Belakangan ini gara-gara ada masalah di Pidgin, iseng-iseng aku mencari paket-paket di Ubuntu yang berhubungan dengan pidgin. Baru ngeh disitu ada paket pidgin-facebookchat yang berupa plugin di Pidgin. Penasaran seperti apa paketnya, aku install aja sekalian.
Ternyata lumayan menarik. Semua temen-temenku yang sedang online ditampilkan beserta statusnya, dan sejak kapan status tersebut dipasang. Dan bisa tahu juga jika seseorang sedang idle atau nggak. Jika ada seseorang yang baru saja online, akan muncul notifikasi di pojok kanan atas workspace. Lumayan membantu walaupun agak-agak mengganggu juga terutama jika ada banyak orang yang online dalam waktu bersamaan. Sayangnya nggak ada notifikasi untuk orang yang baru saja offline.
Fitur chat ini bisa berjalan bersamaan dengan fitur chat yang ada di facebook, jadi apa yang diketik melalui aplikasi ini akan muncul juga di aplikasi chat internal facebook. Yang lebih menyenangkan, nggak perlu khawatir jika ada pesan masuk yang terlewat. Seringkali jika ada seseorang yang mengajak chatting lewat facebook, aku nggak tahu karena biasanya di browser, tab untuk facebook tak selalu aktif, begitu tahu ada pesan masuk, orang yang diajak ngobrol udah offline duluan.
Wednesday, July 01, 2009
Pidgin dan Facebook
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:52
6
comments
Thursday, April 23, 2009
Screen - Aplikasi Terminal Virtual
Screen merupakan salah satu utility yang belakangan ini sering aku gunakan dalam Unix khususnya ketika sedang me-remote server menggunakan SSH. Melalui screen, memungkinkan pengguna untuk membuat session baru. Dalam session ini, dapat dibuat beberapa terminal yang virtual. Meskipun pengguna yang membuat sesi screen telah logout ataupun koneksinya terputus, sesi yang telah dibuat akan tetap berjalan, sehingga bisa di-resume kemudian.
Fitur-fitur tersebut sangat bermanfaat ketika menjalankan sebuah proses secara remote melalui SSH. Terutama untuk proses-proses yang memakan waktu dan resource, tanpa perlu khawatir proses tersebut akan di-terminate ketika session SSH tiba-tiba terputus. Lebih terasa lagi manfaatnya jika koneksi jaringan dari client ke server yang sedang di-remote sangat terbatas, seperti misalnya melakukan SSH ke server melalui handphone dan menjalankan sebuah script yang memakan waktu.
Untuk menjalankan screen, hanya perlu mengetikkan:
screen
Perintah tersebut akan menjalankan shell yang baru, seperti shell yang biasa digunakan. Namun shell ini berada dalam sesi screen yang telah dijalankan sebelumnya. Di dalam sesi screen yang sedang aktif, ada beberapa perintah yang dapat dijalankan, dimana semuanya dimulai dengan Ctrl+a. Berikut ini adalah beberapa perintah yang dapat dilakukan dalam sesi screen:
Ctrl+a c: Membuat jendela terminal baru
Ctrl+a 1 ... Ctrl+a 9: Pindah ke terminal 1-9
Ctrl+a n: Pindah ke terminal selanjutnya
Ctrl+a p: Pindah ke terminal sebelumnya
Ctrl+a w: Melihat daftar jendela terminal dalam sesi yang aktif
Ctrl+a d: Detach - Keluar dari sesi yang sedang aktif.
Perintah ini akan mengembalikan shell ke shell yang digunakan untuk menjalankan screen. Sesi yang sebelumnya aktif akan tetap aktif. Untuk kembali ke sesi terakhir (re-attach) yang aktif, dapat menjalankan perintah:
screen -r
Jika ada beberapa sesi screen yang sedang aktif dan ingin kembali ke sesi tertentu dapat menjalankan perintah:
screen -r PID
Dengan PID adalah instance dari sesi screen yang dapat dilihat melalui perintah
screen -list
Perintah-perintah lain yang tersedia dalam sesi screen dapat diakses menggunakan perintah Ctrl+a ?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:04
4
comments
Labels: Artikel, Iseng, IT, Ubuntu, Unix Shell
Saturday, March 21, 2009
Lelah...
Minggu ini benar-benar menjadi minggu yang melelahkan. Dimulai dari awal minggu ketika ada acara dari kantor selama dua hari berturut-turut yang menyebabkan aku kurang tidur + overdosis kopi. Biasanya, dalam keadaan normal, aku jarang-jarang minum kopi. Kalopun minum, dibatasi hanya secangkir dalam satu hari. Konsumsi melebihi 3 cangkir sudah aku anggap sebagai overdosis. Overdosis kopi menyebabkan pikiran menjadi tak jernih dan nggak bisa fokus. Udah tahu bgini, masih aja nambah terus. Kopi memang enak, tapi tak menyehatkan.
Di tengah minggu, tiba-tiba muncul kerjaan yang berhubungan dengan iPhone yang akan di-launch hari Jumat lalu. Yang paling menyebalkan adalah requestnya biasanya suka mendadak dan gampang berubah. Benar-benar bikin kesal. Seolah memberikan kesan bagian yang meminta request nggak konsisten dan mempermainkan. Dan hari Kamis lalu menjadi hari yang paling parah dalam seminggu ini. Pulang dari kantor jam 11 malem barengan ama temen-temen lain yang satu tim juga. Malam itu, aku mendengar gerutuan, caci maki, dan kekesalan yang ditujukan kepada proyek ini. Well.. It's the dark side of iPhone. Bikin panik tiap orang yang terlibat didalamnya hanya gara-gara orang-orang yang kurasa terlalu paranoid akan proyek ini.
Hari Jumatnya, aku sudah sangat lelah. Kerjaan lain sudah menumpuk, pikiran udah jelas nggak jernih gara-gara efek kopi di awal minggu dan efek negatif iPhone di hari sebelumnya. Emosiku nggak stabil. Pikiran nggak tenang. Pola makan menjadi terganggu. Selera makanku agak-agak bermasalah beberapa hari terakhir ini. Pada hari Jumat itu malah aku rasakan aku mengalami 'trashing' -> istilah yang aku dapatkan dari mata kuliah Sistem Operasi *silakan googling untuk mendapatkan penjelasan*. Yah, istilah kasarnya mungkin bisa disamakan dengan idle atau bengong.
Hari ini, aku ada acara keluarga. Dan memakan waktu seharian. Benar-benar membuatku merasa begitu lelah di akhir minggu ini. Tadinya kupikir hanya sampai setengah hari, sehingga setengah harinya bisa kugunakan untuk istirahat. Ternyata aku salah memperhitungkan waktu. Lebih parahnya lagi, besok aku ada rencana lainnya yang kurasa akan memakan waktu seharian juga. Ah, kapan bisa istirahatnya? Should I take one more cup of hot coffee to throw away all of this matter for a while??? Damn, for this question, I can't even make a decision. Sigh..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:26
3
comments
Labels: Iseng, Kerjaan, Keseharian
Monday, March 16, 2009
Sarapan dan Efisiensi
Mulai awal bulan Maret ini, perusahaan tempat aku bekerja menyediakan sarapan pagi mulai pukul 07:30 s/d 08:15. Jika sebelumnya hanya menyediakan makan siang, sekarang makan pagi juga disediakan, walaupun jumlah porsinya terbatas. Ini tentunya cukup menggembirakan melihat kenyataan beberapa rekan kerjaku seringkali mesti mencari sarapan keluar ketika baru datang ke kantor. Secara pengeluaran, sarapan pagi secara gratisan di kantor berarti penghematan dana untuk sarapan.
Sementara aku sendiri biasanya sarapan di rumah, jadi sebenarnya kebijakan ini tak terlalu berpengaruh. Hanya saja jika aku berniat untuk sarapan di kantor, aku bisa berangkat lebih pagi dari biasanya. Dengan berangkat lebih pagi dan sarapan di kantor, aku bisa menghemat pengeluaran untuk transportasi. Jika biasanya aku naik kereta KRL AC Express seharga 8.000 rupiah, dengan aku datang lebih pagi, aku bisa memilih untuk naik KRL Ekonomi AC dengan tiket seharga 4.500 atau KRL Ekonomi biasa dengan tiket seharga 1.500 rupiah. Dari sisi kenyamanan, aku rasa tak terlalu beda jauh. KRL Ekonomi biasa walaupun tak ber AC, tapi penuhnya nggak nyesek-nyesek banget seperti KRL Ekonomi Jakarta-Bogor. Aku masih bisa baca buku dengan tenang di sepanjang perjalanan.
Kembali ke masalah sarapan pagi di kantor, saat ini aku lihat perilaku dan kebiasaan orang-orang di kantorku mulai berubah. Well.. entah kapan mulainya, tetapi dari dulu walaupun disebutkan jam kantor adalah jam 08:00 s/d 17:00, ini tak berlaku mutlak. Datang jam setengah 9 pun masih bisa dibilang kantor masih sepi. Hanya segelintir ornag-orang yang benar-benar berniat datang pagi. Menurut pengamatanku, kebanyakan rekan-rekan kerjaku mulai benar-benar bekerja jam 9 ke atas.
Entahlah apakah tujuan sampingan dari menyediakan sarapan pagi ini adalah mendorong karyawan agar datang lebih pagi atau tidak. Karena menurutku cara ini sangat halus dan persuasif, dan tampaknya bisa dibilang cukup berhasil. Jika dibandingkan dengan cara kasar dan sedikit memaksa, malah aku lihat tidak akan berhasil karena dari pengamatanku kebanyakan rekan-rekan kerjaku sendiri tipikal orang yang fleksibel dalam urusan waktu, yang penting kerjaan beres. Mari kita lihat dalam sebulan ke depan, apakah bisa memberikan perubahan positif yang cukup signifikan pada perilaku orang-orang disekitarku yang akhirnya bisa mengarah pada efisiensi. Who knows? Hanya waktu yang bisa menjawabnya..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:23
0
comments
Monday, March 09, 2009
Monday, March 02, 2009
My Handphone
Fungsi handphone pada saat ini tak hanya digunakan sebatas untuk menelepon dan mengirim sms. Banyak sekali fitur-fitur yang disediakan oleh handphone-handphone keluaran terbaru saat ini. Handphone Nokia E71 yang aku miliki saat ini telah mengubah banyak sekali perilaku dan pola kehidupanku. Sayang saja handphone ini adalah produk Nokia yang harusnya kedepannya aku hindari lah, tapi berhubung udah punya, masa iya mesti dibuang.
Menurutku, handphone ini cocok untuk orang-orang yang seneng online untuk browsing, chatting, berkomunikasi menggunakan email *tapi nggak demen ama Blackberry*, seneng menulis, butuh fungsi modem, dan lain sebagainya. Baik Blackberry dan Nokia E71 ini sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, namun bukan itu yang akan aku bahas dalam tulisanku kali ini.
Berikut ini adalah apa saja yang biasa aku lakukan dengan memanfaatkan handphoneku, yang dalam hal ini tentunya juga didukung oleh fitur-fitur yang tersedia didalamnya.
- Berkomunikasi menggunakan email. Nokia menyediakan aplikasi yang bernama Mail For Exchange yang bisa digunakan sebagai mail client untuk Microsoft Exchange. Email di perusahaan dimana aku bekerja menggunakan Ms Exchange. Jadi klop deh. Melalui aplikasi ini tak menjadi masalah kapanpun dan dimanapun aku berada, selama ada koneksi ke internet, aku bisa berkomunikasi menggunakan email (dalam konteks pekerjaan). Tentu saja hal ini sangat memudahkanku, terutama ketika aku tak berada di meja kerjaku.
- Chatting dan Browsing. Didukung dengan keypad QWERTY, chatting menggunakan handphone ini menjadi lebih mudah dan cepat. Ditambah dengan layar yang cukup lebar (320x240 pixel), membuat pengalaman ketika berselancar di internet menjadi lebih menyenangkan. Terlebih banyak sekali situs-situs yang saat ini menyediakan halamannya dalam versi mobile, seperti kompas, facebook, plurk, dan lain sebagainya yang memang tampilannya disesuaikan untuk mobile. Apalagi E71 layarnya lebar, pas deh. Tak masalah mau menggunakan browser bawaan yang sudah mendukung Javascript atau mau menggunakan Opera Mini, sama-sama menyenangkannya.
- Fitur WiFi yang disediakan oleh handphone ini memberikan akses koneksi yang lebih cepat, terutama ketika kecepatan menggunakan GPRS dirasa kurang memadai. Di kantor, fitur ini sering aku gunakan untuk menyalin dokumen antara PC dengan handphone menggunakan FTP. Selama PC itu masih satu network dengan WiFi nya. Lebih fleksibel daripada menggunakan kabel data ataupun bluetooth dan tentunya kurasa lebih cepat.
- Mendengarkan musik. Walaupun seri E yang memang ditujukan untuk kalangan bisnis, tetap saja aplikasi pemutar musiknya disediakan juga dan memang sudah menjadi standar. Walaupun suaranya nggak sebagus seri N, tapi cukup lah. Sayangnya audio outputnya menggunakan 2.5 mm, bukan 3.5 mm, jadi mesti pake konverter lagi kalo mau denger musik menggunakan earphone yang 3rd party. Tapi setelah memiliki iPod Nano, aku jarang mendengarkan musik melalui handphone.
- Menulis draft tulisan untuk blog. Dulu agak-agak ribet untuk menulis draft tulisan menggunakan Nokia N70-ku yang lama. Namun keypad QWERTY yang tersedia di Nokia E71 sangat nyaman ketika digunakan untuk menulis tulisan yang panjang. Selain itu, memungkinkan pula untuk menulis dengan cepat walaupun hanya menggunakan dua jempol. Biasanya ide untuk menulis blog bisa datang kapan saja, seperti misalnya ketika aku sedang dalam perjalanan. Jika tak segera disalurkan, moodnya bisa segera hilang dan males untuk nulis. Karena fitur inilah, aku bisa menulis dimana saja dan kapan saja, termasuk tulisan yang sedang anda baca ini aku tulis menggunakan E71 ku.
- Menjadikan handphone sebagai modem. Nokia E71 ku seringkali aku jadikan modem agar bisa berselancar di internet menggunakan PC atau laptop. Dengan fitur HSDPA (walaupun langganannya di paket yang paling murah 256-kbps downlink), kecepatan yang diperoleh sudah memadai untuk sekedar browsing, chatting dan download file-file yang tidak terlalu besar. Sayangnya, handphonenya seringkali cepat panas jika digunakan sebagai modem. Tapi, so what lah.. Selama masih berfungsi dengan baik, dipake aja. Daripada beli modem lagi yang harganya lumayan mahal, belum lagi bongkar-bongkar handphonenya untuk mengeluarkan simcard. Ribet. Lagipula ketika dijadikan sebagai modem, E71 tersebut bisa digunakan untuk menerima dan mengirim sms serta membuat dan menerima panggilan. Itulah keunggulannya dibanding dengan modem.
- Memanfaatkan fitur GPS. Nokia E71 memiliki GPS internal yang bisa digunakan untuk mengetahui posisi saat ini. E71 sendiri dilengkapi dengan aplikasi Nokia Maps yang dapat menampilkan posisi saat ini pada peta. Peta yang digunakan oleh aplikasi ini dapat diunduh menggunakan aplikasi Map Loader yang diinstall di PC. Walaupun peta yang disediakan tak terlalu lengkap, tapi sudah cukup memadai untuk sekedar mencari tempat-tempat publik yang ada di Jakarta. Sudah beberapa kali aplikasi GPS ini membantuku dalam mencari suatu tempat, dan menampilkan rute menuju tempat tersebut.
- Mengakses server yang ada di kantor. Terkadang jika sedang masalah dengan server yang ada di kantor, masih bisa di handle lah menggunakan E71. Tinggal SSH menggunakan aplikasi Putty yang khusus untuk Symbian, beres deh. Nggak senyaman di PC lah, tapi layarnya yang lebar cukup membuatku nyaman untuk melihat tulisan-tulisan di terminalnya.
- Internet Banking dan Mobile Banking. Dengan kemampuan browsernya, kini masalah-masalah yang berhubungan dengan keuangan (asal ga buat ngambil duit aja) seperti transfer, beli pulsa, ngecek saldo, bayar zakat, ngecek daftar mutasi, dll, bisa dilakukan dimana aja. Asal ada koneksi internet aja.
- Nonton film. Layar 320x240-nya cukup memadai ketika digunakan untuk menonton film. Lumayan aja kalo lagi di kereta atau di perjalanan yang jauh bisa sambil nonton. Walaupun kerugiannya membuat baterai cepat habis.
- Kamus berjalan. Nokia E71 menyediakan kamus Indonesia-English dan English-Indonesia yang sudah terintegrasi. Cukup menyenangkan, tapi rasanya masih kurang, jadi aku install lagi aplikasi kamus lainnya yang perbendaharaan kata-katanya kebih lengkap. Sangat berguna ketika di jalan sedang membaca buku atau novel luar dan tiba-tiba menemukan kata-kata yang tak aku mengerti.
Selain itu aku juga menggunakan Gmail Mobile untuk membaca semua email yang masuk ke account Gmail-ku. Cukup berguna juga. Bisa mengikuti perkembangan milis kapan dan dimana saja.
Itulah fungsi-fungsi yang aku manfaatkan secara optimal dari Nokia E71. Diantara fitur-fitur umum yang dimiliki oleh handphoneku, mungkin yang paling jarang aku gunakan adalah fitur kameranya. Nggak pernah percaya dengan kualitas kamera di handphone. Kecuali yah.. Lagi kepepet banget. Kini handphone memiliki banyak sekali fungsi diluar voice dan sms. Dan kurasa Nokia E71 ku ini sudah cukup memadai untuk memenuhi semua kebutuhanku. Terlebih aku juga berlangganan akses internet unlimited pada kartu yang aku gunakan di handphoneku. Kalo nggak, nggak kebayang berapa tagihan yang harus dibayar tiap bulannya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:12
0
comments
Thursday, February 12, 2009
4 Jam Bersama Busway
Hari minggu lalu, setelah pulang dari acara pengajian salah satu mesjid di Menteng, iseng-iseng aku ingin membaca buku di sambil menggunakan jasa Busway. Tadinya sih maunya cuma rute bolak-balik koridor I, tapi tentu saja nggak dari ujung ke ujung. Kalo dari ujung ke ujung, yang ada mesti keluar dari halte, jalan lagi, dan bayar lagi deh.
Start dimulai sekitar jam 10 pagi dari halte Tosari. Aku mengambil rute ke arah blok M. Sambil berdiri, aku mengeluarkan buku yang sudah kusiapkan dari dalam tas, yaitu Misteri Soliter yang ditulis oleh Jostein Gaarder, dan mulai membacanya. Agak susah juga membaca dengan satu tangan sementara tangan lain mesti memegang sesuatu karena nggak dapet duduk. Ketika sudah sampai halte Mesjid Agung Al Azhar, aku turun dan mengambil rute ke arah sebaliknya. Kali ini Busway nya lumayan kosong karena haltenya adalah halte kedua setelah halte Blok M. Cukup nyaman juga membaca buku di dalam Busway. Asal nggak terlalu fokus aja, bisa-bisa halte tujuan malah terlewat.
Akhirnya aku turun di halte Glodok, satu halte sebelum halte terakhir: Stasiun Kota, dan kembali naik Busway ke arah Blok M lagi. Tadinya aku berencana untuk turun di halte Bendungan Hilir, lalu ke Plaza Semanggi. Tapi berhubung diluar sana agak-agak gerimis dan rasanya masih pengen baca buku, aku putuskan untuk mencoba jalan-jalan ke koridor lain. Pilihan aku putuskan untuk turun di halte Dukuh Atas dan beralih ke koridor IV (Dukuh Atas Pulogadung). Nyaman, dan tentu saja bisa duduk. Halte pertama gituh. Ternyata perjalanan dari Dukuh Atas ke Pulogadung tak memerlukan waktu terlalu lama. Nggak kebayang kalo jalan-jalannya pas hari kerja dan jam pulang kantor. Bisa teler di jalan deh.
Sesampainya di halte Pulogadung, kupikir bisa langsung pindah ke koridor II (Pulogadung - Harmoni). Ternyata mesti keluar dulu dan bayar lagi deh Rp. 3.500. Nggak apa-apa, itung-itung pengalaman. Beruntung antriannya nggak terlalu panjang. Yang penting bisa dapet duduk lah. Dari sini aku meneruskan perjalanan melalui koridor II menuju halte Harmoni.
Sesampainya di Harmoni, pikiranku adalah kembali ke koridor I dan pergi ke tempat tujuanku semula: Plaza Semanggi. Tapi melihat antrian yang ke arah Blok M yang sudah begitu panjang membuatku jadi agak-agak malas. Kebetulan melihat antrian yang ke arah Kalideres (koridor III) kosong melompong. Tak ada salahnya juga kupikir untuk iseng-iseng sekalian jalan-jalan. Toh halaman buku yang aku baca juga masih banyak.
Dan dilanjutkanlah lagi perjalanan nggak jelas ke arah Kalideres. Kali ini aku turun di halte Pesakih, dan kembali lagi ke Harmoni. Waktu tempuhnya pulang pergi mungkin nyaris satu jam. Rada-rada jauh soalnya. Yang penting bisa sambil baca buku walaupun nggak dapet tempat duduk.
Dari Harmoni, aku memutuskan untuk langsung pindah koridor ke koridor I, mengingat waktu sudah menunjukkan jam setengah 2 lewat dan aku belum sholat pula. Kebetulan antriannya sekarang lebih pendek, jadi nunggunya nggak terlalu lama. Sekitar 20 menit kemudian aku sampai di halte Bendungan Hilir dan berjalan ke tujuan akhirku: Plaza Semanggi.
Perjalanan yang cukup panjang. Hampir 4 jam berurusan dengan Busway. Lumayan itung-itung mencoba untuk menikmati isi buku dengan cara yang baru. Hanya dengan 7.000 rupiah dah bisa nyobain busway dari koridor I hingga IV. Sesekali memang perlu rasanya melakukan hal-hal yang tak biasa seperti ini. Mungkin nanti kalo koridor VIII sudah ibuka bisa lebih seru lagi. Menurut informasi, koridor VIII Lebak Bulus - Harmoni panjang jalurnya sekitar 20 an km. Pulang pergi kalo nggak macet sekitar 2 jam.
Secara garis besar, inilah rute yang aku ambil kemarin:
Tosari -> Mesjid Agung Al Azhar -> Glodok -> Dukuh Atas -> Pulogadung -> Harmoni -> Pesakih -> Harmoni -> Bendungan Hilir. Kesimpulannya: membaca buku dengan cara ini lumayan menyenangkan. Daripada mesti nyari tempat untuk ngadem dan diem disana sampe baca bukunya selesai. Lain kali bisa dicoba seharian naik Busway dan mencoba semua koridor yang ada.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:55
3
comments
Labels: Iseng, Keseharian
Saturday, January 24, 2009
Menulis & Menulis
Sejak pertama kali memiliki blog yang aku mulai sekitar 1,5 tahun yang lalu, aku mulai meninggalkan kebiasaan lamaku ketika itu, yaitu menulis di buku harian. Ketika itu aku masih memiliki banyak waktu senggang untuk sekedar menulis keadaanku, emosiku, perasaanku, dan segudang informasi-informasi lainnya yang kebanyakan bersifat personal.
Setelah memiliki blog, tentu saja hal-hal yang seperti itu tidak akan pernah aku publikasikan. Walaupun baik blog maupun buku harianku sama-sama tersimpan secara digital di dunia maya sana. Blog aku batasi hanya untuk menulis hal-hal yang bersifat umum, dan aku mencoba untuk seobjektif mungkin dalam menulisnya. Sementara dalam buku harian, pilihan bahasa dan isinya lebih bebas dan tidak terikat aturan.
Beberapa hari yang lalu, salah seorang temanku 'memaksaku' untuk membuka kembali catatan-catatan lamaku yang masih tersimpan rapi. Menggelikan juga ketika aku baca paragraf demi paragraf yang menceritakan kegembiraan, kekesalan atau sekedar urusan sepele yang sebenernya nggak perlu dibahas. Hal ini memberikan motivasi untukku untuk memulai kembali kebiasaan lama yang telah aku tinggalkan tersebut. Mungkin apa yang aku kerjakan ini tampak seperti orang yang kurang kerjaan aja yang menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menulis sesuatu yang 'kurang penting'. Tapi kurasa, yang namanya hobi, layak untuk dikerjakan. Apalagi jika setelah beberapa lama, tulisan-tulisan itu dibaca ulang. Cukup menghibur dan membuat diriku bisa mentertawakan diriku sendiri :p.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:28
1 comments
Labels: Iseng
Thursday, January 22, 2009
Dateng Siang, Pulang Sore, Tapi Kerjaan Beres
Beberapa hari terakhir ini rasa-rasanya males banget datang ke kantor pagi-pagi. Selain karena pagi-pagi biasanya kantor masih sepi banget, ditambah sekarang musim hujan, tambah males deh. Biasanya kantor mulai ramai jam 9 keatas. Kalaupun ada yang dateng pagi-pagi, paling belum ngurusin kerjaan: browsing, sarapan, ngopi, dan baca koran adalah kegiatan yang sudah lazim dilakukan sebelum jam 9.
Kondisi ini diperparah ketika makan siang. Dalam 3 hari terakhir ini ada ajakan untuk makan siang di luar, dimana kembali lagi ke kantor sekitar jam 2 s/d setengah 3. Yang lebih parah lagi adalah dalam 3 hari ini kerjaanku sedang menumpuk dan lumayan banyak. Entah kenapa aja, walaupun menumpuk, aku masih bisa merasa santai dengan waktu yang terbuang.
Setelah aku sakit tipes ketika awal tahun kemarin, aku selalu berusaha untuk pulang tepat waktu, jam 5 udah harus pulang untuk mengejar kereta ekspress yang berangkat dari Stasiun Sudirman jam 17:30, atau paling telat pulang jam 6 kurang. Dan herannya, dengan kondisi ini, justru waktu yang aku miliki benar-benar menjadi efektif walaupun aku merasa sedikit cemas dan panik karena mesti ngejar deadline kerjaan dan deadline jadwal kereta. Dalam 3 hari ini terbukti semua pekerjaanku bisa beres dan aku bisa pulang tepat waktu. Dengan catatan selama bekerja, nggak ada jeda untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaan, seperti browsing, chatting, baca koran, dan lain sebagainya.
Kesimpulannya: Untuk menyelesaikan pekerjaanku dalam sehari, waktu yang dibutuhkan sekitar 5 jam. Sementara jam kerja adalah 8 jam. 3 jam sisanya sebenernya nggak efisien. Karena biasanya ketika kerja 8 jam, banyak waktu yang terbuang juga untuk browsing, chatting, dan segelintir aktivitas-aktivitas lainnya diluar pekerjaan. Untung emang kultur departemenku fleksibel, yang penting kerjaan kelar.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:13
4
comments
Labels: Iseng, Kerjaan, Keseharian
Tuesday, January 20, 2009
Taman Menteng
Cerita ini dimulai dari beberapa bulan yang lalu. Karena penasaran dan seringkali lewat namun tanpa pernah menjejakkan kakiku di taman itu, akhirnya aku meniatkan diri untuk berjalan-jalan kesana. Sejak pertama kali aku kesana, aku merasa cukup betah. Taman Menteng tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi juga. Ketika pagi hari, banyak orang yang berolahraga disana, atau orang-orang yang hanya datang untuk sekedar berjalan-jalan sepertiku hingga yang hobi fotografi. Ketika malam pun masih ramai juga, tapi dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang berpacaran ria (ugh). Sepertinya taman ini benar-benar sepi ketika siang hari saja. Karena taman ini tak seperti Taman Suropati yang berada tak jauh dari situ yang pohonnya tinggi-tinggi dan rindang, Taman Menteng masih tergolong baru dan pepohonan yang ditanam disana pun tidak terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan ketika siang, pengunjung bisa terpapar sinar matahari langsung yang menyengat. Ada sih beberapa titik yang teduh, tapi hanya ada beberapa, kalopun ada beberapa yang kesana, mau nggak mau harus share tempat tersebut dengan pengunjung yang lain yang kebetulan lagi iseng dateng siang-siang.
Sesuai namanya, taman ini terletak di kawasan Menteng, salah satu kawasan elit di Jakarta. Biasanya sih aku kesini menggunakan P20 jurusan Lebak Bulus-Senen atau Busway Koridor 6 (Ragunan-Kuningan) turun di halte Latuharhari. Cuma kalo naik Busway, mesti jalan lagi sekitar 5-10 menit lah.
Saat ini, taman ini menjadi tempat favoritku ketika aku memiliki waktu senggang. Terakhir kemarin ada acara kumpul-kumpul bareng anak-anak FlashCom Community juga disana. Alasanku aku menyukai taman ini adalah: taman ini tidak terlalu ramai dan cukup tenang sehingga menurutku cocok untuk mengerjakan salah satu hobiku yaitu membaca buku. Terlebih lagi taman ini terletak di pusat kota. Rasa-rasanya seperti surga di tengah neraka kesibukan: tampak dari situ beberapa gedung tinggi di kawasan Thamrin.
Taman ini juga menyediakan hotspot gratis yang powered by Telkom Speedy. Cukup kenceng juga, karena memang yang menggunakan hotspot ini dikit banget. Dan so far, nggak pernah aku lihat ada orang yang sampe bawa-bawa laptop kesini. Sayang saja tidak disediakan meja dan sumber listrik gratis. Kalo iya, mungkin taman ini bisa rame sama yang nge-net (sekalian aja buka kafe). Namun demikian, jangkauan hotpot yang disediakan kurang memadai untuk meng-cover seluruh taman. Hotspot hanya tersedia di area kecil di tengah taman dalam radius sekitar 20-30 m.
Sayang, walaupun menjadi tempat favoritku, taman ini terkesan kering dan panas. Pohon-pohon yang ditanam disana kebanyakan tingginya tak lebih dari 5m, bahkan kebanyakan kurang dari itu. Menjadikan taman ini tak seramai Taman Suropati ketika siang hari.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:12
2
comments
Tuesday, December 30, 2008
Ipod di Ubuntu
Rythmbox Music Player
Sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tak pernah lepas dari Ipod. Pergi kemana-mana, pasti Ipod Shuffle yang aku miliki sejak bulan Agustus lalu selalu aku bawa. Ketika itu, aku pikir Ipod hanya kompatibel dengan iTunes yang hanya bisa digunakan di Windows. Jadilah aku mengkopi lagu-lagu favoritku menggunakan iTunes. Kelemahan Ipod Shuffle adalah perangkat ini hanya bisa digunakan menggunakan iTunes pada komputer yang sama. Ribet banget dah dan nggak praktis. Kalau digunakan di iTunes di komputer yang lain, pilihan yang tersedia adalah me-reset isi Ipod Shuffle sebelum mengkopi lagu baru, atau membatalkan opsi. Duh, padahal Ipod Shuffle nya sih praktis dan yang paling menyenangkan perangkat ini memiliki klip. Bisa dicantolin di baju atau jaket.
Lain ceritanya ketika aku plug ke laptopku yang menggunakan Ubuntu. Ipod Shuffle ku langsung terdeteksi dan bisa dibuka menggunakan aplikasi Rythmbox Music Player yang sudah pre-installed di Ubuntu. Melalui aplikasi ini, aku dapat menambahkan lagu-lagu favoritku kedalam Ipod Shuffleku sekaligus memainkan lagu yang ada di dalamnya.
gtkPod
Lain ceritanya ketika akhir bulan Nopember kemarin ada yang berbaik hati memberikan Ipod Nano secara gratis untukku. Dengan ukuran 8 GB yang menurutku cukup mubazir untuk orang sepertiku, Ipod Nano memberikan kualitas suara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Ipod Shuffle. Mungkin karena interface Ipod Shuffle dirancang begitu simplenya, sehingga tidak ada pilihan equalizer, plus mungkin kualitas suaranya kurang begitu diperhatikan. Setelah terbiasa mendengarkan lagu menggunakan Ipod Nano, rasa-rasanya aneh aja ketika mendengarkan lagu menggunakan Ipod Shuffle lamaku.
Ternyata Ipod Nano tidak kompatibel dengan Rythmbox. Sebagai gantinya, di Ubuntu ada package yang namanya gtkpod (untuk menginstall tinggal mengetikkan apt-get install gtkpod sebagai super user). Aplikasi ini benar-benar pengganti iTunes di Ubuntuku. Sejauh ini, aplikasi ini sudah sangat mencukupi kebutuhan ketika berurusan dengan Ipod Nano ataupun Ipod Shuffle. Aku bisa membuat playlist baru dan menambahkan lagu-lagu favoritku. Selain itu aku juga bisa mengkopi lagu yang telah tersimpan di Ipod ke laptop, salah satu fitur yang tidak ada di iTunes (untuk mengurangi penyebaran lagu secara ilegal). Aku pun bisa mengkopi foto, video, mengedit metadata lagu (ID3 tag), dan melakukan sinkronisasi kontak, notes, dan kalender melalui aplikasi ini.
Video untuk Ipod
Ipod Nano hanya kompatibel dengan video dengan format .m4v, .mp4, dan .mov. Kebanyakan format video saat ini menggunakan format .avi. Sehingga jika ingin menambahkan video dengan format .avi tersebut, harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam format yang telah disebutkan sebelumnya. Di Windows sebenarnya banyak aplikasi konverternya, dan setahuku nggak gratis (walaupun bisa di-crack). Berhubung udah Ubuntu-minded :P, jadi seperti biasa, googling dulu. Dan akhirnya aku temukan juga aplikasi konverter sederhana yang bernama mvPod yang bisa diunduh melalui link berikut ini:
http://sourceforge.net/projects/mvpod
Aplikasi konverter ini sangat sederhana menurutku, dan tidak masuk ke dalam daftar package bawaan Ubuntu. Saking sederhananya, aplikasi ini hanya bisa mengkonversi video. Tidak bisa menggabungkan video + subtitle dan mengkonversinya kedalam format yang dikenali Ipod.
Agar video yang telah dikonversi ini bisa disimpan ke dalam Ipod melalui aplikasi gtkPod, package gtkpod-aac harus sudah terinstall terlebih dahulu. Package ini memungkinkan aplikasi gtkPod untuk menambahkan lagu atau video dengan format aac (MP4) ke dalam Ipod.
Selamat mencoba..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
14:59
4
comments
Wednesday, December 17, 2008
Kalap: Betapa Cepat Uang Menguap :(
Well, hari Selasa kemarin aku lagi kalap. Banyak hal-hal yang tidak kurencanakan sebelumnya terjadi begitu saja, yang dalam kasus ini tentunya berkaitan dengan pengeluaran. Salah satu hal yang rada-rada aneh adalah membeli buku di 4 toko buku yang berbeda. Dan ini tentunya diluar rencanaku.
Kejadiannya dimulai dari hari Kamis minggu kemarin ketika aku memesan beberapa buku dari www.inibuku.com. Buku-buku tersebut baru dikirimkan hari Selasa kemarin dengan rincian sebagai berikut:
- La Tahzan (Walaupun buku ini udah lama banget jadi bestseller dan direkomendasikan, baru sekarang-sekarang ini muncul niat untuk membelinya :P)
- Gunung Kelima - Paulo Coelho
- Sebelas Menit - Paulo Coelho
Dengan menggunakan ojek, selepas jam kerja, aku langsung ke JPC Kemang. Tadinya sih mau beli memory card SD Sandisk yang Ultra II. Karena ternyata kecepatan baca tulis nya nggak terlalu berpengaruh ke kameraku. Eh, ternyata stoknya lagi kosong, dan yang ada adalah San Disk Extreme III, yang harganya berbeda hampir 200 ribu. Akhirnya kubeli juga tuh barangnya seharga sekitar 480 ribu. Pemborosan pertama diluar rencana pun terjadi.
Ketika dalam perjalanan menuju Citos dari JPC Kemang, temanku ngasih tahu kalo acara nontonnya terpaksa dibatalkan. Well.. bagus sekali. Rencanaku hari itu sudah rusak gara-gara dibatalkannya acara nonton itu. Berhubung udah nanggung mau ke Citos, sekalian aja jalan-jalan ke Periplus untuk mencari buku yang pengen aku beli dari dulu(tapi ga terlalu butuh sih): By River Piedra I Sat Down and Wept karangannya Paulo Coelho dan buku lainnya yang berjudul Orange Girl karangan Jostein Gaarder, pengarang Dunia Sophie. Sayangnya, buku kedua tidak aku temukan di Periplus, stoknya sedang kosong. Begitu pula di Aksara, barangnya juga udah habis. Kecewa deh. Tapi ini kedua kalinya aku membeli barang diluar rencanaku hari itu.
Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot ke arah Lebak Bulus. Tiba-tiba keingetan kalo aku lagi butuh mouse untuk laptopku. Beberapa minggu ini aku terpaksa pake mouse buat PC di laptop karena mouse yang sebelumnya hilang entah dimana dan belum sempet beli lagi. Jadi deh turun dulu ke Poins Square dan belanja mouse. Yang ini nggak pemborosan karena aku memang butuh, tapi tetep aja diluar rencana. :(
Keluar dari Poins Square, aku masih penasaran dengan Orange Girl tadi. Udah nanggung di Lebak Bulus, mengapa tak sekalian aja ke PIM, kan deket dari situ pikirku. Dan berhubung udah cukup boros, aku berencana beli buku edisi Indonesianya saja, yang judulnya menjadi Gadis Jeruk dan aku taksir harganya sekitar 30 s/d 40 ribuan. Ternyata di Gramedia bukunya nggak ada, stoknya sedang kosong juga. Di www.inibuku.com terakhir aku lihat ada sih bukunya, tapi nanggung kalo cuma beli satu. Jadi, mending sekalian menjajal aja Periplus dan Kinokuniya. Harga sih udah jelas berbeda cukup jauh karena itungannya buku impor. Di Periplus PIM ternyata bukunya nggak ada. Di Kinokuniya hampir aja nggak ketemu bukunya. Setelah mencari dan meminta tolong mbak-mbak yang ada disitu, akhirnya ditemukan juga tuh bukunya: Hard Cover dengan harga 293 ribu. Weks, padahal bukunya aja cuma 160 halaman. Ga worth deh. Tapi ternyata lagi diskon 50% jadi 144 ribu. Masih kemahalan juga sih, tapi kalopun ada yang soft covernya, harganya juga nggak beda jauh dari situ. Berhubung gambar cover depannya cukup menarik hatiku (damn), yah.. ujung-ujungnya bisa ditebak. Beberapa menit kemudian, buku tersebut sudah beralih kepemilikan.
Pulangnya, aku balik lagi ke Gramedia karena sebelumnya tak sengaja melihat Kartun Benny & Mice yang baru: Lost in Bali. Sekalian udah belanja macam-macam, dan entah kapan lagi bisa menyempatkan untuk jalan-jalan, jadi aku beli buku itu seharga 40 ribu. Bener-bener parah, dalam sehari beli 6 buku dari 4 toko buku yang berbeda. Kayaknya bulan depan alokasi pengeluaran untuk belanja buku distop dulu nih. Mana ini belum termasuk tas kamera dan memory card yang aku beli sebelumnya. :((
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:17
5
comments
Labels: Artikel, Iseng, Keseharian
Friday, December 12, 2008
Sekilas Maryamah Karpov: Dibawah ekspektasi

Kesan pertama ketika aku membuka sampul buku ini adalah sedikit terkejut. Karena tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, bukunya ternyata cukup tebal. Lebih tebal daripada buku pertamanya malah. Dan yang lebih mengesankan lagi, bahan kertas yang digunakan juga menurutku lebih baik dibandingkan ketiga buku sebelumnya. Bahan kertas yang digunakan mirip dengan buku-buku impor yang walaupun tebal tapi ringan. Dengan harga 79.000 rupiah dipotong diskon 15%, kurasa worth lah. Terlebih lagi, buku ini telah berada di meja kantorku hari Jumat pagi, tak lama setelah buku ini resmi di-launch.
Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan kisah Ikal, tokoh utama dalam cerita, setelah menyelesaikan studi masternya di Eropa dan kembali lagi ke kampung halamannya di Belitong. Inti dari cerita di dalam buku ini adalah kisah perjuangan Ikal dalam mencari A Ling. Seorang tokoh perempuan yang dia sukai di buku pertamanya. Perjalanan mengenai pencarian cinta dan orang yang dicintai terkadang memang membuat semuanya seolah tak masuk akal. Dalam bukunya, diceritakan bagaimana Ikal yang seumur hidupnya tak pernah membuat perahu harus membuatnya untuk membuktikan kebenaran yang dia yakini.
Dalam buku ini juga dikisahkan pertemuan Ikal dengan anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Tadinya aku pikir inti buku ini adalah pertemuan kembali para anggota Laskar Pelangi. Ternyata aku salah. Dikisahkan pula dalam bukunya kecerdasan-kecerdasan Lintang yang tak pernah lagi dibahas sejak buku pertamanya.
Pesan moral yang aku tangkap dari cerita ini adalah betapa pentingnya mimpi dan bagaimana seseorang seharusnya menggapai mimpi-mimpinya. Walaupun mungkin terkadang tak masuk akal, namun jangan menyerah sebelum mencoba. Terkadang dalam memandang masalah, seseorang terlalu overestimated, sehingga menganggap masalah tersebut tak bisa dipecahkan. Padahal dengan mengubah sudut pandang, masalah tersebut dapat disederhanakan. Hal ini dibuktikan Ikal dengan keberhasilannya membuat perahu dan keberhasilannya dalam memainkan biola walaupun dalam buku tersebut dia tidak memiliki bakat musik dan tidak memiliki bakat sebagai pembuat perahu. Pelajaran yang bisa ditarik adalah hal-hal yang tak mungkin bisa dibuat menjadi mungkin asal ada keinginan yang kuat walaupun tak memiliki bakat.
Aku masih sedikit penasaran kenapa bukunya diberi judul Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang. Maryamah Karpov adalah salah seorang tokoh dalam buku yang memiliki anak perempuan yang dikisahkan dalam buku itu pandai bermain biola (sesuai dengan covernya). Sementara Mimpi-mimpi Lintang adalah nama perahu buatan si tokoh utama. Diberi nama itu karena Lintang si tokoh cerdas memiliki andil yang besar dalam pembuatan desain perahu yang dibuat oleh Ikal. Keduanya tampak tidak ada hubungannya. Tapi aku rasa, dinamai demikian karena kedua-duanya seolah menunjukkan semuanya bisa diraih jika ada keinginan yang kuat. Mungkin itulah pesan moral tersembunyi dari penulisnya, Andrea Hirata dalam memberikan judul buku ke empatnya.
Namun entah kenapa, secara alur cerita aku agak-agak kurang suka dengan buku ini. Dengan sedikit terpaksa aku memberikan rating 3 di www.goodreads.com, dan secara statistik kebanyakan pembaca lain juga memberikan rating 3 untuk buku ini. Pesan moralnya sih bagus, cuma alur ceritanya menurutku banyak bercabang dan nggak fokus. Tadinya aku pikir akan diceritakan masa depan Laskar Pelangi dalam buku ini. Atau at least, ada semacam kisah penutup lah untuk para anggota Laskar Pelanginya. Di dalam buku ini seolah hanya lewat begitu aja. Padahal bukunya kan bertajuk buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Cukup banyak lah hal-hal yang dibiarkan left unexplained dan menggantung. Terlebih lagi ending ceritanya juga menggantung dan nggak jelas. Rasa-rasanya buku kedua dan ketiga aja nggak separah ini.
Membaca kisah di akhir bukunya, aku malah jadi berpikir, jangan-jangan masih ada lanjutannya nih. Aku merasa ekspektasiku terlalu besar pada buku ini. Sedikit kecewa lah :(. Dan akhirnya kesimpulanku adalah: menurutku isi buku ini seolah dibuat untuk memenuhi keinginan pasar. Seolah telah disiapkan lagi buku lanjutannya sebagai penyambung buku keempat ini. Ujung-ujungnya bukan tetralogi deh. Jadi berasa baca komik, dimana karena laku, ceritanya dipanjang-panjangin dan nggak pernah tamat.
Well, adakah pendapat lain? Atau mungkin pikiran yang serupa denganku?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:34
5
comments
Labels: Artikel, Iseng, Review Buku
Tuesday, December 09, 2008
Rafting CSUI 02 - 6 Desember 2008
Perjalanan dimulai dari rumah Mamat pada hari Sabtu sekitar jam 5 pagi. Selanjutnya, dengan taksi, perjalanan diteruskan ke arah flyover Casablanca di Saharjo. Disana aku dijemput Novan dan langsung menuju ILP Pancoran untuk menjemput Kania, Diah, Enno, dan Tiwi. Maya dijemput di dekat Antam, sementara Isti dijemput di rumahnya di daerah Lenteng Agung. Selanjutnya, rombongan langsung menuju tol Ciawi dan berhenti di salah satu tempat peristirahatan (lupa km berapa) untuk bertemu dengan rombongan lainnya.
Disitu kami sempat menyempatkan foto-foto sebentar. Dan berhubung nggak menemukan makanan untuk sarapan, kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan berhenti di tempat peristirahatan selanjutnya. Pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat.
Akhirnya, di tempat peristirahatan selanjutnya sebelum pintu keluar tol Ciawi, kami bisa sarapan. Berhubung hampir semua pesertanya memesan makanan sementara yang jual makanannya hanya ada dua, jadinya pesen indomie rebus aja baru diantar setengah jam kemudian.
Perjalanan dilanjutkan. Tempat rafting yang akan kami tuju berada di daerah Sukabumi, tepatnya di sungai Cicatih. Walaupun jaraknya hanya sekitar 30 km dari pintu tol Ciawi, perjalanannya sendiri membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Permasalahannya adalah karena kami melalui banyak pasar yang membuat macet. Padahal yang kami lalui adalah jalan utama menuju Sukabumi. Setelah melalui pasar Cibadak, kami belok kanan ke arah Pelabuhan Ratu. Dari situ perjalanan bersisa sekitar 14 km, dan tidak macet.
Kami sampai di tempat tujuan sekitar jam 11 an lewat. Di tempat itu, kami dipersilakan untuk mengganti baju dan meninggalkan semua barang-barang bawaan. Sayang kamera nggak bisa aku bawa walaupun pada saat rafting panitia menyediakan water proof box. Terlalu beresiko. Setelah semuanya siap, kami diantar menuju tempat start rafting. Anak-anak cewek diantar naik angkot, sementara anak-anak cowoknya naik truk terbuka.
Di tempat start rafting kami diberi pengarahan dari panitianya. Perjalanan yang akan kami tempuh sekitar 19 km dan diperkirakan akan memakan waktu sekitar 3 jam (pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang). Rombongan dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 5 orang untuk satu perahu. Masing-masing kelompok akan ditemani oleh satu pemandu, jadi dalam satu perahu ada 6 orang. Kelompokku sendiri terdiri dari: Aku, Maya, Ari, Agnes, dan Arief.
Perjalanan selama rafting sungguh menyenangkan. Maklum lah baru pertama kali ikut acara bginian. Baru berjalan beberapa ratus meter, kami sudah dikejutkan oleh salah satu jeram yang kami lewati. Sampai-sampai pemandu kami pun terjerembab ke depan. Untung nggak ada yang jatuh ke sungai. Nggak seperti salah seorang pemandu lain yang katanya ingin menceburkan peserta yang dipandunya dari perahu, pemandu kami justru sangat care dan bertanggung jawab. Karena perahu kami harusnya berada paling belakang, jadi tiap kali ada perahu lain yang tertinggal pasti ditungguin.
Perjalanan kami terhenti di tengah-tengah karena salah satu perahu yang ditumpangi oleh Kania dkk terjebak di salah satu jeram. Entah lah penjelasan secara ilmiahnya gimana, yang jelas perahu tersebut nggak bisa kemana-mana. Perlu waktu sekitar setengah jam lebih untuk membebaskan perahu tersebut. Tim SAR dan pemanduku sendiri sampai turun tangan. Kesempatan ini aku gunakan untuk berjemur, secara semua pakaianku sudah basah kuyup setelah melewati berbagai macam jeram, walaupunn nggak sampai jatuh ke sungai. Akhirnya perjalanan diteruskan. Sayang, dari banyak jeram yang kami lalui, hanya beberapa yang membuat kami cukup 'shock' dan tertantang. Hehehe.. Di salah satu jeram terakhir, Arief yang satu kelompok denganku terjatuh ke sungai gara-gara keasyikan dan nggak memperhatikan laju perahu. Untungnya bisa cepet naik ke perahu. Katanya kakinya sempat terantuk batu ketika jatuh. Dari pengalamanku, sepertinya posisi perahu yang kemungkinan besar akan menjatuhkan orang yang menaikinya adalah ketika perahu berjalan menyamping, bukan ke depan. Kalo udah bgini, siap-siap aja orang yang berada di samping perahu untuk memegang tali ketika berhadapan dengan jeram.
Ketika perjalanan rafting kami selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Telah disediakan kelapa muda di tempat finish. Dan harusnya gorengan juga sih. Gara-gara emang kebagian kelompok terakhir, yang bersisa hanyalah kelapa mudanya aja. Dari tempat itu, perjalanan dilanjutkan lagi menggunakan truk terbuka dan angkot menuju tempat flying fox dan tempat peristirahatan. Busyet dah, udah pakaian basah semua, naik truk terbuka pula selama kurang lebih setengah jam. Untung nggak sampai masuk angin. Mana hanya bermodalkan sarapan di pagi hari dan mem by pass makan siang pula lagi. Bener kata Maya: Adrenalin mengalahkan segalanya.
Semua barang bawaan kami yang sebelumnya dititipkan diantar ke tempat peristirahatan tersebut. Disana kami mandi sholat dan 'makan siang' (walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore). Salah seorang temanku, Hera mengalami musibah, tas miliknya yang sebelumnya dititipkan ke panitia tidak ditemukan diantara barang-barang kami semua. Duh, padahal isinya HP, dompet, uang dan beberapa kartu ATM. Untungnya semua kartu ATM nya bisa diblok pada saat itu juga. Walaupun katanya pihak panitia akan mengganti semua barang akibat peristiwa ini, jadi rada-rada ngeri juga. Seharusnya, dari awal panitianya mencatat semua barang-barang yang dititipkan, jadi ketahuan nanti hilangnya dimana. Walaupun semua barang hilang diganti, tetep aja repot kalo misalnya mesti ngeblokir semua kartu atm dan ngeblokir nomor telepon. Semoga aja kedepannya kejadian seperti ini nggak terjadi lagi deh. Akibat kejadian ini, kami berada cukup lama disana dan waktu tersebut seperti biasa kami manfaatkan untuk berfoto-foto ria. Akhirnya kami pulang dari tempat peristirahatan sekitar pukul 7 malam dan langsung menuju tempat kami memarkir mobil. Untungnya kali ini nggak naik truk terbuka lagi. Bisa beneran kena masuk angin ntar.
Setengah jam kemudian kami sampai di tempat awal kami datang. Karena sudah malam, diputuskan kami semua akan langsung pulang tanpa perlu saling menunggu seperti pada waktu berangkat sebelumnya. Malam ternyata tak membuat perjalanan pulang menjadi lebih mudah. Jalur Sukabumi-Ciawi sama aja baik ke arah Sukabumi maupun Ciawi. Sama-sama macet. Karena pada saat itu adalah malam minggu, dimana pasar-pasar yang kami lewati sebelumnya menja pusat-pusat keramaian. Huff.. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Akhirnya jam setengah 1 malam aku di drop di daerah Tanjung Barat oleh Novan dan perjalanan pulang aku teruskan dengan menggunakan taksi. Sampai rumah sekitar jam 1 malam. Aku membersihkan diri, sholat Isya, dan langsung tidur.
Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan. Walaupun sebenarnya pada hari itu aku masih belum terlalu sehat akibat dua hari sebelumnya aku sakit, tetap saja aku paksakan untuk ikut. Sayang kalo nggak bisa ikut acara kumpul-kumpul seperti ini. Mana jarang-jarang pula lagi bisa ngumpulin sekitar 30 orang lebih dari teman-teman kuliahku. Satu-satunya yang membuat kesal barangkali cuma satu: perjalanan PP dari Ciawi ke tempat raftingnya itu yang nggak kira-kira.
Foto-foto Rafting kemarin bisa diakses di Picasa melalui link berikut ini.
Yang mau file-file ukuran full-size nya bisa mengunduh melalui link rapidshare dibawah ini:
Note: Beberapa foto yang terlalu 'vulgar' dan 'personal' nggak aku upload. Silakan japri ajah yah.. ;)
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
14:57
5
comments
Wednesday, November 26, 2008
Konversi Format File Teks Windows ke Unix Menggunakan Shell
Windows dan Unix menggunakan format yang berbeda dalam file teks mereka. Pada Windows, setiap baris diakhiri dengan karakter ASCII line feed dan carriage return (\n\r). Sementara itu pada Unix masing-masing baris dipisahkan dengan karakter ASCII line feed saja (\n). Di Unix, file format teks ini akan menampilkan karakter carriage return dengan Ctrl-M (^M) pada setiap akhir barisnya. Sangat jelas terlihat ketika sedang menyunting file menggunakan perintah vi.
Walaupun beberapa editor di Windows maupun di Linux menyediakan fungsi untuk konversi dari dari format Windows ke Unix dan sebaliknya, ternyata ada solusi yang lebih sederhana, yaitu menggunakan shell command di Unix, dengan menggunakan perintah tr untuk menghapus karakter-karakter carriage return. Berikut ini adalah contoh perintahnya :tr -d '\r' <> output_file
Perintah diatas akan menghilangkan karakter carriage return pada file input_file dan menyimpannya ke dalam file output_file.
Untuk mengkonversi file secara batch, misalnya dalam satu direktori dan termasuk subdirektorinya, dapat menggunakan cara-cara berikut ini:
- Buat file script dengan nama misalnya
convert.shyang berisi: - Mengubah permission dari file convert.sh menjadi executable dengan menjalankan perintah:
- Menjalankan perintah berikut untuk mengkonversi file secara batch:
temp="/tmp/temp.tmp"
files=$@
for file in $files
do
tr -d '\r' < $file > $temp
mv $temp $file
donechmod +x convert.shfind [directory] -name [pattern] -type f | xargs ./convert.shMisalkan semua file berekstensi *.txt pada direktori
/home/test berikut subdirektorinya akan dikonversi, maka perintahnya adalah:find /home/test -name *.txt -type f | xargs ./convert.sh
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
19:00
7
comments
Labels: Artikel, Iseng, IT, Unix Shell
Friday, November 14, 2008
Sisi Positif dan Negatif Audit
Sisi Positif dan Negatif dari Audit
Setelah badai audit mereda beberapa waktu yang lalu, aku mencoba untuk menelaah sisi-sisi positif dan negatif yang diakibatkan oleh proses audit itu sendiri, dilihat dari sudut pandang orang yang diaudit. Tulisan dibawah ini sangat subjektif. Jadi kalo ada yang mau berkomentar atau memberi masukan, sok-sok aja, terutama mungkin dari sisi auditornya sendiri :P.
Sisi positif:
- Membantu unit kerja tertentu untuk menambal berbagai macam celah yang ada dan yang mungkin timbul di masa yang akan datang.
- Memastikan suatu unit kerja menjalankan proses yang benar dan sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.
- Dengan adanya audit, proses bisnis unit kerja tempat kita bekerja menjadi transparan. Terutama yang berhubungan dengan uang, dimana unit kerja tersebut sangat rentan dari tindakan-tindakan fraud dan korupsi. Dan tentunya, dengan audit pula, bisa mencegah segelintir orang tertentu untuk melakukan dosa-dosa korupsi dan fraud.
- Membuat para karyawan menjadi lebih disiplin dalam pekerjaannya. Alasan ini aku pilih karena melalui audit, semua dokumen-dokumen yang mendukung harus tersedia. Cukup memaksa masing-masing unit kerja untuk selalu melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Ujung-ujungnya karena adanya suatu paksaan, bisa melatih kedisiplinan.
- Audit bisa melatih seseorang menjadi rajin, karena semua hal yang berhubungan dengan transaksi dan proses bisnis akan selalu dicatat dengan baik. Sehingga hal ini memudahkan proses pencarian dan pengorganisasian dokumen-dokumen yang diminta oleh tim audit.
- Bisa meningkatkan Key Performance Index (KPI) dari unit kerja yang diaudit, jika tidak ditemukan temuan apapun.
Sementara itu, sisi-sisi negatifnya antara lain:
- Menambah kerjaan. Jelas banget nih. Karena mesti mengobrak-abrik dokumen dan menyediakan dokumen-dokumen yang diperlukan. Terkadang, bisa bermunculan dokumen-dokumen baru yang harus dibuat agar unit kerja tertentu comply dengan audit.
- Menyita waktu dan memicu stress, karena dokumen-dokumen yang diminta seolah tak pernah habis dan deadlinenya sangat ketat. Belum lagi setelah dokumen diserahkan, ternyata masih ada yang salah dan kurang. Ujung-ujungnya, yang ada malah jadi kesel sama auditornya. *Untung audit kemaren auditornya nggak ngeselin*
- Jika desain kontrolnya ternyata kurang sesuai dengan kondisi nyata, bisa ribet. Karena harus memenuhi dan membuat dokumen yang jelas-jelas tidak bisa dipenuhi. Artinya ekspektasi dari tim penyusun desain kontrolnya terlalu perfeksionis dan kurang memahami kondisi unit kerja yang diaudit.
- Kurang ramah lingkungan. Bayangkan, berapa banyak lembar kertas yang harus dicetak dan difotokopi untuk menunjukkan bahwa pihak-pihak terkait menandatangani dokumen-dokumen tersebut. Untuk menghindari fotokopi, semua dokumen bisa di scan, dan tentunya akan memudahkan pencarian.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:38
3
comments
Monday, October 20, 2008
Inspirasi..
Adalah hal yang sangat menyenangkan ketika setiap hari pikiran selalu dipenuhi dengan inspirasi-inspirasi. When your brain is filled with interesting things. It's the time when you'll have so many ideas. All the negative things will be washed out from your mind. Everything you see is beautiful. In my opinion, it's the best time to make a decision and plan your life. Inilah saat-saat dimana aku merasa sangat bersyukur karena aku bisa merasakan semua perasaan senang yang meluap-luap ini.
Walaupun demikian, bukanlah hal yang mudah untuk bisa selalu mengkondisikan diri agar pikiran ini selalu terisi dengan inspirasi-inspirasi positif. Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan pikiran-pikiran menjadi kacau sehingga menghalangi ide-ide baru masuk.
Menurutku, beberapa hal berikut ini dapat menumbuhkan ide-ide dan inspirasi-inspirasi baru:
- Istirahat yang cukup. Ketika tubuh lelah, pikiran menjadi tidak jernih. Akibat yang aku rasakan adalah malah banyak waktu terbuang karena banyak mengerjakan hal-hal yang nggak jelas dan kurang bermanfaat. Ujung-ujungnya malah tambah kurang istirahat. Kalo udah sakit, akibatnya malah nggak bisa konsen untuk berpikir.
- Membaca buku. Dengan membaca buku, seringkali aku mendapat hal-hal baru yang bisa dijadikan bahan perenungan untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Ide-ide baru pun banyak aku dapatkan melalui cara ini.
- Membaca blog orang lain. Menurutku ini adalah cara untuk memahami pemikiran-pemikiran orang lain. Blog mencerminkan identitas dan karakter si penulisnya - IMHO. Dan tentu saja pemikiran-pemikiran si penulis blog ini bisa memberikan ide-ide baru, terutama ide untuk menulis blog lagi :P.
- Menyendiri. Dari beberapa cara, inilah yang paling aku sukai. Bukannya bermaksud menjadi makhluk anti sosial. Tetapi kadang-kadang aku merasa dengan menyendiri, aku mempunyai cukup waktu untuk 'lari' dari kesibukan. It's the best time to contemplate and plan my life. Dengan waktu ini, aku bisa merenung sejenak untuk mengetahui sejauh mana progress yang telah aku buat dalam hidup ini, mengevaluasi diri, dan menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk memperbaiki kualitas hidup yang sedang aku jalani ini.
- Hunting foto *halah*, terutama dengan objek-objek natural seperti pemandangan dan objek-objek berupa makhluk hidup. Ini mungkin baru beberapa kali aku lakukan. Tapi efeknya lumayan. Bisa aku anggap sebagai salah satu cara mensyukuri nikmat Allah yang diberikan melalui kedua mataku. Begitu banyak pemandangan-pemandangan indah ciptaanNya yang bisa aku capture kedalam sebuah dokumen digital. Terlebih lagi untuk objek-objek makro. Indahnya sayap kupu-kupu dan warna-warni serangga-serangga yang bertebaran di taman bisa aku rekam. Sungguh, hidup ini terasa begitu menyenangkan jika kita bisa ikhlas dan mensyukuri semua karuniaNya.
Ada masukan lain?
*bertanya adalah salah satu cara untuk mendapatkan pemikiran-pemikiran orang lain - halah*
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:38
3
comments
Labels: Iseng
Saturday, October 18, 2008
Komik Pak Janggut
Beberapa waktu lalu, ada seorang rekan di kantor yang telah mengunduh koleksi Komik Pak Janggut. Entah dapetnya dari mana, tapi kalo aku lihat-lihat isinya sih cukup update sesuai dengan versi onlinenya yang ada di "Rumahnya Pak Janggut Indonesia". Makasih banyak buat Josef yang sebelumnya memposting link tersebut di milis. Tapi berhubung males baca secara online, waktu itu sempet mengunduh semua komiknya menggunakan aplikasi. Tapi berhubung telah ada yang berbaik hati mengunduh dan merapikan gambar-gambarnya per album, nggak apa-apa dong kalo versi yang ini aku pake. Thx Mas Nuri yang telah berbagi koleksi komiknya.
Kemaren-kemaren, aku upload semua filenya ke Rapidshare. Berikut ini adalah list komiknya:
- 01 - Putri Yang Manja
- 02 - Di Kerajaan Satwa
- 03 - Tabib Palsu
- 04 - Gerbang Ke Timur
- 05 - Monster Danau Kabut
- 07 - Perjalanan Ke Barat - (belum lengkap)
- 08 - Laut Menuju Ke Selatan
- 09 - Peniup Suling Dari Kota Elang - (belum lengkap)
- 10 - Gigi-Gigi Casius Gaius - (belum lengkap)
- 11 - Pompit Yang Bandel - (belum lengkap)
- 12 - Menangkap Si Jahil
- 13 - Tiga Penyihir Usil
- 14 - Mencari Jejak Perampok
- 15 - Sarakah Si Penipu
- 16 - Putri Melati Centilaneh
- 17 - Bombasto Si Penyihir
- 18 - Lemari Dengan 1000 Pintu
- 19 - Kapal Dari Es
- 20 - Kimono Hitam
- 21 - Kepala Suku Yang Menyamar
Atau bisa membuka LinkList Rapidshare melalui link berikut ini: http://rapidshare.com/users/5TCIZD
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
13:37
6
comments
Labels: Iseng
Wednesday, October 08, 2008
Macro Photography
Inilah alasan utama mengapa aku membeli kamera DSLR. Aku menyukai objek-objek close-up seperti bunga, serangga, dan objek-objek kecil lainnya. Untuk mencari objek-objek tersebut, menurutku nggak terlalu susah. Ada dimana-mana, bahkan di dalam rumah sekalipun.
Setelah memberi kamera berikut dengan lensa kitnya, baru sadar jika ternyata lensa kit tidak bisa digunakan untuk pengambilan gambar secara close-up untuk objek-objek yang berukuran kecil. Lensa 18-135 mm yang merupakan lensa kit dari kamera yang aku beli, nggak banget deh. Jarak fokus minimumnya sekitar 30 cm dari lensa. Dan itu udah maksimal, nggak bisa fokus untuk objek yang lebih dekat.
Akhirnya aku putuskan untuk membeli sebuah lensa makro yang cukup recommended, yaitu AF-S VR Micro 105mm f/2.8G IF-ED. Dengan focal length 105 mm, lensa tersebut memberikan jarak yang cukup untuk mengambil objek-objek kecil seperti serangga. Jarak fokus minimumnya sekitar 31cm atau sekitar 15cm dari ujung lensa (dengan magnification ratio 1:1, artinya pada jarak segitu, ukuran objek pada sensor berukuran sama dengan ukuran objek yang sebenarnya). Lensa ini adalah prime lens. Nggak ada zoomnya, karena memang untuk makro biasanya nggak ada zoomnya. Dan konon secara kualitas, prime lens lebih baik dibandingkan dengan lensa yang bukan prime lens, walaupun mengurangi fleksibilitas.
Tadinya, aku pikir mengambil objek-objek makro itu gampang. Kalo ngeliat foto-foto yang ada di Fotografer.net atau di Flickr bagus-bagus banget, jadi mikirnya gampang aja. Ternyata susahnya setengah mati. Objeknya sih memang banyak dan ada dimana-mana, tapi untuk mendapatkan gambar yang bagus dan benar-benar tajam, mesti benar-benar sabar dan tekun. Dalam tulisan ini, aku ingin sedikit berbagi unek-unek dalam menggunakan lensa makro. Berikut ini adalah beberapa kesulitan yang aku alami:
- Untuk objek-objek tidak bergerak seperti bunga, lebih gampang diambil, karena objeknya diam. Untuk objek-objek bergerak seperti serangga, tak segampang yang dikira. Objek yang difoto harus didekati, dan nggak semua serangga bisa didekati dengan mudah. Ada beberapa yang langsung kabur begitu didekati dari jarak sekitar 2 meter.
- Untuk mendapatkan pembesaran yang maksimum (magnification ratio 1:1) objek jelas perlu didekati. Semakin dekat, semakin besar kemungkinan objeknya kabur. Terkadang ada momen yang bagus banget, begitu mau mengatur fokus, objeknya sudah menghilang duluan. Dan ini nggak terjadi cuma sekali atau dua kali. Jadi memang mesti benar-benar sabar.
- Depth of Field atau DOF (bagian dari objek yang berada dalam fokus). Semakin kecil DOF, maka bagian objek yang fokus semakin kecil. Misalnya mengambil gambar suatu serangga dengan DOF yang kecil, maka yang fokus hanya bagian tertentu saja, misalnya matanya saja, sementara kakinya blur. Karena pada DOF yang kecil, objek yang berbeda 1 mm saja dari fokusnya, akan tergambar blur alias nggak jelas.
- Untuk kebanyakan kasus, aku memerlukan tripod agar gambar yang dihasilkan tajam walaupun menggunakan shutter speed yang lambat. Dan ini artinya nggak praktis. Bawa-bawa tripod kan ribet. Berat pula lagi. Masih mending objeknya bisa dapet. Menurutku tripod adalah tool wajib yang mesti dibawa. Ada sebagian orang yang nggak suka pakai tripod untuk mengambil gambar makro. Kurasa, walaupun sudah menggunakan flash, tripod akan tetap diperlukan untuk menjamin kualitas foto hasil jepretannya.
- Faktor lain yang cukup menyulitkan menurutku adalah angin. Sebel banget jika sedang ada serangga yang sedang diem diatas daun, tahu-tahu angin berhembus. Walaupun cuma sepoi-sepoi, bisa membuat gambarnya menjadi nggak tajam dan nggak fokus.
Permasalahan dalam DOF ini adalah, semakin besar magnification rationya - semakin dekat dengan objek, DOF nya juga semakin kecil. Untuk memperbesar nilai DOF, bisa menggunakan aperture (bukaan) yang lebih kecil (f-number yang lebih besar) sehingga seluruh objek yang akan diambil tergambar dengan tajam dan tidak blur. Kompensasi dari menggunakan nilai f-number yang lebih besar adalah shutter speed yang digunakan juga harus semakin lambat, agar cahaya yang masuk cukup - kalo nggak hasilnya gelap. Penggunaan shutter speed yang lebih lambat sangat merepotkan, karena semakin besar kemungkinannya terjadi shaking pada saat pengambilan gambar, yang ujung-ujungnya, gambar yang dihasilkan blur dan nggak jelas. Dan bahkan bisa saja gambarnya jelas, tapi fokusnya nggak tepat, karena ketika terjadi shaking, jarak fokus ke objeknya bisa berubah walaupun hanya 1 mm, dan hasilnya bisa fatal.
Solusi untuk memecahkan masalah shutter speed ini adalah dengan menggunakan flash. Tapi nggak recommended deh kalo pake built-in flash. Dengan jarak sedekat itu, hasilnya malah nggak karu-karuan. Cahaya yang dihasilkan nggak soft, dan objeknya terlalu ter-expose. Yang bener sih katanya pake flash yang didesain khusus untuk Macro Photography, dimana cahaya yang dihasilkan lebih soft, dan flash nya juga nggak cuma satu, tapi ada dua, untuk meminimalkan bayangan pada gambar yang dihasilkan. Sayangnya, harganya mahal, sekitar 8-9 jutaan, mana nggak yakin lagi hasilnya kayak apa, plus cuma bisa dipake untuk macro, untuk kepentingan lain malah mubazir. Solusi lain bisa juga menggunakan flash eksternal yang standar dengan menggunakan tambahan diffuser agar cahayanya lebih soft. Mungkin hasilnya nggak sebagus yang memang didedikasikan untuk makro, tapi melihat foto-foto yang dihasilkan dari penggunaan eksternal flash yang standar, bagus-bagus kok. Walaupun demikian, eksternal flash juga bukan barang murah :(. Aahh.. semoga saja bisa kebeli dalam waktu dekat ini.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:07
1 comments
Labels: Artikel, Fotografi, Hobby, Iseng, Makro Fotografi
Wednesday, June 11, 2008
KRL Ekonomi AC Malam: Serpong Manggarai PP
Sejak hari senin (9 Juni 2008) kemarin dioperasikan KRL Ekonomi AC malam untuk jurusan Manggarai - Serpong PP. Jadwalnya bisa dilihat di tabel dibawah ini:
Serpong-Manggarai
| No KA | 4043 | 4045 |
| Serpong | 20.00 | 22.00 |
| Rawabuntu | Berhenti sebentar | Berhenti sebentar |
| Sudimara | 20.10 | 22.10 |
| Pondokranji | 20.15 | 22.15 |
| Kebayoran Lama | 20.25 | 22.25 |
| Palmerah | 20.31 | 22.31 |
| Tanah Abang | 20.38 | 22.38 |
| Sudirman | Berhenti sebentar | Berhenti sebentar |
| Manggarai | 20.47 | 22.47 |
Manggarai-Serpong
| No KA | 4044 | 4045 |
| Manggarai | 20.50 | 22.50 |
| Sudirman | Berhenti sebentar | Berhenti sebentar |
| Tanah Abang | 21.00 | 23.00 |
| Palmerah | 21.06 | 23.06 |
| Kebayoran Lama | 21.12 | 23.12 |
| Pondokranji | 21.21 | 23.21 |
| Sudimara | 21.28 | 23.28 |
| Rawabuntu | Berhenti sebentar | Berhenti sebentar |
| Serpong | 21.35 | 23.35 |
Berhubung aku biasanya kalo pulang dari Stasiun Palmerah, aku bisa naik yang jadwalnya pukul 21.06 dan 23.06. Sangat membantu sekali jika kebetulan harus pulang malam dari kantor. Sebelumnya, kereta terakhir dari Palmerah adalah KRL ekonomi biasa yang berangkat pukul 20.22 ke Serpong. Beda sekitar 45 menit lah.
Tidak seperti KRL Ekonomi AC biasa yang harga karcisnya 5.000, harga tiket KRL Ekonomi AC malam adalah 6.000. Beda 1.000 aja sih nggak masalah. Yang penting kan service availability nya. :p
Daripada pulang mengunakan P20 ke arah Lebak Bulus ditambah ganti angkot 2 kali, lebih nyaman menggunakan kereta. Itung-itungannya pun beda lumayan jauh. Naik kendaraan biasa ke rumah rata-rata memerlukan waktu 1,5 jam. Sementara menggunakan kereta bisa 45 menit lebih cepat. Secara ongkos pun lebih murah menggunakan kereta. Naik bus ke Palmerah + kereta = 2.500 + 6.000 = 8.500. Sementara naik P20 + ganti angkot 2 kali = 9.500. Kereta jelas lebih nyaman. Ber-AC dan nggak macet.
Kemarin aku pulang malam, sekalian pengen mencoba KRL Ekonomi AC malam. Aku naik kereta yang pukul 21.06 dari Palmerah. Ternyata tidak sesepi yang aku kira. Masih kebagian tempat duduk sih. Tapi di gerbong yang aku naiki, semua tempat duduk telah terisi. Setelah lewat Stasiun Kebayoran Lama, penuh deh. Cukup banyak penumpang yang berdiri. Kurasa jika melihat jumlah penumpangnya, ternyata peminatnya cukup banyak, dan kebanyakan adalah orang-orang kantoran. PJKA tampaknya sudah mengetahui keadaan ini, makanya berani mengoperasikan KRL Ekonomi AC malam.
Dari sisi keamanan, sepertinya bisa dijamin aman. Kali ini, kondekturnya tidak hanya ditemani Polsuska saja (Polisi Khusus KA), tapi bener-bener polisi yang membawa senjata api. Mantap dah. Moga aja copet nggak berani masuk deh.
Semoga ini semua merupakan pertanda bahwa PJKA saat ini sedang berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengguna jasa kereta api khususnya untuk Jabodetabek. Moga kedepannya PJKA bisa lebih baik lagi dalam memberikan pelayanannya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:38
0
comments

