buku ini memberikan banyak inspirasi dan mendorongku untuk mempelajari lebih jauh mengenai ilmu-ilmu fisika, khususnya fisika partikel. Ada yang berminat?

Thursday, April 09, 2009

Dua Fotografer

ISO 200 - 1/125s - F10 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng~

Wednesday, April 01, 2009

Sebutir Kelapa di Pinggir Pantai

ISO 200 - 1/100s - F11 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~Pantai Ujung Genteng~

Tuesday, March 31, 2009

Sunrise


ISO 200 - 1/60s - F8 - 11mm - Tokina AF 11-16mm f/2.8 AT-X Pro DX
~on the way to Ujung Genteng~

Sunday, February 01, 2009

Small Ladybug..

When I visited one of my family member, I found this creature on backyard. Unfortunately, I didn't bring my tripod, so it was difficult to capture using smaller aperture. My hand usually trembles when I shoot. I decided to use fast shutter speed. This meant I couldn't use smaller aperture to capture all details. The DOF was too shallow :(


ISO 200 - 1/160s - F6.3 - 105mm - Nikon AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED

Saturday, January 31, 2009

Grasshopper

I love green color of this grasshopper, texture on its shell, and contrast between its green shell and the color of the flower. I found it in one of pot around my house. Because lack of light, I used my tripod to help me to produce a sharp image.


ISO 200 - 1/100s - F9 - 105mm - Nikon AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED


Wednesday, January 07, 2009

Sekilas The Orange Girl (Gadis Jeruk): Novel Penuh Makna

Buku yang aslinya berjudul Appelsinpiken ini dikarang oleh Jostein Gaarder, pengarang Sophie's World atau Dunia Sophie. Setelah diterjemahkan, bukunya berjudul The Orange Girl atau dalam bahasa Indonesianya menjadi Gadis Jeruk.

Buku ini bercerita tentang Georg Roed, seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Oslo. Georg tinggal bersama ibu, ayah tirinya (Jorgen), dan adik perempuannya dari pernikahan ibu dengan ayah tirinya. Ayah kandung Georg telah meninggal 11 tahun sebelumnya, ketika dia berusia 4 tahun.

Alur cerita dari buku ini muncul ketika nenek Georg menemukan sebuah surat yang ditulis ayah Georg 11 tahun yang lalu beberapa saat sebelum meninggal. Surat tersebut ditujukan untuk Georg. Isi surat inilah yang kemudian dipaparkan dalam buku The Orange Girl dan menjadi inti cerita di dalamnya.

Halaman demi halaman di dalam buku ini menceritakan kisah-kisah pertemuan antara Jan Olav dengan Gadis Jeruk yang misterius yang selalu menghilang tiba-tiba. Diceritakan pula bagaimana di dalam buku ini Jan Olav mengutarakan kepolosannya dengan membuat hipotesis-hipotesis mengapa si Gadis Jeruk membawa jeruk begitu banyak, mengapa si Gadis Jeruk bisa tahu namanya dan dimana dia tinggal. Jostein Gaarder bisa dengan tepat menceritakan keadaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang berhubungan dengan kekasih hatinya. Dari pertemuan-pertemuan dengan si Gadis Jeruk, aku jadi cukup paham, mengapa cover buku ini didominasi oleh warna oranye tua dan menampilkan seorang gadis yang mengenakan pakaian oranye yang berwarna-warni sambil membawa sekantong besar jeruk.

Setelah melewati 2/3 bagian dari buku, aku mulai menemukan bagian-bagian yang bisa dijadikan pelajaran dan direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan dari Jan Olav kepada si Gadis Jeruk. Jan Olav bertanya mengapa si Gadis Jeruk harus repot-repot membawa puluhan jeruk untuk dilukis. Mengapa tak hanya mengambil satu buah saja dan mengulagi gambar jeruk tadi di atas kanvas. Dan jawabannya sungguh sangat sederhana: Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sama persis dengan yang lainnya. Bahkan dua batang rumput yang terlihat sama pun tak mungkin benar-benar sama. Dan begitu pula manusia, semuanya unik.

Ketika isi surat dari ayah kandung Georg selesai diceritakan dalam buku ini, inti dari The Orange Girl pun terkuak. Aku menyimpulkan bahwa inti dari buku ini adalah mengenai kehidupan, kematian, dan harapan. Bisa direnungkan bagaimana Georg bisa saja tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika Jan Olav dan si Gadis Jeruk tidak pernah bertemu. Jika dipikirkan lebih lanjut, begitu pula dengan dunia yang sedang kita alami sekarang ini. Bisa jadi hal-hal sepele yang kita lakukan pada akhirnya bisa mengubah dunia ini atau sekedar menciptakan kehidupan baru di dalamnya.

Kembali ke topik sebelumnya, pertemuan antara Jan Olav dan Gadis Jeruk menumbuhkan harapan-harapan baru yang dalam bukunya dikisahkan begitu romantis dan dipenuhi antusiasme diantara keduanya. Bagaimana akhirnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Georg itu sendiri sebelum akhirnya cerita menjadi berakhir pahit karena Jan Olav sakit dan meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Ya, Gaarder mencoba menjelaskan kematian, namun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Suatu saat kita semua akan mati, dan Jan Olav menyampaikan pesan tersebut melalui surat yang ditulisnya untuk Georg. Kurasa ini adalah pesan moral terpenting dalam buku ini. Apapun jalan yang kita ambil, suatu saat kita akan mati dan meninggalkan semuanya. Pesan yang bisa diambil adalah: apakah yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita lahir dan ada di dunia ini dan suatu saat akan mati. Jawaban tiap orang tentu saja berbeda mengenai hal ini.

Bahkan di dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan filosofi yang agak-agak sulit dijawab. Jika kita diberi kesempatan, apakah yang akan kita pilih: memilih hidup singkat di dunia yang kita tahu kita akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi kesana, atau mengatakan 'tidak, terima kasih', dalam artian kita tidak pernah mengalami hidup itu sendiri. Berat sekali untuk direnungkan dan memilih seandainya ada pilihan seperti itu. Dalam keyakinanku, hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita terlahir sebagai manusia juga sudah ada yang mengatur. Ini hanyalah masalah akan diapakan sisa hidup kita. Banyak harapan-harapan yang bisa dicapai sebelum kita mencapai apa yang disebut dengan kematian.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Terutama untuk orang-orang yang menyukai filsafat. Walaupun pada awalnya buku ini seperti novel biasa yang bertema pengejaran cinta, namun bacalah hingga ujung bukunya dan bisa disimpulkan buku macam apa yang ditulis oleh Gaarder. Buku ini adalah buku kedua karangannya yang aku baca setelah Dunia Sophie yang kubaca ketika aku SMP dulu. Udah rada-rada lupa, tapi paling nggak The Orange Girl lebih sederhana dan nggak ribet seperti Dunia Sophie. Rencana berikutnya adalah berburu buku-buku lain karangan Jostein Gaarder, semoga aja masih ada di Kinokuniya / Periplus. Seapes-apesnya paling mesen ke www.inibuku.com edisi terjemahannya.

Wednesday, December 10, 2008

Reflection


Nggak sengaja nemu serangga di mobilnya Novan waktu acara rafting kmaren. Thx juga bwt Maya yang ngasih tahu :P

Sunday, November 30, 2008

Sekilas Rectoverso: Baca Musiknya, Dengar Fiksinya


Buku yang berisi 11 kisah yang ditulis oleh Dewi Lestari ini aku beli seminggu yang lalu melalui www.inibuku.com. Berawal dari rekomendasi salah seorang temanku kurang lebih sebulan yang lalu - yang waktu itu juga belum membaca bukunya, akhirnya bisa kebeli juga. Maklum, ada beberapa buku yang sebelumnya sudah masuk wish list ku, jadi nunggu listnya abis dulu baru beli Rectoverso. :D

Sewaktu menerima kiriman bukunya, langsung aku bongkar, ada bonus stikernya, tetapi nggak ada CD nya. Baru ngeh, kalo CD nya ternyata dijual terpisah. Harga 75 ribu rupiah dipotong diskon 10% ternyata cuma bukunya doang. Nggak mau rugi, dan emang udah pengen denger lagunya, langsung aja googling, nemu, dan langsung unduh :P. Jadilah sebelum aku 'dengar' bukunya, lagu-lagunya sudah aku 'baca' duluan. Sayang sekali kalo sampe nggak punya album musiknya. Karena album musiknya pun terdiri dari 11 lagu yang merepresentasikan masing-masing kisah dalam bukunya.

Berikut ini adalah 11 judul kisah yang ada di buku maupun album musiknya:

  1. Curhat Buat Sahabat
  2. Malaikat Juga Tahu
  3. Selamat Ulang Tahun
  4. Aku Ada
  5. Hanya Isyarat
  6. Peluk
  7. Grew A Day Older
  8. Cicak Di Dinding
  9. Firasat
  10. Tidur
  11. Back To Heaven's Light
Dari sisi isi bukunya, aku bisa bilang bagus. Semua kisahnya rata-rata pendek, cuma beberapa halaman aja, malah ada yang cuma 2 halaman. Tapi sudah cukup mewakili apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Baik buku dan lagunya bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Namun, untuk kasusku kemarin, aku 'membaca' semua musiknyanya dulu, baru 'mendengarkan' fiksinya. Rasa-rasanya menikmati buku dan lagunya dengan cara tersebut menyenangkan juga. Dengan membaca lagunya, aku hanya bisa menebak-nebak apa maksud yang ingin diutarakan oleh penulisnya. Begitu mendengarkan bukunya, baru tahu deh, ternyata maksud yang sebenarnya jauh dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Kurasa, jika lagu-lagu lain dibuat pula kisahnya dalam bentuk cerpen/fiksi, mungkin akan menyenangkan. Jadi bisa tahu apa isi sebenarnya dari lagu yang kita dengarkan, dan apa yang ingin disampaikan oleh di pencipta lagu tersebut.

Dalam Rectoverso ini, IMHO, kurasa tak ada happy ending atau sad ending. Semuanya diceritakan menggantung, seolah tak berawal dan tak berakhir, hanya menceritakan potongan-potongan kisah. Untuk ujung ceritanya gimana, biarlah masing-masing pembaca yang berimajinasi sendiri. Namun walaupun demikian, dengan adanya lagu yang terpisah jadi berasa saling melengkapi.

Sayangnya, harga bukunya rada-rada 'kemahalan' mengingat jumlah halamannya sekitar 140an. Padahal banyak halaman kosongnya juga yang menjadi pembatas masing-masing kisah. Entah apa karena banyak halaman yg dipenuhi oleh gambar-gambar yang berwarnanya ditambah dengan sampulnya yang hard cover, harganya jadi mahal. Tapi, basically worth it lah ;) .

Tuesday, October 14, 2008

Serangga apakah ini?

Penasaran, ini serangga apa ya? Ada yang bilang LadyBug, tapi kok rasa-rasanya bukan deh. Ada yang tahu?



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 125
Aperture F/8
Focal length 105mm
Exposure 1/60

Monday, October 13, 2008

Sluurppp...



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 125
Aperture F/8
Focal length 105mm
Exposure 1/200

Friday, October 10, 2008

Dibalik rumput...



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 100
Aperture F/11
Focal length 105mm
Exposure 1/60

Thursday, October 09, 2008

Capung...



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 200
Aperture F/5.6
Focal length 105mm
Exposure 1/50

Wednesday, October 08, 2008

Stress..

Melihat teman di depan meja lagi pusing, langsung ambil kamera dan jepret... Sekalian mencoba lensa pinjaman. Sorry Din.. no offense

Nikon D80
AF 50mm f/1.8D
ISO 200
Aperture F/1.8
Focal length 50 mm
Exposure 1/60

Macro Photography

Inilah alasan utama mengapa aku membeli kamera DSLR. Aku menyukai objek-objek close-up seperti bunga, serangga, dan objek-objek kecil lainnya. Untuk mencari objek-objek tersebut, menurutku nggak terlalu susah. Ada dimana-mana, bahkan di dalam rumah sekalipun.

Setelah memberi kamera berikut dengan lensa kitnya, baru sadar jika ternyata lensa kit tidak bisa digunakan untuk pengambilan gambar secara close-up untuk objek-objek yang berukuran kecil. Lensa 18-135 mm yang merupakan lensa kit dari kamera yang aku beli, nggak banget deh. Jarak fokus minimumnya sekitar 30 cm dari lensa. Dan itu udah maksimal, nggak bisa fokus untuk objek yang lebih dekat.

Akhirnya aku putuskan untuk membeli sebuah lensa makro yang cukup recommended, yaitu AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED. Dengan focal length 105 mm, lensa tersebut memberikan jarak yang cukup untuk mengambil objek-objek kecil seperti serangga. Jarak fokus minimumnya sekitar 31cm atau sekitar 15cm dari ujung lensa (dengan magnification ratio 1:1, artinya pada jarak segitu, ukuran objek pada sensor berukuran sama dengan ukuran objek yang sebenarnya). Lensa ini adalah prime lens. Nggak ada zoomnya, karena memang untuk makro biasanya nggak ada zoomnya. Dan konon secara kualitas, prime lens lebih baik dibandingkan dengan lensa yang bukan prime lens, walaupun mengurangi fleksibilitas.

Tadinya, aku pikir mengambil objek-objek makro itu gampang. Kalo ngeliat foto-foto yang ada di Fotografer.net atau di Flickr bagus-bagus banget, jadi mikirnya gampang aja. Ternyata susahnya setengah mati. Objeknya sih memang banyak dan ada dimana-mana, tapi untuk mendapatkan gambar yang bagus dan benar-benar tajam, mesti benar-benar sabar dan tekun. Dalam tulisan ini, aku ingin sedikit berbagi unek-unek dalam menggunakan lensa makro. Berikut ini adalah beberapa kesulitan yang aku alami:

  1. Untuk objek-objek tidak bergerak seperti bunga, lebih gampang diambil, karena objeknya diam. Untuk objek-objek bergerak seperti serangga, tak segampang yang dikira. Objek yang difoto harus didekati, dan nggak semua serangga bisa didekati dengan mudah. Ada beberapa yang langsung kabur begitu didekati dari jarak sekitar 2 meter.

  2. Untuk mendapatkan pembesaran yang maksimum (magnification ratio 1:1) objek jelas perlu didekati. Semakin dekat, semakin besar kemungkinan objeknya kabur. Terkadang ada momen yang bagus banget, begitu mau mengatur fokus, objeknya sudah menghilang duluan. Dan ini nggak terjadi cuma sekali atau dua kali. Jadi memang mesti benar-benar sabar.

  3. Depth of Field atau DOF (bagian dari objek yang berada dalam fokus). Semakin kecil DOF, maka bagian objek yang fokus semakin kecil. Misalnya mengambil gambar suatu serangga dengan DOF yang kecil, maka yang fokus hanya bagian tertentu saja, misalnya matanya saja, sementara kakinya blur. Karena pada DOF yang kecil, objek yang berbeda 1 mm saja dari fokusnya, akan tergambar blur alias nggak jelas.

  4. Permasalahan dalam DOF ini adalah, semakin besar magnification rationya - semakin dekat dengan objek, DOF nya juga semakin kecil. Untuk memperbesar nilai DOF, bisa menggunakan aperture (bukaan) yang lebih kecil (f-number yang lebih besar) sehingga seluruh objek yang akan diambil tergambar dengan tajam dan tidak blur. Kompensasi dari menggunakan nilai f-number yang lebih besar adalah shutter speed yang digunakan juga harus semakin lambat, agar cahaya yang masuk cukup - kalo nggak hasilnya gelap. Penggunaan shutter speed yang lebih lambat sangat merepotkan, karena semakin besar kemungkinannya terjadi shaking pada saat pengambilan gambar, yang ujung-ujungnya, gambar yang dihasilkan blur dan nggak jelas. Dan bahkan bisa saja gambarnya jelas, tapi fokusnya nggak tepat, karena ketika terjadi shaking, jarak fokus ke objeknya bisa berubah walaupun hanya 1 mm, dan hasilnya bisa fatal.

    Solusi untuk memecahkan masalah shutter speed ini adalah dengan menggunakan flash. Tapi nggak recommended deh kalo pake built-in flash. Dengan jarak sedekat itu, hasilnya malah nggak karu-karuan. Cahaya yang dihasilkan nggak soft, dan objeknya terlalu ter-expose. Yang bener sih katanya pake flash yang didesain khusus untuk Macro Photography, dimana cahaya yang dihasilkan lebih soft, dan flash nya juga nggak cuma satu, tapi ada dua, untuk meminimalkan bayangan pada gambar yang dihasilkan. Sayangnya, harganya mahal, sekitar 8-9 jutaan, mana nggak yakin lagi hasilnya kayak apa, plus cuma bisa dipake untuk macro, untuk kepentingan lain malah mubazir. Solusi lain bisa juga menggunakan flash eksternal yang standar dengan menggunakan tambahan diffuser agar cahayanya lebih soft. Mungkin hasilnya nggak sebagus yang memang didedikasikan untuk makro, tapi melihat foto-foto yang dihasilkan dari penggunaan eksternal flash yang standar, bagus-bagus kok. Walaupun demikian, eksternal flash juga bukan barang murah :(. Aahh.. semoga saja bisa kebeli dalam waktu dekat ini.

  5. Untuk kebanyakan kasus, aku memerlukan tripod agar gambar yang dihasilkan tajam walaupun menggunakan shutter speed yang lambat. Dan ini artinya nggak praktis. Bawa-bawa tripod kan ribet. Berat pula lagi. Masih mending objeknya bisa dapet. Menurutku tripod adalah tool wajib yang mesti dibawa. Ada sebagian orang yang nggak suka pakai tripod untuk mengambil gambar makro. Kurasa, walaupun sudah menggunakan flash, tripod akan tetap diperlukan untuk menjamin kualitas foto hasil jepretannya.

  6. Faktor lain yang cukup menyulitkan menurutku adalah angin. Sebel banget jika sedang ada serangga yang sedang diem diatas daun, tahu-tahu angin berhembus. Walaupun cuma sepoi-sepoi, bisa membuat gambarnya menjadi nggak tajam dan nggak fokus.
Itulah mungkin beberapa faktor yang membuat aku cukup frustasi ketika mengambil objek makro. Belum lagi jika sedang mengambil foto lain dengan lensa lain, tiba-tiba ada objek makro yang menarik. Ribet banget mesti ganti lensa. Begitu lensa sudah diganti, momennya udah hilang. Beruntung lensa yang aku beli, selain untuk makro, lumayan bagus untuk digunakan untuk mengambil foto-foto portrait. Hasilnya tajam dan memuaskan. Bisa digunakan sebagai pelarian ketika sudah frustasi dengan makro.

Tuesday, October 07, 2008

Reserved...

Nikon D80
AF-S VR 70-200mm f/2.8G IF ED
ISO 200
Aperture F/3
Focal length 105 mm
Exposure 1/400



Nggak sengaja nemu pas lagi jalan-jalan ke kuburan belakang rumah.


Monday, October 06, 2008

Wet...

Beberapa objek yang diambil setelah hujan pada pagi hari:

Nikon D80
AF-S VR 70-200mm f/2.8G IF ED
ISO 100
Aperture F/2.8
Focal length 200 mm
Exposure 1/20



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 100
Aperture F/11
Focal length 105 mm
Exposure 1/20



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 100
Aperture F/4.8
Focal length 105 mm
Exposure 1/40



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 100
Aperture F/6.3
Focal length 105 mm
Exposure 1/80



Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 100
Aperture F/4
Focal length 105 mm
Exposure 1/100










Tuesday, September 23, 2008

Nikonians dari Cipayung :P


kebun raya bogor


Nikon D80
AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED
ISO 125
Aperture F/3
Focal length 105mm
Exposure 1/25