Belakangan ini gara-gara ada masalah di Pidgin, iseng-iseng aku mencari paket-paket di Ubuntu yang berhubungan dengan pidgin. Baru ngeh disitu ada paket pidgin-facebookchat yang berupa plugin di Pidgin. Penasaran seperti apa paketnya, aku install aja sekalian.
Ternyata lumayan menarik. Semua temen-temenku yang sedang online ditampilkan beserta statusnya, dan sejak kapan status tersebut dipasang. Dan bisa tahu juga jika seseorang sedang idle atau nggak. Jika ada seseorang yang baru saja online, akan muncul notifikasi di pojok kanan atas workspace. Lumayan membantu walaupun agak-agak mengganggu juga terutama jika ada banyak orang yang online dalam waktu bersamaan. Sayangnya nggak ada notifikasi untuk orang yang baru saja offline.
Fitur chat ini bisa berjalan bersamaan dengan fitur chat yang ada di facebook, jadi apa yang diketik melalui aplikasi ini akan muncul juga di aplikasi chat internal facebook. Yang lebih menyenangkan, nggak perlu khawatir jika ada pesan masuk yang terlewat. Seringkali jika ada seseorang yang mengajak chatting lewat facebook, aku nggak tahu karena biasanya di browser, tab untuk facebook tak selalu aktif, begitu tahu ada pesan masuk, orang yang diajak ngobrol udah offline duluan.
Wednesday, July 01, 2009
Pidgin dan Facebook
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:52
6
comments
Thursday, April 23, 2009
Screen - Aplikasi Terminal Virtual
Screen merupakan salah satu utility yang belakangan ini sering aku gunakan dalam Unix khususnya ketika sedang me-remote server menggunakan SSH. Melalui screen, memungkinkan pengguna untuk membuat session baru. Dalam session ini, dapat dibuat beberapa terminal yang virtual. Meskipun pengguna yang membuat sesi screen telah logout ataupun koneksinya terputus, sesi yang telah dibuat akan tetap berjalan, sehingga bisa di-resume kemudian.
Fitur-fitur tersebut sangat bermanfaat ketika menjalankan sebuah proses secara remote melalui SSH. Terutama untuk proses-proses yang memakan waktu dan resource, tanpa perlu khawatir proses tersebut akan di-terminate ketika session SSH tiba-tiba terputus. Lebih terasa lagi manfaatnya jika koneksi jaringan dari client ke server yang sedang di-remote sangat terbatas, seperti misalnya melakukan SSH ke server melalui handphone dan menjalankan sebuah script yang memakan waktu.
Untuk menjalankan screen, hanya perlu mengetikkan:
screen
Perintah tersebut akan menjalankan shell yang baru, seperti shell yang biasa digunakan. Namun shell ini berada dalam sesi screen yang telah dijalankan sebelumnya. Di dalam sesi screen yang sedang aktif, ada beberapa perintah yang dapat dijalankan, dimana semuanya dimulai dengan Ctrl+a. Berikut ini adalah beberapa perintah yang dapat dilakukan dalam sesi screen:
Ctrl+a c: Membuat jendela terminal baru
Ctrl+a 1 ... Ctrl+a 9: Pindah ke terminal 1-9
Ctrl+a n: Pindah ke terminal selanjutnya
Ctrl+a p: Pindah ke terminal sebelumnya
Ctrl+a w: Melihat daftar jendela terminal dalam sesi yang aktif
Ctrl+a d: Detach - Keluar dari sesi yang sedang aktif.
Perintah ini akan mengembalikan shell ke shell yang digunakan untuk menjalankan screen. Sesi yang sebelumnya aktif akan tetap aktif. Untuk kembali ke sesi terakhir (re-attach) yang aktif, dapat menjalankan perintah:
screen -r
Jika ada beberapa sesi screen yang sedang aktif dan ingin kembali ke sesi tertentu dapat menjalankan perintah:
screen -r PID
Dengan PID adalah instance dari sesi screen yang dapat dilihat melalui perintah
screen -list
Perintah-perintah lain yang tersedia dalam sesi screen dapat diakses menggunakan perintah Ctrl+a ?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:04
4
comments
Labels: Artikel, Iseng, IT, Ubuntu, Unix Shell
Thursday, March 19, 2009
Meng-embed Subtitle Kedalam Video
Berhubung iPod tak bisa nenampilkan video dengan file subtitle yang terpisah, jadi kepikiran gimana caranya untuk mengembed file subtitle yang biasanya berekstensi *.srt atau *.sub ke dalam videonya sendiri. iPod sendiri pada dasarnya hanya mengenali format mp4, bukan avi, sehingga video yang ada harus dikonversi dulu menjadi format mp4.
Setelah googling *lupa sumbernya dari mana* untuk mengembed subtitle kedalam video, bisa menggunakan tools MEncoder yang dijalankan dari command line shell. Pada dasarnya tools MEncoder ini dapat digunakan untuk melakukan konversi video ke dalam format lain menggunakan codecs yang berbeda-beda. Secara umum, perintah mencoder adalah sebagai berikut:
mencoder [video source] -ovc [video output codec] -oac [audio output codec] -o [video ouput]
Untuk mengembed subtitle kedalam video output, hanya perlu menambahkan parameter -sub [subtitle file]. Sangat sederhana dan mudah.
Untuk mengkonversi video agar bisa dimainkan di iPod, biasanya aku menggunakan aplikasi yang bernama mvPod. Sayang aplikasi ini belum memiliki fitur untuk meng-embed subtitle kedalam video outputnya. Berhubung mvPod pada dasarnya menggunakan tools mencoder dan tools lain yang bisa diakses dari shell, jadi urutan perintah yang dieksekusi bisa aku ketahui. Setelah mengutak-atik sedikit parameter-parameter yang diperlukan, seperti resolusi video output dan setting untuk subtitlenya, perintah mencoder yang aku gunakan menjadi:
mencoder -aid 1 -o [output] -sub [subtitle] -oac faac -faacopts br=128:mpeg=4:object=2 -channels 2 -srate 48000 -ovc x264 -x264encopts bitrate=500:nocabac:direct_pred=auto:me=umh:frameref=1:level_idc=13:partitions=all:subq=6:threads=auto:trellis=1:vbv_maxrate=768:vbv_bufsize=244:bframes=0 -vf-add scale=480:-2 -vf-add harddup -vf-add expand=480:320:::1 -subfont-autoscale 3 -subfont-osd-scale 4 -subfont-text-scale 3 [source]
Walaupun output dari perintah diatas berupa file mp4, namun format tersebut tidak dikenali oleh iPod (di gtkPod nya sudah di-reject). Ternyata mvPod menggunakan tools tambahan yaitu avi2raw dan mp4creator untuk mengkonversi file output yang dihasilkan oleh mencoder agar bisa dikenali oleh iPod. Perintahnya sangat sederhana, dan memakan waktu yang relatif cepat dibandingkan dengan proses sebelumnya. Berikut ini adalah perintah yang digunakan:
avi2raw --video [output> [output video raw]
avi2raw --audio [output> [output audio raw]
mp4creator --create=[output video raw] -r 23.976 [final output]
mp4creator --create=[output audio raw] [final output]
Output terakhir dari proses ini adalah [final output] yang bisa dimainkan di iPod. Well, sebenernya masih rada-rada nggak mudeng sih penggunaan perintah avi2raw dan mp4creator ini. Udah rada-rada males googling, yang penting tujuan tercapai :P.
Catatan:
- mencoder dapat diinstall melalui package mencoder (apt-get install mencoder)
- avi2raw dan mp4creator dapat diinstall melalui package mpeg4ip-server (apt-get install mpeg4ip-server)
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:36
0
comments
Labels: Artikel, Ubuntu, Unix Shell
Tuesday, December 30, 2008
Ipod di Ubuntu
Rythmbox Music Player
Sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tak pernah lepas dari Ipod. Pergi kemana-mana, pasti Ipod Shuffle yang aku miliki sejak bulan Agustus lalu selalu aku bawa. Ketika itu, aku pikir Ipod hanya kompatibel dengan iTunes yang hanya bisa digunakan di Windows. Jadilah aku mengkopi lagu-lagu favoritku menggunakan iTunes. Kelemahan Ipod Shuffle adalah perangkat ini hanya bisa digunakan menggunakan iTunes pada komputer yang sama. Ribet banget dah dan nggak praktis. Kalau digunakan di iTunes di komputer yang lain, pilihan yang tersedia adalah me-reset isi Ipod Shuffle sebelum mengkopi lagu baru, atau membatalkan opsi. Duh, padahal Ipod Shuffle nya sih praktis dan yang paling menyenangkan perangkat ini memiliki klip. Bisa dicantolin di baju atau jaket.
Lain ceritanya ketika aku plug ke laptopku yang menggunakan Ubuntu. Ipod Shuffle ku langsung terdeteksi dan bisa dibuka menggunakan aplikasi Rythmbox Music Player yang sudah pre-installed di Ubuntu. Melalui aplikasi ini, aku dapat menambahkan lagu-lagu favoritku kedalam Ipod Shuffleku sekaligus memainkan lagu yang ada di dalamnya.
gtkPod
Lain ceritanya ketika akhir bulan Nopember kemarin ada yang berbaik hati memberikan Ipod Nano secara gratis untukku. Dengan ukuran 8 GB yang menurutku cukup mubazir untuk orang sepertiku, Ipod Nano memberikan kualitas suara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Ipod Shuffle. Mungkin karena interface Ipod Shuffle dirancang begitu simplenya, sehingga tidak ada pilihan equalizer, plus mungkin kualitas suaranya kurang begitu diperhatikan. Setelah terbiasa mendengarkan lagu menggunakan Ipod Nano, rasa-rasanya aneh aja ketika mendengarkan lagu menggunakan Ipod Shuffle lamaku.
Ternyata Ipod Nano tidak kompatibel dengan Rythmbox. Sebagai gantinya, di Ubuntu ada package yang namanya gtkpod (untuk menginstall tinggal mengetikkan apt-get install gtkpod sebagai super user). Aplikasi ini benar-benar pengganti iTunes di Ubuntuku. Sejauh ini, aplikasi ini sudah sangat mencukupi kebutuhan ketika berurusan dengan Ipod Nano ataupun Ipod Shuffle. Aku bisa membuat playlist baru dan menambahkan lagu-lagu favoritku. Selain itu aku juga bisa mengkopi lagu yang telah tersimpan di Ipod ke laptop, salah satu fitur yang tidak ada di iTunes (untuk mengurangi penyebaran lagu secara ilegal). Aku pun bisa mengkopi foto, video, mengedit metadata lagu (ID3 tag), dan melakukan sinkronisasi kontak, notes, dan kalender melalui aplikasi ini.
Video untuk Ipod
Ipod Nano hanya kompatibel dengan video dengan format .m4v, .mp4, dan .mov. Kebanyakan format video saat ini menggunakan format .avi. Sehingga jika ingin menambahkan video dengan format .avi tersebut, harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam format yang telah disebutkan sebelumnya. Di Windows sebenarnya banyak aplikasi konverternya, dan setahuku nggak gratis (walaupun bisa di-crack). Berhubung udah Ubuntu-minded :P, jadi seperti biasa, googling dulu. Dan akhirnya aku temukan juga aplikasi konverter sederhana yang bernama mvPod yang bisa diunduh melalui link berikut ini:
http://sourceforge.net/projects/mvpod
Aplikasi konverter ini sangat sederhana menurutku, dan tidak masuk ke dalam daftar package bawaan Ubuntu. Saking sederhananya, aplikasi ini hanya bisa mengkonversi video. Tidak bisa menggabungkan video + subtitle dan mengkonversinya kedalam format yang dikenali Ipod.
Agar video yang telah dikonversi ini bisa disimpan ke dalam Ipod melalui aplikasi gtkPod, package gtkpod-aac harus sudah terinstall terlebih dahulu. Package ini memungkinkan aplikasi gtkPod untuk menambahkan lagu atau video dengan format aac (MP4) ke dalam Ipod.
Selamat mencoba..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
14:59
4
comments
Sunday, November 16, 2008
Driver Bluetooth Toshiba pada Ubuntu
Beberapa waktu lalu, ketika aku masih menggunakan Ubuntu 8.04, perangkat bluetooth yang ada pada notebook Toshiba Portege M600-ku, tidak dikenali. Setelah berusaha mencari informasi mengenai cara instalasi driver bluetooth pada notebook Toshiba, akhirnya aku dapatkan juga informasi yang cukup berguna dari link berikut ini. Ternyata instalasinya tidak terlalu rumit seperti instalasi FingerPrint reader pada laptopku. Walaupun di link tersebut disebutkan instalasi driver bluetooth untuk Toshiba Satellite U400, namun setelah aku coba, ternyata masih applicable untuk Toshiba Portege M600-ku.
Berikut ini adalah langkah-langkah untuk melakukan instalasi driver bluetooth pada notebook Toshiba:
- Menambahkan packages berikut ini pada /etc/apt/sources.list:
- Jalankan perintah untuk melakukan sinkronisasi package index dari repository:
- Install package omnibook-source:
- Melakukan proses kompilasi kernel module dari package omnibook-source:
- Mengkonfigurasi agar module omnibook di load ketika startup dengan menambahkan baris:
- Buat file baru dengan nama omnibook.modprobe di dalam direktori /etc/modprobe.d dan tambahkan baris berikut:
- Untuk langsung menggunakan bluetooth tanpa me-reboot laptop, jalankan perintah berikut ini:
deb http://packages.kirya.net/debian/ sid main contrib non-free
deb-src http://packages.kirya.net/debian/ sid main contrib non-free
Walaupun package ini masih unstable, namun masih bisa digunakan.
apt-get update
apt-get install omnibook-source
m-a a-i omnibook-source
omnibook
ke dalam file /etc/modules
options omnibook ectype=14 userset=0 lcd=0 display=0 blank=0 battery=0 ac=0
modprobe omnibook ectype=14
Icon bluetooth akan langsung muncul pada panel Ubuntu dan bluetooth bisa langsung digunakan.
Note:
Sayangnya, pada Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex, driver bluetooth ini masih harus diinstall secara manual. Namun cara di-atas masih bisa digunakan pada Ubuntu 8.10 kok.
Selamat mencoba!!
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
18:55
1 comments
Monday, May 19, 2008
Akhirnya datang juga...
Setelah menunggu sekitar 3 mingguan lebih, CD Ubuntu Hardy yang kupesan akhirnya datang juga. Seperti biasa, berhubung mintanya dikirim ke kantor, ujung-ujungnya malah disuruh ngambil barangnya ke kantor pos, plus bayar Rp. 3000. Aneh deh, padahal kenapa ga dikasih langsung aja.
Di versi yang 8.04 ini, cuma bisa request 1 CD aja. Bisa minta lebih siy, tapi mesti ngasih alesan macem-macem. Padahal di versi yang 7.10 sekali pesan dikasih 2 CD. Walaupun sebenernya 1 aja udah cukup. Dan nggak perlu repot-repot pula. Tinggal download aja. Tapi, lumayan lah, buat kenang-kenangan ama stiker gratisnya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:32
1 comments
Thursday, May 01, 2008
Hardy Heron on Portege M600
Beberapa hari yang lalu, aku menginstall Ubuntu 8.04 Hardy Heron ke laptop Portege M600 ku. Udah nggak perlu pake upgrade lah. Langsung hajar aja, install ulang, menimpa instalasi Ubuntu Gutsy 7.10 yang sudah ada. Berhubung sejak awal partisi untuk /home sudah aku pisahkan dari partisi utamanya, nggak perlu khawatir ada data-data personal dan preference (shortcut, tampilan desktop, history, bookmark, dsb) yang hilang.
Performa dan Tampilan
Puas deh ama tampilannya, apalagi didukung dengan GNOME 2.22, Xorg 7.3 dan Kernel 2.6.24. Walaupun dari tampilan nggak berbeda jauh dengan pendahulunya, untuk versi yang ini kurasa ada penambahan performa. Kerasa lebih kenceng dibandingkan dengan Gutsy. Bagi pengguna Gutsy, kusarankan untuk mengupgrade ke Hardy. Bakalan kerasa deh peningkatan performanya.
Tidak seperti pada Gutsy, dimana pertama kali install resolusi desktopnya rada-rada bermasalah di Portege M600. Mana VGA card nya masuk black list (atau memang belum di-support), jadi nggak bisa pake compiz kalo nggak diutak-atik dulu. Sekarang sudah diperbaiki di Hardy.
Suara
Sound Card Portege M600 (Realtek ALC268) dikenali dengan baik, dan yang penting suaranya keluar. Seneng banget ketika setelah proses login, keluar deh suara start up Ubuntu yang khas. Pada Ubuntu 7.10 sebelumnya sound cardnya dikenali, tapi suaranya nggak keluar. Waktu itu sempet puyeng karena solusinya nggak ketemu juga. Akhirnya bisa keluar juga setelah menginstall module backport nya Ubuntu.
Firefox 3 beta 5
Nggak terlalu ngeh dengan fitur-fitur baru yang ada di firefox terbaru ini. Yang paling berasa sih fungsi autocomplete pada address bar nya yang berasa lebih 'keren' dan lebih cerdas. Keyword yang diketik pada address bar selain dicari pada history alamat web yang dikunjungi, juga akan dicari pada judul bookmark dan tag yang diberikan pada bookmark.
Fitur lain yang menurutku lumayan menarik adalah fitur untuk menyimpan session dari tab yang sedang dibuka. Ketika aplikasi firefox akan ditutup, muncul dialog konfirmasi yang meminta pengguna untuk memilih menyimpan session semua tab yang sedang dibuka atau tidak. Jika session tab nya disimpan, maka nanti ketika firefox dijalankan lagi, semua tab yang terbuka sebelumnya, akan dibuka kembali. Jika dulu pengguna harus menginstall Add-On tambahan seperti Session Saver, sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena sudah terintegrasi.
Authorizations
Ada fitur baru yang namanya Authorizations / Policy Kit yang bisa diakses dari System->Administration->Authorizations. Fitur PolicyKit ini memungkinkan aplikasi-aplikasi administratif seperti pengaturan waktu, pengaturan user dan group, dan lain sebagainya dapat dijalankan dengan menggunakan priveledge user biasa, bukan sebagai root. User biasa tersebut dapat melakukan perubahan konfigurasi pada aplikasi-aplikasi administratif dengan mendapat priveleges khusus.
Masih belum ngerti banget ama fungsi sebenarnya dari PolicyKit ini. Tapi sepertinya dengan PolicyKit ini urusan-urusan yang bersifat administratif jadi lebih gampang ngaturnya. Bisa mengatur user mana saja yang dapat mengakses fungsi-fungsi administratif tertentu dan mana yang tidak.
Wubi
Wubi memungkinkan user untuk meng-install Ubuntu di dalam partisi Windows tanpa perlu membuat pertisi sendiri secara terpisah. Dan bisa di uninstall pula lagi. Minimal space yang tersedia sekitar 5GB untuk bisa digunakan. Ketika instalasi ukuran partisi instalasinya dapat diatur sesuai dengan kapasitas free space yang ada pada partisi yang akan diinstall. Ukuran minimal partisi instalasinya adalah 4GB. Pada dasarnya, Wubi membuat semacam hard disk virtual pada partisi yang telah ada. Lalu pada saat boot, hard disk virtual tersebut di load jadi seolah-olah menjadi seperti partisi sendiri yang terpisah. CMIIW. Walaupun katanya performanya sedikit menurun dibandingkan jika diinstall pada partisi sendiri, kurasa perbedaannya nggak terlalu terasa.
Fitur ini cocok untuk pengguna Windows yang tertarik untuk mencoba Ubuntu dan nggak mau ribet pada saat instalasinya. Terbukti beberapa temen kantorku berhasil kuracunin untuk menggunakan Ubuntu karena fitur ini. Buat yang sudah bosen dengan virus-virus yang berkeliaran di Windows, nggak ada salahnya untuk mencoba Wubi :P.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
00:13
3
comments
Friday, January 18, 2008
Iseng dengan Dbus Service
Ceritanya sih lagi iseng mengutak-atik Ubuntu dan masuk ke Service Settings yang bisa diakses dari System -> Administration -> Services. Karena sepertinya banyak beberapa service yang kurasa nggak perlu, jadinya aku matiin satu persatu. Efisiensi dikit lah.
Tanpa sengaja meng-uncheck service yang bernama System communication bus (dbus). Seperti yang diketahui, perubahan pada dialog di Ubuntu (mungkin juga Linux) langsung terjadi ketika mengutak-atik form di dialog tersebut. Makanya, jarang ada tombol Apply pada dialog-dialog yang berhubungan dengan preference atau administrasi sistem. Karena hal ini, begitu aku meng-uncheck service dbus tersebut, perubahan langsung terjadi. Dialog Service Settings yang sedang terbuka langsung tertutup begitu saja tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu.
Well.. selanjutnya aku coba untuk membuka kembali dialog Service Settings tersebut namun hasilnya selalu gagal dan muncul peringatan : "You are not allowed to access the system configuration." Dan sepertinya bukan ini saja, WiFi menjadi tidak berfungsi, kemudian informasi Power Management juga tidak berfungsi, termasuk didalamnya informasi penggunaan baterai laptop. Dan herannya GUI untuk administrasi Users dan Group juga tidak bisa dijalankan. Lalu, di menu Quit Ubuntu, tidak muncul menu Hibernate dan Suspend. Hmm.. mungkin ada akibat-akibat lain. Tapi so far, aku belum nyoba-nyoba impact nya kemana aja. Udah panik duluan. Restart laptop pun bukan solusi. Hasilnya sama aja.
Ujung-ujungnya sih googling dengan kompie kantor untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Dbus dan bagaimana solusinya. Dari Wikipedia aku sih Dbus diartikan sebagai aplikasi yang memungkinkan suatu aplikasi berhubungan dengan aplikasi lain. Dbus sendiri berfungsi untuk menjembatani komunikasi antara aplikasi pada satu sesi desktop yang sama dan menjembatani suatu sesi desktop dengan sistem operasi. Hmm.. kalau melihat dari fungsinya sih sepertinya cukup signifikan. Dan jika servicenya mati, sepertinya akan muncul banyak masalah lain yang sejauh ini sih belum ketahuan.
Solusi dari masalah ini ternyata cukup simple:
- Jalankan service dbus dengan perintah
- Buka Service Settings dialog melalui System -> Administration -> Services lalu check service System Communication bus (dbus).
- Jalankan perintah berikut :
- Restart Ubuntu. Dan setelah itu seharusnya semua sistem berjalan dengan normal. :D
sudo /etc/init.d/dbus restart
sudo mv /etc/rc2.d/S50dbus /etc/rc2.d/S12dbus
Kurang ngerti juga buat apa perintah ini. Sepertinya sih agar service dbus ini dijalankan sebelum daemon HAL (Hardware Abstraction Layer) dijalankan. Karena urutan daemon HAL itu sendiri berada pada urutan ke 12 juga (
S12hal). CMIIW.Well, mungkin ada yang bisa menjelaskan sebenarnya apa sih Dbus itu dan apa yang terjadi ketika service ini dimatikan?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:56
0
comments
Saturday, December 29, 2007
Me-Restore Grub Ubuntu Setelah Instalasi Windows
Berhubung kemaren udah berhasil install Windows XP di notebook ku, MBR hard disknya ditimpa oleh instalasi Windowsnya. Jadinya, sekarang ketika booting, Grub nya tidak muncul. Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari internet, Grub bisa di restore menggunakan Live CD Ubuntu. Berikut ini adalah langkah-langkah yang aku lakukan untuk me-restore Grub:
- Jalankan terminal window dari Live CD
- Mount partisi root instalasi Ubuntu yang telah terpasang sebelumnya.
// Membuat mount point
$ sudo mkdir /mnt/root
// Mount partisi partisi root ke mount point
$ sudo mount -t ext3 /dev/sda5 /mnt/root
Jika tidak yakin partisi mana yang berisi root, bisa dijalankan perintah berikut untuk menampilkan semua partisi yang ada:$ sudo fdisk -l
Disk /dev/sda: 120.0 GB, 120034123776 bytes
255 heads, 63 sectors/track, 14593 cylinders
Units = cylinders of 16065 * 512 = 8225280 bytes
Disk identifier: 0x8d9aa1ca
Device Boot Start End Blocks Id System
/dev/sda1 1 192 1536000 27 Unknown
Partition 1 does not end on cylinder boundary.
/dev/sda2 * 192 5414 41943040 7 HPFS/NTFS
/dev/sda3 5414 10513 40960000 7 HPFS/NTFS
/dev/sda4 10514 14593 32772600 5 Extended
/dev/sda5 10514 12701 17575078+ 83 Linux
/dev/sda6 12702 13005 2441848+ 82 Linux swap / Solaris
/dev/sda7 13006 14593 12755578+ 83 Linux - Mount proc subsystem dan udev ke dalam /mnt/root
$ sudo mount -t proc none /mnt/root/proc
$ sudo mount -o bind /dev /mnt/root/dev - Mengubah root ke partisi root instalasi Ubuntu sebelumnya
$ sudo chroot /mnt/root /bin/bash - Jalankan grub
$ sudo grub - Kemudian akan muncul prompt grub>
Perintah-perintah selanjutnya akan dijalankan dalam prompt grub> - Mencari file /goot/grub/stage1
grub> find /boot/grub/stage1
Perintah ini akan mencari file /boot/grub/stage1 dan menampilkan partisi yang berisi file tersebut. Untuk kasusku keluaran dari perintah diatas adalah:(hd0,4) - Jalankan perintah berikut
grub> root (hd0,4)
untuk mengatur agar partisi tersebut di set sebagai root dan melakukan mounting ke partisi tersebut. Aku juga kurang ngerti perintah ini untuk apa :P. Tapi sepertinya sih untuk mengkonfigurasi partisi tersebut untuk bootloadernya.
Parameter di depan perintah root disesuaikan dengan hasil yang didapat dari langkah ke 7. - Install grub pada MBR di hard disk pertama:
grub> setup (hd0)
Jika berhasil, output dari perintah tersebut seperti berikut ini :Checking if "/boot/grub/stage1" exists... yes
Checking if "/boot/grub/stage2" exists... yes
Checking if "/boot/grub/e2fs_stage1_5" exists... yes
Running "embed /boot/grub/e2fs_stage1_5 (hd0)"... 17 sectors are embedded.
succeeded
Running "install /boot/grub/stage1 (hd0) (hd0)1+17 p (hd0,4)/boot/grub/stage2
/boot/grub/menu.lst"... succeeded
Done. - Keluar dari grub dengan perintah quit lalu restart.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
11:08
6
comments
Friday, December 21, 2007
FingerPrint Reader di Ubuntu Gutsy
Berhubung notebook yang aku gunakan memiliki FingerPrint Reader device, rasanya sayang aja kalau nggak bisa aku gunakan di Ubuntu. Lagipula aku sekarang udah jarang menggunakan Windows di notebook yang biasa aku gunakan. Cuma berhubung notebook Toshiba Portege M600 ku memang dirancang untuk Windows, jadi ada beberapa fitur-fiturnya yang kalau mau digunakan di Ubuntu mesti diutak-atik sendiri, salah satunya ya FingerPrint Reader itu.
Setelah mencoba googling, aku temukan package yang bernama ThinkFinger (dapat dilihat di https://wiki.ubuntu.com/ThinkFinger). Menurut sumber tersebut package tersebut dapat digunakan di hampir semua notebook Lenovo/Thinkpad, Dell, dan Toshiba. Beruntung notebook punyaku masuk daftar :P
Instalasi
Menggunakan Package
Versi terakhir package Thinkfinger ini adalah 0.3. Versi 0.3 ini dapat diunduh dengan menambahkan
deb http://ppa.launchpad.net/jldugger/ubuntu gutsy main restricted universe multiverse
deb-src http://ppa.launchpad.net/jldugger/ubuntu gutsy main restricted universe multiverse
di /etc/apt/sources.list lalu kemudian jalankan
sudo apt-get install thinkfinger-tools libpam-thinkfinger
untuk melakukan proses instalasi
Menggunakan Source
- Unduh source Thinkfinger dari http://sourceforge.net/project/showfiles.php?group_id=179573
- Install package-package yang diperlukan untuk proses kompilasi:
- Membuat direktori yang akan menyimpan informasi biometric user: sudo mkdir /etc/pam_thinkfinger
- Extract source thinkfinger, lalu jalankan perintah berikut pada direktori thinkfinger untuk melakukan proses kompilasi dan instalasi:
- Jika semuanya berjalan dengan lancar, akan ditemukan file pam_thinkfinger.so di /lib/security
sudo apt-get install build-essential libtool libusb-dev libpam0g-dev pkg-config
sudo ./configure --prefix=/usr --sysconfdir=/etc --with-securedir=/lib/security --with-birdir=/etc/pam_thinkfinger
sudo make
sudo make install
Menguji FingerPrint Reader
Untuk menguji apakah driver FingerPrint telah terinstall dengan sempurna, dapat digunakan aplikasi tf-tool. Perintah yang digunakan adalah tf-tool --acquire untuk melakukan scan sidik jari dan tf-tool --verify untuk menguji hasil scan yang diproses dari perintah tf-tool --acquire.
amphie@amphie:~$ sudo tf-tool --acquire
ThinkFinger 0.3 (http://thinkfinger.sourceforge.net/)
Copyright (C) 2006, 2007 Timo Hoenig
Initializing... done.
Please swipe your finger (successful swipes 3/3, failed swipes: 0)... done.
Storing data (/tmp/test.bir)... done.
amphie@amphie:~$ sudo tf-tool --verify
ThinkFinger 0.3 (http://thinkfinger.sourceforge.net/)
Copyright (C) 2006, 2007 Timo Hoenig
Initializing... done.
Please swipe your finger (successful swipes 1/1, failed swipes: 0)... done.
Result: Fingerprint does match.
Konfigurasi PAM (Pluggable Authentication Modules)
Agar dapat digunakan untuk proses autentikasi, maka perlu dilakukan konfigurasi pada PAM agar menggunakan Thinkfinger.
Modifikasi file /etc/pam.d/common-auth sehingga isinya seperti berikut: sudo tf-tool --add-user [nama-user]Menambahkan data sidik jari ke database dengan menggunakan perintah sudo tf-tool --verify-user [nama-user]Untuk melakukan verifikasi sidik jari dari database, dapat menggunakan perintah
auth required pam_unix.so try_first_pass nullok_secure
ThinkFinger 0.3 (http://thinkfinger.sourceforge.net/)
Copyright (C) 2006, 2007 Timo Hoenig
Initializing... done.
Please swipe your finger (successful swipes 3/3, failed swipes: 0)... done.
Storing data (/etc/pam_thinkfinger/amphie.bir)... done.
amphie@amphie:~$ sudo tf-tool --verify-user amphie
ThinkFinger 0.3 (http://thinkfinger.sourceforge.net/)
Copyright (C) 2006, 2007 Timo Hoenig
Initializing... done.
Please swipe your finger (successful swipes 1/1, failed swipes: 0)... done.
Result: Fingerprint does match.
Nah, sekarang FingerPrint Reader nya sudah dapat digunakan untuk login dari GDM atau ketika diminta password pada saat mengeksekusi perintah dengan menggunakan priveledge su seperti dibawah ini:
amphie@amphie:~$ sudo tf-tool --acquire
Password or swipe finger:
.
.
.
Beberapa masalah pada Tinkfinger-0.3
gksu/gksudo tidak berfungsi dengan benar. Ketika aplikasi dijalankan menggunakan priveledge su, seperti misalnya synaptic, tidak akan muncul prompt untuk memasukkan password di layar. Namun, pengguna harus melakukan autentikasi sidik jari agar aplikasi yang dijalankan bisa tampil di layar. Fingerprint tidak digunakan untuk meng-unlock screen yang telah di-lock. Untuk melakukan unlock pengguna harus mengetikkan password. Masalah ini terjadi karena direktori /etc/pam_thinkfinger tidak dapat diakses oleh pengguna selain root. Sementara itu aplikasi gnome-screensaver yang digunakan untuk me-lock screen tidak berjalan dengan priveledge root. Solusi dari masalah ini adalah sebagai berikut : Menambahkan group baru, misalnya fingerprint: Menyimpan baris-baris berikut ke dalam file /etc/udev/rules.d/60-thinkfinger.rules (perlu dilakukan reboot): Menambahkan user ke dalam group fingerprint: Membuat user menjadi owner file biometric nya (file [nama_user].bir): Memberikan akses readonly pada file biometric untuk user: Memberikan akses executeonly kepada setiap user untuk mengakses direktori /etc/pam_thinkfinger/:
Konon katanya masalah ini disebabkan karena gksu/gksudo 'tidak mengenali' prompt "Password or swipe finger:", tetapi hanya mengenali prompt "Password:".
Masalah ini dapat diselesaikan dengan menyunting file /pam/pam_thinkfinger.c dari source dan mengubah isi dari baris 181-184 menjadi seperti berikut:
if (pam_thinkfinger->isatty)
pam_prompt (pam_thinkfinger->pamh, PAM_PROMPT_ECHO_OFF, &resp, "Password or swipe your finger: ");
else
pam_prompt (pam_thinkfinger->pamh, PAM_PROMPT_ECHO_OFF, &resp, "Password: ");
Kemudian compile ulang source nya menggunakan cara yang telah dijelaskan diatas.
# SGS Thomson Microelectronics Fingerprint Reader
SYSFS{idVendor}=="0483", SYSFS{idProduct}=="2016", SYMLINK+="input/thinkfinger-%k", MODE="0660", GROUP="fingerprint"
# the also-needed uinput device
KERNEL=="uinput", MODE="0660", GROUP="fingerprint"
sudo gpasswd -a [nama_user] fingerprint
sudo chown [nama_user]:root /etc/pam_thinkfinger/[nama_user].bir
sudo chmod 400 /etc/pam_thinkfinger/[nama_user].bir
sudo chmod o+x /etc/pam_thinkfinger
Thursday, November 15, 2007
SOCKS Proxy dengan SSH
Berhubung di kantor ada akses ke server yang terhubung langsung ke internet (dalam artian nggak lewat proxy lagi), aku bisa membuat SOCKS Proxy dengan menggunakan ssh. Karena di kantor menggunakan proxy, jadi akses ke luar menggunakan port-port selain port 80 diblok. Dengan menggunakan SOCKS Proxy, lumayan lah jadi bisa akses port-port lain seperti FTP, IMAP, dan SMTP.
Dengan menggunakan perintah :
ssh -D
contoh : ssh -D 1080 user@10.1.1.1
maka setelah terkoneksi ke server 10.1.1.1 akan dibuat SOCKS Proxy di localhost:1080. Email Client seperti Thunderbird pun bisa digunakan dengan menggunakan Socks Proxy yang telah dibuat ini. Untuk keperluan browsing di Firefox, cuma perlu mengatur agar proxy yang digunakan adalah Socks Host dan mengisi alamatnya dengan localhost atau 127.0.0.1 di port 1080.
Sebagai informasi tambahan, karena menggunakan koneksi SSH yang notabene secure, jadi semua paket yang masuk dan keluar akan dienkripsi dulu. Lebih aman dan nggak akan bisa di snoop dengan mudah.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:00
3
comments
Tuesday, November 13, 2007
Mencoba DewaLinux
Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku mendengar istilah DewaLinux dari seorang teman. Karena penasaran, aku coba googling untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai DewaLinux. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, DewaLinux merupakan distro turunan dari Ubuntu yang dikembangkan oleh aktivis Open Source Jember. Distro ini memiliki tampilan yang mirip dengan Windows XP. Hmm... bagi pengguna Windows yang mau migrasi ke Linux, distro ini sepertinya layak untuk dicoba.
Sayangnya aku belum sempet untuk mencoba meng-install distro ini. Males juga karena mesti menyediakan partisi baru untuk DewaLinux ini. Selain itu, aku kan udah pake Ubuntu. Berhubung distro ini adalah turunan dari Ubuntu, jadinya kupikir ujung-ujungnya bedanya nggak akan jauh. Jadinya, aku cuma menjalankan distro ini menggunakan emulator VirtualBox dari Ubuntu ku. Sengsara juga karena Ubuntu yang berjalan di laptop yang aku gunakan berjalan dengan memori yang pas-pasan, 512 MB. Dan berbagi memori dengan VirtualBox ternyata sangat menyita resource. Syukur juga bisa mengambil beberapa screenshot dari live CD nya. Akhirnya, karena nggak sanggup dengan lambatnya, aku nggak install distro ini. Cukup lah menjalankan live CD nya aja.
Berikut ini adalah beberapa screenshot yang diambil dalam VirtualBox:


Ternyata DewaLinux menggunakan XFCE sebagai desktop environmentnya. Maklum sih aku baru pertama kali ini pakai XFCE, jadinya nggak terlalu ngeh dengan tampilan desktopnya. Memang sih aku akui icon-icon dan theme nya mirip sekali dengan Windows XP. Sayangnya icon-icon bawaan distro ini menurutku terkesan nggak serasi dengan theme Windows XP nya. Lagipula, aku udah terlanjur suka ama GNOME dengan theme Gartoon nya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
21:22
3
comments
Saturday, November 03, 2007
Mudahnya konek ke internet menggunakan Ubuntu
Semenjak install Ubuntu Gutsy Gibbon di laptop, aku nggak pernah mencoba untuk konek ke internet selain menggunakan WiFi atau kabel LAN di kantor. Di rumah, sekarang udah rada-rada jarang untuk online. Sepulang kerja maunya cepet-cepet tidur. Biar bisa bangun lebih pagi keesokan harinya.
Kebetulan hari ini aku pulang ke Ciamis. Dan ketika mau coba konek ke internet lewat Ubuntu, aku baru sadar kalo Ubuntu nya sudah aku upgrade. Dan belum sempet install package macem-macem lagi. Biasanya sih dulu konek ke internet menggunakan media bluetooth. Berhubung bluetoothnya lupa kubawa, jadinya yang memungkinkan cuma melalui kabel data. Untungnya kabel data N70 ku selalu kubawa.
Untungnya konfigurasi untuk konek ke internetnya nggak ribet. Tinggal mengedit file /etc/wvdial.conf yang isinya kira-kira seperti ini:[Dialer Defaults]
modem = /dev/ttyACM0
baud = 460800
init1 = AT
init2 = AT+CGDCONT=1, "IP", "flash"
phone = *99#
Username = ''
Password = ''
Stuppid Mode = yes
Berhubung aku pakai Telkomsel Flash, maka settingan init2 nya seperti diatas. Belum aku coba juga sih menggunakan operator dan handset tipe lain. Seharusnya nggak jauh beda.
Semakin seneng aja pake Ubuntu. Ga perlu install macem-macem udah bisa konek ke internet dengan mudah. Berbeda dengan menggunakan Windows. Dimana aku mesti install dan menjalankan Nokia PC Suite terlebih dahulu untuk konek ke internet. Mana aplikasinya lumayan makan memori juga lagi. I Love Ubuntu... ;)
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
23:33
2
comments
Saturday, October 20, 2007
Ubuntu 7.10.. bagus.. tapi...
Seneng juga akhirnya bisa mengunduh dan meng-install Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) yang baru release tanggal 18 kemarin. Walaupun cuma bisa dapet yang versi CD nya, karena versi isi DVD nya entah kenapa aksesnya lambat banget ketika mau diunduh. Akhirnya ya... terima sajalah versi CD nya.
Kesan pertama sih sepertinya nggak beda jauh-jauh amat sama versi yang sebelumnya. Cuma sepertinya lebih reliable dan lebih bagus. So far belum sempet mencoba macem-macem karena memang baru sempet install. Yang kelihatan jelas pertama kali adalah adanya dua applet baru di panel bagian atas. Kedua applet tersebut adalah fast user switching applet dan deskbar applet.
Fast user switching memungkinkan session antar user yang berbeda. Kalo pengguna komputernya cuma satu sih nggak ngefek sepertinya.
Sementara deskbar applet memungkinkan akses cepat ke suatu kata kunci yang diberikan. Bisa berupa menjalankan aplikasi sesuai dengan kata kunci yang dicari, mencari kata kunci tersebut di internet menggunakan berbagai macam search engine, menampilkan file atau folder yang sesuai dengan pencarian, dan lain sebagainya.
Hmm.. walaupun lumayan bagus, penggunaan memorynya pun cukup boros. Jika diurutkan berdasarkan penggunaan memory, masih dibawah firefox lah :P..
Fitur-fitur baru Ubuntu 7.10 secara lengkap dapat dilihat di http://www.ubuntu.com/getubuntu/releasenotes/710tour
Yang bikin sebel adalah akses ke repositorynya yang lambatnya minta ampun. Padahal cuma mau update repository nya dengan perintah apt-get update aja lamanya minta ampun. Terakhir, mencoba dari kambing juga sama aja, walaupun agak mendingan sih. Seharian belum kelar. Mungkin karena baru rilis, jadinya banyak yang akses. Aaargh... updatenya aja nggak kelar-kelar apalagi install package nya :((
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:10
4
comments
Tuesday, July 10, 2007
Telkomsel Flash pada Ubuntu
Akhirnya.. setelah melakukan browsing sana-sini, beberapa hari yang lalu kutemukan juga cara untuk membangun koneksi ke internet menggunakan bluetooth pada N70 punyaku di Ubuntu. Sumber artikel yang aku dapat dapat dilihat disini. Agak telat juga siy dapet informasinya. Harusnya bisa dari dulu. Cuma karena dulu masih males untuk mencari caranya, ya baru nemunya sekarang. Lumayan lah, akhirnya aku bisa juga menginstall package-package baru melalui Telkomsel Flash ini, tidak perlu tergantung pada DVD Repository Ubuntu lagi, yang terkadang package-package nya nggak update.
Ternyata caranya agak-agak rumit. Semuanya harus dilakukan melalui shell prompt. Yang diperlukan adalah handset yang memiliki fasilitas bluetooth (dan support untuk Dial Up Networking juga tentunya) dan bluetooth USB untuk menghubungkan komputer dengan handset.
Berikut ini adalah langkah-langkahnya:
1. Install package Bluetooth dan Dialup. Jika sudah menginstall package ubuntu-desktop, maka perintah di bawah ini dapat dilewati. Sebaliknya, jalankan perintah berikut ini untuk menginstal package bluez-utils, bluez-pin dan ppp.
sudo apt-get install bluez-utils bluez-pin ppp wvdial
2. Pastikan bluetooth USBnya sudah terpasang pada komputer. Biasanya sih jika bluetooth USB nya sudah terpasang, akan muncul icon Bluetooth pada panel di GNOME desktop nya. Atau dapat pula dijalankan perintah hcitool dev untuk memastikan apakah bluetooth USB nya sudah terpasang dengan benar. Pada contoh kali ini hasil yang ditampilkan adalah:
Devices:
hci0 00:10:60:AB:06:85
3. Pastikan service bluetooth telah aktif. Perintah untuk mengaktifkan service bluetooth adalah :
sudo /etc/init.d/bluetooth start
4. Nyalakan bluetooth pada handset.
5. Scan alamat MAC address dari handset. Perintah yang dijalankan adalah hcitool scan:
Scanning ...Alamat MAC N70 punyaku adalah 00:18:0F:C1:3D:B0 dengan nama Amaya II.
00:18:0F:C1:3D:B0 Amaya II
6. Mencari channel untuk Dial Up Networking (DUN) yang ada pada handset dengan menggunakan sdptool search DUN:
Inquiring ...Pada contoh disini, layanan untuk DUN ada pada channel 3.
Searching for DUN on 00:18:0F:C1:3D:B0 ...
Service Name: Dial-Up Networking
Service RecHandle: 0x1000f
Service Class ID List:
"Dialup Networking" (0x1103)
Protocol Descriptor List:
"L2CAP" (0x0100)
"RFCOMM" (0x0003)
Channel: 3
Language Base Attr List:
code_ISO639: 0x454e
encoding: 0x6a
base_offset: 0x100
Profile Descriptor List:
"Dialup Networking" (0x1103)
Version: 0x0100
7. Melakukan binding handset bluetooth pada handset menggunakan rfcomm. Format perintahnya adalah rfcomm bind [no device bluetooth] [alamat MAC bluetoth pada handset] [channel]
sudo rfcomm bind 0 00:18:0F:C1:3D:B0 38. Menyunting file konfigurasi wvdial yang terletak pada /etc/wvdial.conf. Ubah isinya menjadi seperti berikut:
[Dialer Defaults]
modem = /dev/rfcomm0
baud = 460800
init1 = AT
init2 = AT+CGDCONT=1, "IP", "flash"
phone = *99#
Username = ''
Password = ''
Stuppid Mode = yes
Field init1 dan init2 merupakan konfigurasi ekstra yang akan dipanggil ketika melakukan inisialisasi. Nilainya bisa berbeda-beda untuk masing-masing operator. Pada field init2, disertakan pula APN yang digunakan, yaitu flash. Berhubung pada Telkomsel Flash tidak diperlukan username dan password, maka nilainya dikosongkan.
9. Yang terakhir adalah membuka koneksi ke internet dengan menggunakan perintah wvdial.
--> WvDial: Internet dialer version 1.56
--> Cannot get information for serial port.
--> Initializing modem.
--> Sending: AT
AT
OK
--> Sending: AT+CGDCONT=1, "IP", "flash"
AT+CGDCONT=1, "IP", "flash"
OK
--> Modem initialized.
--> Sending: ATDT*99#
--> Waiting for carrier.
ATDT*99#
CONNECT
~[7f]}#@!}!} } }2}#}$@#}!}$}%\}"}&} }*} } g}%~
--> Carrier detected. Waiting for prompt.
~[7f]}#@!}!} } }2}#}$@#}!}$}%\}"}&} }*} } g}%~
--> PPP negotiation detected.
--> Starting pppd at Fri Jul 27 00:11:17 2007
--> Pid of pppd: 10778
--> Using interface ppp0
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> local IP address 221.132.240.22
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> remote IP address 10.6.6.6
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> primary DNS address 202.3.208.10
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
--> secondary DNS address 202.3.210.10
--> pppd: �[08][06][08]0[0f][06][08]
Nah, sekarang Ubuntu sudah terkoneksi ke internet.
Tuesday, June 19, 2007
Secure SHell FileSystem
Berhubung di Ubuntu aku tidak menemukan aplikasi yang cukup user friendly semacam WinSCP di Windows, maka terpaksa deh mencari alternatif lain yang dapat memudahkanku dalam melakukan transfer file dari local ke remote ataupun sebaliknya. Di Ubuntu setahuku package yang cukup interaktif adalah secpanel, sejenis WinSCP. Cuma tampilannya terkesan kuno dan cara pakainya juga rada-rada ribet. Masa setiap mau transfer file ditanyain dulu passwordnya. Entahlah jika aplikasi tersebut butuh konfigurasi lebih lanjut lagi.
Setelah melakukan pencarian, aku menemukan package yang bernama sshfs yang merupakan singkatan dari Secure SHell FileSystem. Aplikasi sshfs ini memungkinkan adanya sebuah file system yang beroperasi dengan file-file yang ada pada remote komputer menggunakan SSH login. Dengan kata lain, aku dapat melakukan mount folder remote kedalam folder lokal. Malah lebih praktis jadinya. Aku nggak perlu repot-repot menyalin file dari local ke remote ataupun sebaliknya. Tinggal buka filenya, edit, lalu save seperti halnya menyunting file-file yang berada di local.
Untuk melakukan instalasi package sshfs di Ubuntu, caranya sangat mudah. Aku mengikuti panduan yang aku dapat dari Ubuntu Guide. Kira-kira seperti inilah langkah-langkahnya:
Install package sshfs
sudo apt-get install sshfsMenambahkan driver kernel untuk FUSE yang memungkinkan pengguna Linux untuk membuat file system sendiri tanpa harus menulis kode kernel.
sudo modprobe fuse
Menambahkan username ke dalam group fuse, dalam kasus ini username yang aku gunakan adalah amphie
sudo adduser amphie fuseMelakukan logout dan login ulang agar perubahan dapat terjadi
Mengubah kepemilikan /dev/fuse menjadi milik group fuse
sudo chgrp fuse /dev/fuse
Membuat mountpoint (lokasi mount remote folder di local folder), dalam kasus ini aku membuat mountpoint di folder remote208 di folder /home/amphie
mkdir ~/remote208
Dan yang terakhir adalah melakukan mount remote folder ke mountpoint (remote208). Pada contoh dibawah ini, aku melakukan mount remote folder /home/ekopre yang berada pada 10.1.89.208 ke dalam /home/amphie/remote208 yang berada di local.
sudo sshfs 10.1.89.208:/home/ekopre ~/remote208 -o allow_other
Untuk melakukan proses unmount, perintahnya adalah:
fusermount -u ~/remote208
Sejauh ini, aplikasi sshfs ini aku gunakan untuk menyunting file-file PHP yang berada di remote. Lumayan juga, jadi lebih praktis dan lebih menghemat waktu. Tetapi anehnya Ubuntu punyaku seringkali nge hang ketika file-file remote yang aku sunting menggunakan editor Screem ataupun BlueFish. Ketika aku menggunakan Komodo Edit, semuanya berjalan dengan normal. Nggak tahu deh apakah ini adalah bug atau memang ada konflik di package-pakcage yang sudah kuinstall di Ubuntu punyaku.
Sunday, June 17, 2007
Editor apa yang bagus di Ubuntu???
Setelah merasa cukup jenuh menggunakan Windows, beberapa waktu lalu aku mencoba untuk menggunakan Linux kembali. Sudah lama Ubuntu yang sudah ku upgrade dari 6.10 ke 7.04 nggak aku pake lagi. Sayang aja kalo udah cape-cape di install kemudian nggak dipake lagi. Yah, itung-itung sekalian download update-update terbaru lah.
Berhubung minggu ini banyak sekali kerjaan yang berhubungan dengan kodingan, aplikasi Ubuntu yang aku gunakan tak jauh dari text editor untuk HTML dan PHP. Aku mengalami masalah dalam hal pemilihan text editor di Ubuntu. Sejauh ini, aku belum begitu terbiasa mengembangkan suatu aplikasi menggunakan Ubuntu. Paling banter yang aku pakai cuma text editor biasa semacam gedit. Setelah nanya-nanya temenku tentang editor yang paling oke, aku dianjurkan untuk menggunakan Bluefish. Editornya lumayan bagus. Simpel dan nggak aneh-aneh. Ada syntax highlightingnya yang cukup membantu. Namun entah kenapa justru fitur ini yang sering membuat masalah. Terkadang ketika sedang asyik-asyik coding, fitur ini jadi ngaco. Separuh file ada syntax highlightingnya sementara separuh file yang lain cuma plain text saja. Duh, kode-kode PHP nya jadi nggak enak dipandang deh.
Pilihan lain adalah Screem, gPhpedit, Quanta Plus, emacs, dan vim. Emacs dan vim konon katanya bagus. Tetapi learning curve nya agak-agak nggak bagus. Setelah aku coba juga ternyata sepertinya tampilan editor-editor ini kurang user friendly.
Menurut info yang aku dapat dari suatu forum, editor yang paling bagus adalah Screem. Ternyata editornya oke juga. Ada fitur syntax highlighting dan code foldingnya. Tetapi menurutku masih ada yang kurang. Di dalam IDE nya, tidak ada panel untuk browsing file. Padahal fitur ini mempercepat dan memudahkanku untuk membuka file-file lain yang masih berada dalam satu direktori. Terlebih lagi sepertinya Screem lebih cocok digunakan sebagai editor HTML, bukan PHP.
Akhirnya aku mencoba Quanta Plus. Iseng-iseng karena aplikasinya sudah terinstall di Ubuntu punyaku. Kesan pertamaku menggunakan editor ini adalah tampilannya yang cukup kompleks dan memiliki banyak menu-menu di menubarnya, yang menunjukkan bahwa editor ini memiliki fitur-fitur yang lumayan banyak. Semua fitur-fitur seperti syntax highlighting, code folding, panel untuk browsing file, list fungsi-fungsi PHP yang sudah aku buat, hingga fitur code completion, semuanya ada disini. Menurutku, jika dibandingkan dengan Screem, Quanta masih unggul. Sepertinya sih karena Quanta tidak seperti Screem yang aku rasa hanya spesifik untuk menangani file-file HTML saja. Sayangnya menurutku syntax highlighting pada Quanta tidak sebaik di Screem. Hanya masalah pemilihan font dan warna saja siy. Cuma males aja mesti mengubah settingan-settingan default yang sudah tersedia disitu. :P
Selain Quanta Plus, aku juga menemukan editor lain, yaitu Komodo Edit. Sayangnya editor ini walaupun free tetapi tidak open source dan tidak ada pada package Ubuntu. Selain untuk Linux, ada juga versi untuk Windowsnya. Namun untuk versi Windows, aku lebih suka menggunakan Notepad++. Versi Komodo Edit yang aku gunakan adalah versi 4.1. Tampilan Komodo Edit jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Quanta Plus. Namun jangan salah, walaupun lebih sederhana, fitur-fiturnya lumayan OK. Fitur syntax highlighting, code folding, dan auto complete ada disini. Syntax highlightingnya lebih enak dilihat dibandingkan dengan Quanta Plus. Selain itu fitur auto complete untuk fungsi-fungsi built in PHP pada editor ini lebih user friendly dibandingkan dengan Quanta. Jika pada Quanta untuk mengaktifkan auto complete harus menekan tombol Ctrl+Space, maka pada Komodo Edit, fitur tersebut akan aktif dengan sendirinya begitu kita mengetikkan beberapa karakter dari nama fungsi yang akan diketik. Bahkan fungsi auto completenya tidak hanya berlaku untuk fungsi-fungsi built in PHP saja, namun berlaku juga untuk nama variabel dan nama fungsi lokal yang ada di dalam file yang sedang diedit. Selain itu, terdapat fitur lain yang tidak dimiliki oleh Quanta, yaitu fitur IntelliSense. Sebagai contohnya, misalkan ada potongan kode seperti dibawah ini:
Lalu diluar kelas tersebut kita mengetikkan
class Test
{
var $var1;
function Function1($var1, $var2)
{
. . .
}
function Function2()
{
. . .
}
}
$test = new Test();
$test->Function2();
maka ketika kita mengetikkan
$test-> akan muncul daftar semua fungsi dan variabel yang dimiliki oleh class Test. Sejauh ini aku belum menemukan editor gratisan untuk PHP yang memiliki fitur ini. Entah apakah aku yang terlalu ketinggalan jaman atau karena aku baru nemu aja. Dulu banget aku percaya bahwa IntelliSense itu akan sangat sulit diterapkan di PHP. Karena semua variabel di PHP dianggap sebagai variant atau apalah (nggak tahu istilahnya apa). Tetapi ternyata anggapan itu menjadi hilang sekarang. Ternyata ada juga editor yang dapat mem-parsing tipe variabel untuk PHP disaat design-time. Walaupun aku rasa fitur ini hanya berlaku jika secara eksplisit statement:$test = new Test();masih berada dalam satu scope dengan statement
$test->Function2();Berbicara tentang fitur, sayangnya Komodo Edit tidak memiliki panel untuk melakukan browsing file seperti di Quanta. Tetapi editor ini memiliki toolbar yang dapat menampilkan file-file yang masih berada dalam satu folder dengan file yang sedang diedit melalui sebuah combo box. Untuk membuka file di folder lain secara cepat, ada pilihan untuk memilih folder dimana nanti akan ditampilkan file-file yang berada dalam folder tersebut.
Hmm... begitu banyak pilihan dalam memilih editor mana yang paling cocok. Menurutku sih Quanta atau Komodo Edit cukup mencukupi. Entah jika ada editor lain yang lebih bagus. Ada yang tahu editor lain yang lebih baik dari yang telah aku sebutkan diatas???
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:43
10
comments
Labels: Artikel, IT, Kerjaan, Keseharian, Ubuntu
