Minggu ini benar-benar menjadi minggu yang melelahkan. Dimulai dari awal minggu ketika ada acara dari kantor selama dua hari berturut-turut yang menyebabkan aku kurang tidur + overdosis kopi. Biasanya, dalam keadaan normal, aku jarang-jarang minum kopi. Kalopun minum, dibatasi hanya secangkir dalam satu hari. Konsumsi melebihi 3 cangkir sudah aku anggap sebagai overdosis. Overdosis kopi menyebabkan pikiran menjadi tak jernih dan nggak bisa fokus. Udah tahu bgini, masih aja nambah terus. Kopi memang enak, tapi tak menyehatkan.
Di tengah minggu, tiba-tiba muncul kerjaan yang berhubungan dengan iPhone yang akan di-launch hari Jumat lalu. Yang paling menyebalkan adalah requestnya biasanya suka mendadak dan gampang berubah. Benar-benar bikin kesal. Seolah memberikan kesan bagian yang meminta request nggak konsisten dan mempermainkan. Dan hari Kamis lalu menjadi hari yang paling parah dalam seminggu ini. Pulang dari kantor jam 11 malem barengan ama temen-temen lain yang satu tim juga. Malam itu, aku mendengar gerutuan, caci maki, dan kekesalan yang ditujukan kepada proyek ini. Well.. It's the dark side of iPhone. Bikin panik tiap orang yang terlibat didalamnya hanya gara-gara orang-orang yang kurasa terlalu paranoid akan proyek ini.
Hari Jumatnya, aku sudah sangat lelah. Kerjaan lain sudah menumpuk, pikiran udah jelas nggak jernih gara-gara efek kopi di awal minggu dan efek negatif iPhone di hari sebelumnya. Emosiku nggak stabil. Pikiran nggak tenang. Pola makan menjadi terganggu. Selera makanku agak-agak bermasalah beberapa hari terakhir ini. Pada hari Jumat itu malah aku rasakan aku mengalami 'trashing' -> istilah yang aku dapatkan dari mata kuliah Sistem Operasi *silakan googling untuk mendapatkan penjelasan*. Yah, istilah kasarnya mungkin bisa disamakan dengan idle atau bengong.
Hari ini, aku ada acara keluarga. Dan memakan waktu seharian. Benar-benar membuatku merasa begitu lelah di akhir minggu ini. Tadinya kupikir hanya sampai setengah hari, sehingga setengah harinya bisa kugunakan untuk istirahat. Ternyata aku salah memperhitungkan waktu. Lebih parahnya lagi, besok aku ada rencana lainnya yang kurasa akan memakan waktu seharian juga. Ah, kapan bisa istirahatnya? Should I take one more cup of hot coffee to throw away all of this matter for a while??? Damn, for this question, I can't even make a decision. Sigh..
Saturday, March 21, 2009
Lelah...
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:26
3
comments
Labels: Iseng, Kerjaan, Keseharian
Thursday, February 12, 2009
4 Jam Bersama Busway
Hari minggu lalu, setelah pulang dari acara pengajian salah satu mesjid di Menteng, iseng-iseng aku ingin membaca buku di sambil menggunakan jasa Busway. Tadinya sih maunya cuma rute bolak-balik koridor I, tapi tentu saja nggak dari ujung ke ujung. Kalo dari ujung ke ujung, yang ada mesti keluar dari halte, jalan lagi, dan bayar lagi deh.
Start dimulai sekitar jam 10 pagi dari halte Tosari. Aku mengambil rute ke arah blok M. Sambil berdiri, aku mengeluarkan buku yang sudah kusiapkan dari dalam tas, yaitu Misteri Soliter yang ditulis oleh Jostein Gaarder, dan mulai membacanya. Agak susah juga membaca dengan satu tangan sementara tangan lain mesti memegang sesuatu karena nggak dapet duduk. Ketika sudah sampai halte Mesjid Agung Al Azhar, aku turun dan mengambil rute ke arah sebaliknya. Kali ini Busway nya lumayan kosong karena haltenya adalah halte kedua setelah halte Blok M. Cukup nyaman juga membaca buku di dalam Busway. Asal nggak terlalu fokus aja, bisa-bisa halte tujuan malah terlewat.
Akhirnya aku turun di halte Glodok, satu halte sebelum halte terakhir: Stasiun Kota, dan kembali naik Busway ke arah Blok M lagi. Tadinya aku berencana untuk turun di halte Bendungan Hilir, lalu ke Plaza Semanggi. Tapi berhubung diluar sana agak-agak gerimis dan rasanya masih pengen baca buku, aku putuskan untuk mencoba jalan-jalan ke koridor lain. Pilihan aku putuskan untuk turun di halte Dukuh Atas dan beralih ke koridor IV (Dukuh Atas Pulogadung). Nyaman, dan tentu saja bisa duduk. Halte pertama gituh. Ternyata perjalanan dari Dukuh Atas ke Pulogadung tak memerlukan waktu terlalu lama. Nggak kebayang kalo jalan-jalannya pas hari kerja dan jam pulang kantor. Bisa teler di jalan deh.
Sesampainya di halte Pulogadung, kupikir bisa langsung pindah ke koridor II (Pulogadung - Harmoni). Ternyata mesti keluar dulu dan bayar lagi deh Rp. 3.500. Nggak apa-apa, itung-itung pengalaman. Beruntung antriannya nggak terlalu panjang. Yang penting bisa dapet duduk lah. Dari sini aku meneruskan perjalanan melalui koridor II menuju halte Harmoni.
Sesampainya di Harmoni, pikiranku adalah kembali ke koridor I dan pergi ke tempat tujuanku semula: Plaza Semanggi. Tapi melihat antrian yang ke arah Blok M yang sudah begitu panjang membuatku jadi agak-agak malas. Kebetulan melihat antrian yang ke arah Kalideres (koridor III) kosong melompong. Tak ada salahnya juga kupikir untuk iseng-iseng sekalian jalan-jalan. Toh halaman buku yang aku baca juga masih banyak.
Dan dilanjutkanlah lagi perjalanan nggak jelas ke arah Kalideres. Kali ini aku turun di halte Pesakih, dan kembali lagi ke Harmoni. Waktu tempuhnya pulang pergi mungkin nyaris satu jam. Rada-rada jauh soalnya. Yang penting bisa sambil baca buku walaupun nggak dapet tempat duduk.
Dari Harmoni, aku memutuskan untuk langsung pindah koridor ke koridor I, mengingat waktu sudah menunjukkan jam setengah 2 lewat dan aku belum sholat pula. Kebetulan antriannya sekarang lebih pendek, jadi nunggunya nggak terlalu lama. Sekitar 20 menit kemudian aku sampai di halte Bendungan Hilir dan berjalan ke tujuan akhirku: Plaza Semanggi.
Perjalanan yang cukup panjang. Hampir 4 jam berurusan dengan Busway. Lumayan itung-itung mencoba untuk menikmati isi buku dengan cara yang baru. Hanya dengan 7.000 rupiah dah bisa nyobain busway dari koridor I hingga IV. Sesekali memang perlu rasanya melakukan hal-hal yang tak biasa seperti ini. Mungkin nanti kalo koridor VIII sudah ibuka bisa lebih seru lagi. Menurut informasi, koridor VIII Lebak Bulus - Harmoni panjang jalurnya sekitar 20 an km. Pulang pergi kalo nggak macet sekitar 2 jam.
Secara garis besar, inilah rute yang aku ambil kemarin:
Tosari -> Mesjid Agung Al Azhar -> Glodok -> Dukuh Atas -> Pulogadung -> Harmoni -> Pesakih -> Harmoni -> Bendungan Hilir. Kesimpulannya: membaca buku dengan cara ini lumayan menyenangkan. Daripada mesti nyari tempat untuk ngadem dan diem disana sampe baca bukunya selesai. Lain kali bisa dicoba seharian naik Busway dan mencoba semua koridor yang ada.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
10:55
3
comments
Labels: Iseng, Keseharian
Friday, January 30, 2009
Apalah arti cuti 3 hari??
Cuti selama 3 hari yang aku ambil dari hari Selasa hingga Kamis lalu memberikan beberapa hal yang bermanfaat dan menyenangkan, dan priceless tentunya. Jika aku rangkum, mungkin inilah beberapa hal tersebut:
- Yang pertama tentu saja untuk rileks dan menyegarkan kembali pikiranku. Namanya juga cuti, harus dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat otak beristirahat. Karena rileks, ini memberiku banyak sekali waktu untuk berpikir dan menyusun kembali rencana-rencanaku di tahun 2009 ini. Intinya sih memungkinkanku untuk memperoleh inspirasi-inspirasi yang tidak akan aku dapat ketika sudah tenggelam dalam pekerjaan.
- Mengunjungi keluarga dan bersilaturahmi. Betapa senangnya bisa bertemu dengan keluarga jauhku yang jarang-jarang bisa aku temui, paling banter setahun 2 atau 3 kali.
- Wisata Kuliner. Ini adalah hal yang tak boleh dilewatkan ketika aku pulang kampung. Sayangnya aktivitas ini kurang optimal karena seperti Jakarta, di kampungku sedang musim hujan. Mana ujannya lebih parah daripada di Jakarta. Kalo udah ujan, bisa sampe malem nggak berhenti.
- Hunting foto. Berhubung sedang musim hujan, jadi nggak bisa kemana-mana. Foto-foto kemarin yang aku anggap lumayan bagus juga cuma sedikit :(. Tapi nggak apa-apa lah. Lagipula objek yang aku cari juga cuma serangga, yang harusnya ada dimana-mana tapi susah nge-capturenya.
- Beruntung ketika cuti, sedang ada masalah di kantor. Walaupun ditelepon dari sana-sini, tinggal bilang: "Saya sedang cuti", beres deh masalahnya. Jadi berasa banget ngambil cutinya. Beda kalo cuti akhir tahun atau pas lagi lebaran, yang biasanya nggak ada masalah. Emang cuti itu harusnya diambil pas lagi banyak kerjaan, baru kerasa.
Namun ada juga beberapa hal yang kurang menyenangkan dan aku sesali dari liburan kemarin. Beberapa diantaranya adalah:
- Liburan terpotong sehari, gara-gara mesen tiketnya nggak bener :(( (Walaupun sehari, tetapi berharga banget)
- Di kampung tempat kelahiranku, lagi musim hujan. Keputusan yang salah ngambil cuti pas lagi musim hujan. Jadi nggak bisa kemana-mana, kebanyakan cuma tinggal di rumah aja. Untuk udah menyiapkan plan B: bawa buku bacaan.
- Begitu masuk kantor, langsung diuber-uber kerjaan, mana di perusahaanku sedang dilakukan reorganisasi. Membuat pekerjaan menjadi agak-agak nggak jelas. Selain itu, walaupun sebenarnya pekerjaan yang ke-pending gara-gara cuti bisa dibilang nggak ada, tetep aja pekerjaanku di hari pertama setelah cuti berasa banget, belum lagi udah ditungguin oleh orang audit yang kayaknya nggak bosan untuk mengganggu. Jadi menyesal kenapa cutinya nggak sampai hari Jumat aja sekalian
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
23:58
2
comments
Labels: Keseharian
Sunday, January 25, 2009
Betapa Pelupanya Aku
Kisah ini dimulai dari rencanaku untuk pulang kampung minggu ini. Berangkat hari Jumat 23 Januari dari Jakarta dan pulang ke Jakarta hari Kamis 29 Januari. Tiket kereta PP sudah aku pesan sejak tahun lalu, sebelum libur tahun baru tiba.
Pada hari kamis kemarin, aku membuka kembali amplop yang berisi tiket kereta tersebut. Memastikan tanggal dan keberangkatan dan kepulanganku. Setelah melihat dengan setengah tak percaya, ternyata jadwal keberangkatan yang tertera di tiket adalah tanggal 24, bukan tanggal 23 seperti yang telah lama ini aku kira.
Aaaargh... #@?!&% Kaget dan kecewa aja nih. Duh, harusnya jatahku pulang kampung adalah 5 hari, sekarang malah berkurang jadi 4 hari. Entah salahnya dimana. Rasa-rasanya ketika itu aku pesen berangkatnya tanggal 23. Tapi udah jelas-jelas di invoice nya tertera tanggal 24. Bahkan aku nggak inget waktu itu apakah aku pesen tanggal 23 atau 24. Parah bener yak..
Aku masih bersyukur pada hari kamis itu aku memastikan kembali tanggal keberangkatannya. Tak terbayangkan jika fakta ini baru aku ketahui setelah berada di Gambir, terlebih lagi pas sudah masuk ke keretanya. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan ama orang-orang nih.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
05:29
2
comments
Labels: Keseharian
Thursday, January 22, 2009
Dateng Siang, Pulang Sore, Tapi Kerjaan Beres
Beberapa hari terakhir ini rasa-rasanya males banget datang ke kantor pagi-pagi. Selain karena pagi-pagi biasanya kantor masih sepi banget, ditambah sekarang musim hujan, tambah males deh. Biasanya kantor mulai ramai jam 9 keatas. Kalaupun ada yang dateng pagi-pagi, paling belum ngurusin kerjaan: browsing, sarapan, ngopi, dan baca koran adalah kegiatan yang sudah lazim dilakukan sebelum jam 9.
Kondisi ini diperparah ketika makan siang. Dalam 3 hari terakhir ini ada ajakan untuk makan siang di luar, dimana kembali lagi ke kantor sekitar jam 2 s/d setengah 3. Yang lebih parah lagi adalah dalam 3 hari ini kerjaanku sedang menumpuk dan lumayan banyak. Entah kenapa aja, walaupun menumpuk, aku masih bisa merasa santai dengan waktu yang terbuang.
Setelah aku sakit tipes ketika awal tahun kemarin, aku selalu berusaha untuk pulang tepat waktu, jam 5 udah harus pulang untuk mengejar kereta ekspress yang berangkat dari Stasiun Sudirman jam 17:30, atau paling telat pulang jam 6 kurang. Dan herannya, dengan kondisi ini, justru waktu yang aku miliki benar-benar menjadi efektif walaupun aku merasa sedikit cemas dan panik karena mesti ngejar deadline kerjaan dan deadline jadwal kereta. Dalam 3 hari ini terbukti semua pekerjaanku bisa beres dan aku bisa pulang tepat waktu. Dengan catatan selama bekerja, nggak ada jeda untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaan, seperti browsing, chatting, baca koran, dan lain sebagainya.
Kesimpulannya: Untuk menyelesaikan pekerjaanku dalam sehari, waktu yang dibutuhkan sekitar 5 jam. Sementara jam kerja adalah 8 jam. 3 jam sisanya sebenernya nggak efisien. Karena biasanya ketika kerja 8 jam, banyak waktu yang terbuang juga untuk browsing, chatting, dan segelintir aktivitas-aktivitas lainnya diluar pekerjaan. Untung emang kultur departemenku fleksibel, yang penting kerjaan kelar.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:13
4
comments
Labels: Iseng, Kerjaan, Keseharian
Wednesday, December 17, 2008
Kalap: Betapa Cepat Uang Menguap :(
Well, hari Selasa kemarin aku lagi kalap. Banyak hal-hal yang tidak kurencanakan sebelumnya terjadi begitu saja, yang dalam kasus ini tentunya berkaitan dengan pengeluaran. Salah satu hal yang rada-rada aneh adalah membeli buku di 4 toko buku yang berbeda. Dan ini tentunya diluar rencanaku.
Kejadiannya dimulai dari hari Kamis minggu kemarin ketika aku memesan beberapa buku dari www.inibuku.com. Buku-buku tersebut baru dikirimkan hari Selasa kemarin dengan rincian sebagai berikut:
- La Tahzan (Walaupun buku ini udah lama banget jadi bestseller dan direkomendasikan, baru sekarang-sekarang ini muncul niat untuk membelinya :P)
- Gunung Kelima - Paulo Coelho
- Sebelas Menit - Paulo Coelho
Dengan menggunakan ojek, selepas jam kerja, aku langsung ke JPC Kemang. Tadinya sih mau beli memory card SD Sandisk yang Ultra II. Karena ternyata kecepatan baca tulis nya nggak terlalu berpengaruh ke kameraku. Eh, ternyata stoknya lagi kosong, dan yang ada adalah San Disk Extreme III, yang harganya berbeda hampir 200 ribu. Akhirnya kubeli juga tuh barangnya seharga sekitar 480 ribu. Pemborosan pertama diluar rencana pun terjadi.
Ketika dalam perjalanan menuju Citos dari JPC Kemang, temanku ngasih tahu kalo acara nontonnya terpaksa dibatalkan. Well.. bagus sekali. Rencanaku hari itu sudah rusak gara-gara dibatalkannya acara nonton itu. Berhubung udah nanggung mau ke Citos, sekalian aja jalan-jalan ke Periplus untuk mencari buku yang pengen aku beli dari dulu(tapi ga terlalu butuh sih): By River Piedra I Sat Down and Wept karangannya Paulo Coelho dan buku lainnya yang berjudul Orange Girl karangan Jostein Gaarder, pengarang Dunia Sophie. Sayangnya, buku kedua tidak aku temukan di Periplus, stoknya sedang kosong. Begitu pula di Aksara, barangnya juga udah habis. Kecewa deh. Tapi ini kedua kalinya aku membeli barang diluar rencanaku hari itu.
Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot ke arah Lebak Bulus. Tiba-tiba keingetan kalo aku lagi butuh mouse untuk laptopku. Beberapa minggu ini aku terpaksa pake mouse buat PC di laptop karena mouse yang sebelumnya hilang entah dimana dan belum sempet beli lagi. Jadi deh turun dulu ke Poins Square dan belanja mouse. Yang ini nggak pemborosan karena aku memang butuh, tapi tetep aja diluar rencana. :(
Keluar dari Poins Square, aku masih penasaran dengan Orange Girl tadi. Udah nanggung di Lebak Bulus, mengapa tak sekalian aja ke PIM, kan deket dari situ pikirku. Dan berhubung udah cukup boros, aku berencana beli buku edisi Indonesianya saja, yang judulnya menjadi Gadis Jeruk dan aku taksir harganya sekitar 30 s/d 40 ribuan. Ternyata di Gramedia bukunya nggak ada, stoknya sedang kosong juga. Di www.inibuku.com terakhir aku lihat ada sih bukunya, tapi nanggung kalo cuma beli satu. Jadi, mending sekalian menjajal aja Periplus dan Kinokuniya. Harga sih udah jelas berbeda cukup jauh karena itungannya buku impor. Di Periplus PIM ternyata bukunya nggak ada. Di Kinokuniya hampir aja nggak ketemu bukunya. Setelah mencari dan meminta tolong mbak-mbak yang ada disitu, akhirnya ditemukan juga tuh bukunya: Hard Cover dengan harga 293 ribu. Weks, padahal bukunya aja cuma 160 halaman. Ga worth deh. Tapi ternyata lagi diskon 50% jadi 144 ribu. Masih kemahalan juga sih, tapi kalopun ada yang soft covernya, harganya juga nggak beda jauh dari situ. Berhubung gambar cover depannya cukup menarik hatiku (damn), yah.. ujung-ujungnya bisa ditebak. Beberapa menit kemudian, buku tersebut sudah beralih kepemilikan.
Pulangnya, aku balik lagi ke Gramedia karena sebelumnya tak sengaja melihat Kartun Benny & Mice yang baru: Lost in Bali. Sekalian udah belanja macam-macam, dan entah kapan lagi bisa menyempatkan untuk jalan-jalan, jadi aku beli buku itu seharga 40 ribu. Bener-bener parah, dalam sehari beli 6 buku dari 4 toko buku yang berbeda. Kayaknya bulan depan alokasi pengeluaran untuk belanja buku distop dulu nih. Mana ini belum termasuk tas kamera dan memory card yang aku beli sebelumnya. :((
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:17
5
comments
Labels: Artikel, Iseng, Keseharian
Thursday, May 29, 2008
Hari gini ga beli karcis???
Hari ini aku mencoba pulang lebih cepat dari biasanya. Jika biasanya aku pulang menggunakan KRL Ekonomi AC jurusan Tanah Abang Serpong, kali ini pulang naik KRL Ekonomi yang biasa. Penuhnya sih sama aja, cuma bedanya yang AC tentu lebih nyaman, tetapi jadwalnya 1 jam setelah KRL Ekonomi yang biasa. Harga karcis, tentu berbeda juga lah.
Biasanya, naik KRL Ekonomi AC atau KRL Ekspress, penumpangnya kebanyakan orang-orang kantoran. Yang dalam hal ini, tentunya mereka membeli karcis sesuai dengan harga yang telah ditetapkan. Walaupun jarang dilakukan pemeriksaan karcis diatas kereta, tapi aku yakin mereka cukup disiplin lah. Malu aja kali tuh pake baju rapi ketahuan nggak beli karcis.
Situasinya cukup berbeda dengan penumpang KRL Ekonomi biasa. Sebagian penumpangnya adalah orang-orang kantoran, sebagian lagi pedagang asongan dan penumpang biasa yang memang menggunakan KRL sebagai sarana transportasi, bukan pulang dari tempat kerja.
Tadi ada kejadian yang cukup menarik, setahuku biasanya hanya kondektur saja yang memeriksa karcis diatas kereta. Kali ini ada beberapa petugas keamanan yang menemani kondektur ketika memeriksa karcis masing-masing penumpang. Jika biasanya penumpang yang tidak memiliki karcis bisa membayar diatas kereta (dengan membayar Rp. 1000, padahal harga karcis Rp. 1500, dan nggak tahu tuh yang Rp. 1000 masuk ke PJKA atau ke kondekturnya), kali ini penumpang yang tidak memiliki karcis tak berkutik oleh petugas keamanannya. Menurut aturannya, yang ketahuan nggak memiliki karcis akan dikenakan denda sebesar Rp. 5000 (untuk KRL Ekonomi biasa), dan penumpang tersebut akan mendapatkan tanda bukti berupa karcis suplisi (kalo nggak salah namanya seperti itu). Tadi lumayan juga sih, ada beberapa yang ketahuan tak memiliki karcis. Padahal kulihat dari penampilannya sih mampu untuk beli. Masa iya sih harga karcis Rp. 1500 nggak bisa kebeli. Udah jaraknya lumayan jauh, waktu perjalanan lebih singkat, keitung murah banget, dan selama dua kali kenaikan harga BBM harganya belum naik, tetap Rp. 1500, masih bisa aja nggak beli karcis. Padahal, mereka-mereka yang nggak beli karcis tadi kulihat bisa tuh membayar harga karcis suplisinya.
Semoga saja dengan kejadian ini mereka kapok. Atau sekalian aja sekarang kondektur mesti ditemani oleh petugas keamanan supaya penumpangnya lebih disiplin dan nggak ada kebocoran pemasukan untuk PJKA.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:54
3
comments
Labels: Artikel, Iseng, Keseharian
Friday, April 18, 2008
Mimpi
Apakah arti mimpi itu? Ketika beberapa tahun yang lalu tak terbersit sedikitpun dalam benakku untuk bermimpi. Masih terngiang di pikiranku ketika saat itu temanku menceritakan mimpi-mimpinya padaku. Aku kagum mendengarnya. Karena mimpi-mimpinya begitu luar biasa. Saat itu aku hanya bisa termenung. Merasa ada yang salah dalam diri ini. Karena aku bukan pemimpi seperti dia. Aku terlalu takut untuk bermimpi.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai berani untuk bermimpi. Bermimpi untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Dan tentunya ada pula mimpi-mimpiku yang lain selain yang itu. Bagiku, mimpi itu bak keinginan-keinginan dan tujuan hidupku. Yang tanpanya jelas membuat hidupku terasa hampa.
Perjalanan meraih mimpi sungguh indah. Walaupun pada awalnya terasa mustahil, tetapi seiring waktu berjalan, mimpi-mimpi tersebut terasa semakin dekat selama ada usaha untuk mendekatinya. Walaupun aku belum mencapai semua mimpi-mimpi itu, aku merasa semakin dekat dengannya.
Tanpa kusadari, cerita temanku beberapa tahun yang lalu telah memberikan inspirasi dan kontribusi yang besar dalam pembentukan mimpi-mimpiku. Apalagi kini sepertinya mimpi-mimpinya yang dulu pernah diceritakan padaku, kini sudah terpenuhi. Sepertinya tidak ada yang mustahil di dunia ini, selama ada mimpi dan usaha untuk meraihnya.
Kurasa, janganlah takut untuk bermimpi, walaupun itu tampak mustahil. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa siapkah kita jika mimpi-mimpi tersebut tidak terwujud.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
21:15
1 comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
Monday, January 21, 2008
Kejadian di minggu malam...
Semalem, ketika sedang enak-enaknya nonton, tiba-tiba muncul pop-up window dari Yahoo Messenger. Hmm.. ternyata dari seseorang teman yang udah lama aku kenal, dan tumben sekali mau berbaik hati menyapa malem-malem. Anggap aja namanya X. Ternyata.. kalimat pembukanya adalah: "beliin pulsa dong!!!". Bener-bener parah deh. Nggak pake basa-basi pula lagi.
Setelah pembicaraan berlanjut, akhirnya aku tahu si X ini sedang menelpon seseorang yang dia anggap penting (nggak tahu lah cukup penting atau sangat penting). Yang jelas sih si X ini keliatan panik karena pulsanya abis. Sebagai informasi, X adalah pengguna Simpati tapi nggak tahu ada skema tarif per detik. Padahal sih kalo pake skema tarif per detik, bisa lumayan awet tuh pulsanya (aku asumsikan sih seseorang yang dia telp pake no Telkomsel).
Berhubung saat itu sudah jam 10 malem lewat, dan sepertinya tempat jualan pulsa di deket tempat kost nya sudah pada tutup (nggak yakin sih, sepertinya karena males aja), dia minta tolong ke aku. Lagi enak-enak nonton bgini sih males banget mesti keluar malem-malem bgini untuk beli pulsa. Mana keperluannya juga nggak jelas :P Hehehe. Dan belum tentu juga tempat yang jualan pulsa nya masih buka. Tapi yah.. namanya juga sesama teman, apalagi X ini adalah teman kuliah dulu, dibantu lah.
Kebetulan aku punya eSecure BNI yang bisa aku gunakan untuk internet banking. Walaupun semalem internet banking-nya rada-rada lemot, akhirnya bisa juga tuh ngisi pulsa-nya. Walaupun entah kenapa sampai saat ini masih berasa aneh aja. Ngisi pulsa buat temen, mana malem-malem pula, dan untuk tujuan yang rada-rada aneh pula lg. Hhh... akhirnya si X bermigrasi juga ke simpati PeDe dan melanjutkan percakapannya lagi.
Pesan moral:
Sebelum nelpon seseorang yang dianggap penting, sebaiknya periksa dulu jumlah pulsa yang dimiliki, tarif percakapan, dan perkiraan lama percakapan dengan sisa pulsa yang ada. :P Daripada di tengah jalan pembicaraan terputus dan ujung-ujungnya bisa dianggap nggak bermodal lagi ama lawan bicaranya. hehehe
- peace, no offense -
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:26
8
comments
Labels: CSUI 02, Iseng, Keseharian
Tuesday, January 08, 2008
A struggle to watch The Golden Compass movie...
Last night would become a longest and wonderful night in this week. And I felt I was the most stupid person on earth.
It began with a plan on the afternoon to watch The Golden Compass movie on the cinema. After browsing on 21 Cineplex website, I decided to watch the movie on PIM XXI because the movie will begin at 19.15. So I had enough time to travel there. Actually, I had another choice. I could choose Plaza Semanggi. But because I had another intent - I wanted to look for the second book of His Dark Material novel, The Subtle Knife, which is the next after The Golden Compass - I decided to choose PIM.
Anyway, on the evening someone asked me to watch the movie at Plaza Semanggi. I thought it was a good idea because I wouldn't watch the movie alone. And because the movie would start at 6:45 pm, earlier than on PIM, I supposed I could go home earlier. My first intent to look for the novel was gone.
After office hour, at 6pm, I went directly to Plaza Semanggi. I was the one who came first, so I had to buy the ticket. Surprisingly, the ticket were sold out. Aargh, I felt disappointed and resentful. I informed my friend about this and she was still in her office. Damn.. I didn't even know what I felt. I thought I might not have another spare time on this week to see the movie.
While I was thinking deeply, whether I should go home or try to watch the movie at the other cinema, I was browsing on my phone to list the schedule of the movie on the other cinema. I found a suitable one. It was on PIM 1. This cinema would show the movie at 8:40pm. I still had more than one hour to get there. Moreover, I was still be able to do my previous plan. Looking for the novel there.
Fortunately, I could use a bus routed to Ciputat from where I was. If I had trapped in a traffic jam so I couldn't come on PIM before 8:40pm, it would be OK for me. I would stop at the end of the bus route and went home. I was lucky, I felt. I arrived at PIM at 8:25pm and bought a ticket which was currently still available. Fiuhh.. In the next 15 minutes before the movie began, I visited Gramedia, Periplus, and Kinokuniya bookstore to find out whether my desirable novel was available. Miserably, the novel was sold out. Hhh.. Not only for the second sequel, but for the first and the last it were also sold out.
Even I felt unsatisfied, I tried to forget it and enjoy the movie. Though I just had read half of the story from the novel, I thought the movie itself had been manipulated everywhere. So it wasn't appropriated based on the novel. I supposed The Lord of The Rings trilogy were better in translation to its movies version instead. I was confused with the plot and the fact described on the movie. Too much manipulation I thought. Even its plot was generally same with the novel. And it's too short and less detail though the duration is almost two hours. I guessed it would be different if I hadn't read the novel. In my opinion it would be better to watch the movie first and then read the novel as my friend had ever told me. :( But overall, the movie was nice and worth enough to watch.
Finally the show was end at about 10:30pm and I was satisfied enough. I felt encouraged to finish the remaining chapter on the novel, instead. Interesting novel, and I recommend it to be read. I traveled to my home with satisfaction and curiosity though I didn't realize I would face another problem when I came home.
I got home at 11:30pm. Too night and too late for me. The door had been locked. Foolishly, I had put the key on my office and forgot to bring it back. I knocked the door and tried to call any of my family member but no one replied. I called them using my phone about more than 10 times and end with my own desperation. I really really felt frustrated. :(( I decided not to disturb and wake my family member up. So I tried to sleep on terrace in front of the door. Huhuhu.. Felt satisfied and also desperate. I gazed to the sky. It was clear so I could see so many stars laid there as if they're laughing at me. And the last one, there were so many mosquitoes here as companion on my sleep. I was half asleep when my phone rang. It was coming from one of my family member. In the next five minutes, I was already on my bed. When I saw the time on the clock, it was 1 am. But I didn't care and continue to sleep. Sigh... nice journey just to watch a movie and look for an unavailable novel.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
13:48
3
comments
Labels: Iseng, Keseharian
Monday, December 17, 2007
Sabtu yang Menyenangkan
Hari Sabtu kemaren, aku dapet undangan untuk Nonton Bareng. Konon sih katanya acaranya diadakan oleh Telkomsel Area. Dan undangannya katanya sih untuk SimPATI Zoners dan pelanggan Telkomsel Priority. Berhubung acaranya melibatkan salah satu Content Provider yang dipegang oleh temen kerjaku, jadinya undangannya nyampe juga. Apalagi yang namanya gratisan sayang banget kalo dilewatkan bgitu saja.
Di undangannya, acaranya mulai jam 08:15 di Pondok Indah Mall 2. Dalam hati sih ini nonton apa nggak kepagian yah. Cuman daripada ntar malah nggak bisa nonton, akhirnya berangkat dari rumah jam 7 kurang dikit. Biar bisa dateng tepat waktu. Taunya, setelah sampai disana dan menunggu cukup lama, akhirnya baru dikasih tahu kalo filmnya ternyata diputar jam 10:00. Doh.. tau bgini mending dateng siang aja. Dan sepertinya juga banyak orang-orang yang 'tertipu' mentah-mentah. Mungkin di undangannya jam 8 supaya datangnya nggak telat. Tapi, kurasa ini rada-rada kelewatan juga.
Film yang ditonton bareng adalah Mr. Magorium's Wonder Emporium, yang konon sih katanya baru diputar di 21 sekitar 2 mingguan lagi. Film ini dibintangi oleh Natalie Portman, yang so far sih filmnya bagus-bagus. Walaupun rating di IMDB nggak terlalu bagus, tetapi menurutku film ini lumayan lah untuk ditonton (males nyeritainnya disini). Apalagi ini filmnya bisa dibilang film keluarga, yang endingnya biasanya selalu happy ending dan nggak ngegantung.
Selesai nonton, diajakin makan-makan di Hanamasa sama panitianya. Pas banget karena memang perut ini sudah keroncongan. Gara-gara berangkat pagi, nggak sempet sarapan di rumah. Bener-bener puas deh hari Sabtu kemaren. Secara seminggu sebelumnya kerjaan lagi lumayan banyak dan udah rada-rada jenuh. Semua kejenuhan itu bisa hilang hanya dengan satu hari yang menyenangkan ini. Hihihi... semoga acara-acara yang seperti ini bisa terus berlanjut. ;)
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
13:21
0
comments
Labels: Keseharian
Friday, December 14, 2007
Perjuangan Menuju Kantor
Pagi ini, aku berangkat buru-buru ke stasiun kereta untuk pergi ke kantor karena mendengar kabar semua KRL alias kereta listrik tidak ada yang beroperasi. Penyebabnya adalah gardu listrik yang terbakar. Entahlah di gardu listrik yang mana aku kurang tahu. Beruntungnya, jalur kereta Serpong-Tanah Abang dilewati oleh Kereta Diesel (KRD) dari Rangkasbitung menuju Jakarta Kota. Namanya juga kereta diesel, tidak terpengaruh oleh ada atau tidaknya aliran listrik.
Aku berangkat jam setengah 7 dari rumah dengan harapan bisa mengejar KRD yang jam setengah 7 lewat. Berhubung stasiunnya deket dari rumah, berangkat mepet-mepet dikit nggak apa-apa lah. Sesampainya di stasiun, kulihat keadaannya lumayan semrawut. Banyak sekali orang yang memenuhi halaman stasiun. Sepertinya mereka baru tahu juga bahwa pagi itu tidak ada KRL yang beroperasi. Kulihat mereka sepertinya agak-agak panik mengalami kejadian yang jarang terjadi seperti ini. Ada yang memutuskan untuk naik angkot atau ojek ke kantornya. Beberapa bahkan sibuk dan dengan serius menelepon. Entah siapa yang di telpon. Mungkin bosnya kali yah, dan mengabari kalau orang tersebut datang terlambat masuk kantor.
Aku lebih memilih kereta karena perjalanan ke kantor bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Jika naik kendaraan lain, bisa sampe 2 jam. Nggak kebayang macetnya di daerah Lebak Bulus dan Mampang kalau mesti naik bus. Karena alasan inilah, apapun yang terjadi, mending naik kereta aja lah. Kecuali jika memang nggak ada satupun kereta yang jalan, baru nyari alternatif lain.
Setelah memasuki stasiun, semakin banyak orang yang aku lihat. Rada-rada nggak yakin juga bisa naik kereta KRD yang biasanya penuh dengan para pedagang pasar. Terlebih lagi situasinya sedang seperti ini. Akhirnya kereta pun datang. Dan benar saja, kereta tersebut sudah penuh sekali dengan para pedagang dan penumpang dari stasiun Serpong. Berhubung sudah niat untuk naik kereta apapun yang terjadi, aku paksakan untuk naik. Lumayan, ketika itu aku teringat kata-kata di buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang baru selesai aku baca. Pikiran positif dan optimis akan mengekstrapolasi kurva yang menanjak (apa coba). Yah ternyata tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha. Asalkan ada niat dan determination, semua yang berat akan terasa ringan saat kita melaluinya.
Akhirnya aku sampai di kantor jam setengah 8. Beruntung nggak sampe telat. Kalo nggak naik kereta bisa-bisa jam 9 baru nyampe. Itupun udah dengan keadaan mandi keringat. Di pagi itu kuperkirakan ribuan penumpang sepanjang jalur Serpong-Tanah Abang yang tidak terangkut kereta. Entahlah, mereka sampai jam berapa di kantornya masing-masing. Yang jelas aku bisa sampai di kantor tepat waktu, dan nggak perlu sampai mandi keringat walaupun keretanya penuh banget :P.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
23:06
0
comments
Labels: Keseharian
Sunday, October 21, 2007
Pengalaman buruk dengan prosesor
Akhir-akhir ini, suara kipas pendingin prosesor komputer di rumahku berisik sekali. Sejak komputerku aku pindahkan dari kampus dulu, memang suaranya sudah bising. Tapi nggak sebising yang sekarang. Maklum aja sih, secara di rumah nggak pake AC dan prosesor yang kugunakan adalah Pentium D yang panasnya minta ampun. Jadi suara bising itu masih aku anggap wajar lah. Beli kipas tambahan, males juga masangnya ntar. Jadi selama ini aku biarkan saja.
Kejadiannya dimulai beberapa hari yang lalu ketika aku sedang menggunakan komputerku lalu tiba-tiba mati listrik karena kelebihan beban. Setelah listrik nyala lagi, tiba-tiba di BIOS nya muncul peringatan kalo temperatur CPU nya nggak normal. Setelaah aku periksa di BIOS nya, cukup mengejutkan juga ternyata. Suhu di prosesor dilaporkan mencapai 100° C. Weks... lumayan juga nih, bisa membuat air mendidih dengan menggunakan prosesorku.
Karena penasaran, aku bongkar saja heatsink dan kipas CPU nya dari motherboard. Karena memang nggak pengalaman membongkar dan memasang heatsink CPU, jadinya rada-rada lama deh, sambil belajar-belajar dulu. Hmm.. ternyata di heatsinknya banyak sekali debunya yang terpaksa aku bersihkan dulu (karena skalian udah dibongkar).
Setelah aku bersihkan dan aku pasang lagi, ternyata kondisinya tidak membaik. Suara kipas masih tetap bising tetapi suhu prosesornya sudah tidak bermasalah lagi walaupun masih tetap panas untuk ukuran normal. Akhirnya aku kepikiran mungkin sebaiknya aku tambahkan gel diantara prosesor dan heatsinknya. Siapa tahu kondisinya lebih baik.
Setelah membeli gel yang dibuat khusus untuk prosesor seharga 15 ribu rupiah, aku bongkar lagi CPU nya. Pertama-tama aku bersihkan dulu sisa-sisa gel yang yang lama yang menempel di prosesor dan heatsinknya baru kemudian aku tambahkan gel yang baru. Berhubung lupa nanya dan memang nggak ada panduannya mesti seberapa banyak aku tuangkan gelnya diatas prosesor, jadinya aku sembarangan aja. Kutuangkan gelnya cukup banyak, yang belakangan kusadari ternyata itu kebanyakan.
Setelah aku pasang lagi heatsink prosesornya nya, aku nyalakan komputerku. Mungkin karena memang aku nggak berpengalaman dalam urusan pasang-memasang heatsink, jadinya ketika aku periksa suhu prosesornya, lagi-lagi 100° C. Suhu yang tinggi disebabkan karena permukaan prosesornya tidak menempel secara sempurna pada permukaan heatsink CPU nya. Sehingga panas prosesor tidak dapat dihantarkan ke heatsink, yang akhirnya berakibat tingginya suhu prosesor. Untuk mengatasi masalah ini, ditambahkan gel diantara prosesor dan heatsink. Agar permukaan prosesor dan heatsinknya bisa menempel dengan sempurna. Tapi kalau gelnya kebanyakan jadi bermasalah juga ujung-ujungnya.
Sempet frustasi juga ketika berulang kali aku mencoba dan hasilnya tetap sama. Setelah mencoba kesekian kalinya, akhirnya aku putuskan untuk mengurangi jumlah gelnya. Aku bersihkan lagi permukaan prosesor dan heatsinknya dan aku tambahkan lagi gelnya, namun dalam jumlah yang sedikit. Well.. untungnya kali ini berhasil. Suhu prosesornya lumayan normal untuk prosesor seukuran Pentium D. Sebagai tambahannya, kipas prosesornya menjadi jauh lebih tidak berisik dibanding sebelumnya. Senangnya.. walaupun cukup membuat panik dan frustasi, ternyata dapet pengalaman yang lumayan berharga kali ini.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
21:12
4
comments
Labels: Keseharian
Thursday, October 18, 2007
KRL Express-nya mana niy?
Hiks..kecewa aku hari ini. Selama seminggu ini semua KRL Express dibatalkan alias nggak ada yang jalan. Duh.. Mana udah dateng pagi-pagi lagi. Dan baru tahunya pas udah di stasiun. Walaupun KRL Ekonomi AC tetep jalan, masa mesti nunggu sejam lagi di stasiun. Akhirnya aku putuskan untuk naik kereta ekonomi langsam yang bercampur dengan para pedagang pasar. Duh, mana banyak yang merokok pula lagi. Untungnya minggu depan KRL Expressnya udah jalan lagi..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:39
0
comments
Labels: Keseharian
Wednesday, October 17, 2007
Akhirnya masuk kantor
Lelah sekali hari ini. Seperti biasa, perjalanan kembali dari kampung halaman menuju Jakarta selalu melelahkan. Padahal di jalan juga nggak ngapa-ngapain.
Perjalanan dimulai dari Tulungagung, kota tempat aku dilahirkan. Dengan menggunakan kereta api Gajayana jurusan Malang - Jakarta, keretanya berangkat dari stasiun Tulungagung kira-kira jam 6 sore. Beruntung masih sempat sholat maghrib dan isya sekalian di musholla stasiun.
Setelah naik kereta, aku perhatikan gerbong tempat aku duduk. Lumayan mengecewakan. Pintu yang menghubungkan antar gerbong dan pintu luarnya tidak berfungsi dengan semestinya. Tak ayal, di sepanjang perjalanan jadi terganggu oleh suara berisik gesekan roda kereta dengan rel. Padahal, seharusnya penumpang tidak akan terganggu oleh suara yang berisik ini. Seharusnya ruang dalam gerbong cukup kedap suara lah.
Lebih parah lagi, tidak ada air di toilet di kedua ujung gerbong. Aargh, sengsara juga jadinya. Males juga mesti jalan-jalan ke gerbong lain. Ntar malah dicurigai lagi berlalu lalang di gerbong lain.
Kondisi ini jauh berbeda dengan kereta Argo Wilis yang aku naiki untuk pulang kampung sebelumnya. Gerbongnya terlihat lebih terawat dan lebih nyaman. Semua fasilitas berfungsi dengan semestinya.
Entah benar atau tidak, aku merasa sepertinya kebanyakan kereta api jurusan Jakarta selalu tidak memuaskan. Yang paling sering adalah pintu yang tidak berfungsi dengan semestinya sehingga gerbong menjadi berisik. Berbeda sekali dengan kereta yang berangkat dari Bandung. Mungkin pendapatku ini tidak valid karena cuma mengambil beberapa sampel saja. Konon kata temanku, depo perawatan kereta api itu berada di Bandung. Sehingga wajar saja jika kereta yang berangkat dari Bandung lebih terawat. Entahlah..
Seperti biasa pula kereta yang kunaiki mengalami keterlambatan. Jadwalnya siy jam setengah 7 sudah sampai di Gambir. Nyatanya baru sampai Gambir jam setengah 10. Telat 3 jam. Untung sudah biasa. Jadi nggak terlalu kecewa. Walaupun tadi kulihat ada penumpang yang sepertinya mengejar waktu dan kecewa berat karena keretanya terlambat. Hhh.. Mungkin baru pertama kali tuh naik Gajayana yang memang setiap kali kunaiki nggak pernah tepat waktu.
Sesampai di Gambir, aku mandi di stasiun. Berhubung hari ini aku harus masuk kantor -walaupun terlambat-, jadi nggak pulang ke rumah dulu. Biar cepet dan praktis lah.
Sampai di kantor jam setengah 11. Lalu bersilaturrahim dengan teman-teman satu divisi. Berhubung hari itu kerjaanku dikit banget, yah, disempetin lah untuk mengunduh Heroes eps 4, dan tentu saja sekalian nonton di kantor :P. Begini deh, kepala sekolah dan gurunya nggak ada, murid-muridnya jadi bebas berkeliaran. Bahkan jam kantor masih serasa ketika bulan puasa kemarin. Jam 4 sore sudah sepi. Hhh.. Mari menikmati kebebasan hingga akhir minggu ini. Sebelum bos-bos masuk di hari Senin minggu depan :P.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
19:35
0
comments
Labels: Iseng, Keseharian
Saturday, October 13, 2007
Perjalanan panjang menuju kampung halaman
Lebaran kali ini aku nggak pulang kampung bareng keluarga. Keluargaku sudah pulang duluan tanggal 9 kemarin. Secara aku belum dapet jatah cuti, jadi cuma bisa mengambil cuti bersama selama 3 hari, yang nantinya akan mengurangi jatah cutiku tahun depan. Hiks.. padahal harusnya libur nih.. :((
Sayangnya aku nggak kebagian tiket pulang dari Jakarta. Sempet sedih juga waktu itu. Beruntung aku masih bisa kebagian tiket dari Bandung bareng temen-temen kantor yang memang tujuannya searah denganku. Tiket kereta yang aku dapatkan adalah Argo Wilis yang berangkat dari Bandung tanggal 12 Oktober jam 7 pagi. Yah, beruntung lah, daripada nggak bisa pulang sama sekali. Apalagi ini tiketnya bukan harga calo :p
Aku dan temen-temen kantor berangkat jam 5 sore pada hari kamis. Kebetulan ada yang bawa mobil, jadi bisa lebih nyaman lah. Jalur yang diambil adalah jalur yang melewati Jonggol, dengan asumsi lewat Cipularang akan macet. Ternyata jalur Cipularang pada saat itu lancar-lancar saja. Doh.. Jadi nyesel lewat Jonggol. Selain jalanannya kecil dan tidak rata, di beberapa ruas jalan kena macet pula. Alhasil baru sampai di Bandung jam 9 malam.
Malamnya aku menginap di mesjid STT Telkom. Lumayan nyaman dan gratisan. Maklum, aku nggak ngerti daerah Bandung. Terakhir kali aku pergi ke Bandung adalah ketika aku SMA dulu. Tadinya siy mau nginep di Lab nya, sekalian liat-liat. Cuma berhubung Labnya dikunci karena memang sudah mau lebaran, ya nginep di mesjid deh.
Waktu perjalanan di kereta keesokan harinya kebanyakan kugunakan untuk tidur. Ngantuk dan capek banget soalnya. Itung-itung investasi waktu lah. Walaupun tujuan akhir dari kereta yang kunaiki adalah Surabaya, namun kebanyakan penumpangnya turun di Jogja dan Solo. Pantes aja masih bisa kebagian tiket. Berbeda dengan kereta dari Jakarta yang biasanya kebanyakan penumpangnya turun di stasiun tujuan akhir.
Akhirnya aku sampai di stasiun tujuanku, yaitu Jombang kira-kira jam 6 sore. Beruntung di kereta dapet jatah makanan untuk berbuka. Nggak perlu repot-repot nyari makanan buat berbuka. Selanjutnya untuk menuju kota kampung halamanku, aku harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus. Jarak dari kota Jombang ke Tulungagung kira-kira 60 km yang ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Beruntung jalur bus yang menuju kotaku melewati stasiun Jombang. Fiuh.. Capek banget. Yang jelas aku sampai di rumah nenekku jam setengah 9 malam. Walaupun capek, aku senang karena aku bisa pulang kampung, kembali ke tempat dimana aku dulu dilahirkan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
00:06
1 comments
Labels: Keseharian
Monday, October 08, 2007
Pentingnya md5sum
md5sum, menurut Wikipedia merupakan program komputer yang berfungsi untuk mengkalkukasi dan memverifikasi MD5 hash dari suatu file. MD5 hash itu sendiri berfungsi sebagai fingerprint dari sebuah file. Untuk sebagian orang, mungkin kalkulasi MD5 hash dari sebuah file dirasa kurang penting. Ketika melakukan pengunduhan suatu file dari internet, biasanya jarang sekali orang yang melakukan kalkulasi MD5 hash pada file tersebut dan menyamakannya dengan kalkukasi MD5 hash file aslinya. Padahal MD5 hash tersebut berguna untuk memverifikasi apakah suatu file yang diunduh isinya benar-benar sama dengan file yang sebenarnya, yang berada di server. Ketika dilakukan pengunduhan, banyak sekali faktor yang menyebabkan paket-paket file yang diunduh tersebut menjadi corrupt.
Hari jumat kemarin, iseng-iseng aku mencoba untuk mengunduh dan menginstall Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon versi Beta. Berhubung keinginan itu muncul ketika hari sudah sore, dalam artian mendekati jam pulang kantor, aku paksakan mengunduh file iso Ubuntu tersebut menggunakan download manager dengan jumlah thread lebih dari satu. Biasanya sih nggak masalah, cuma karena mengunduhnya dari komputer kantor yang memang dipasangi anti virus dan aplikasi-aplikasi monitoring lainnya, secara otomatis aplikasi-aplikasi tersebut akan aktif ketika aku mengunduh suatu file dengan kecepatan yang diatas normal :P.
Biasanya sih aku selalu membatasi kecepatan downloadnya jika menggunakan download manager. Karena aku tahu biasanya filenya corrupt jika kecepatannya tidak aku batasi, yang disebabkan karena aplikasi semacam anti virus dan aplikasi monitoring tadi. Namun yah.. karena namanya juga sudah sore, jadinya ya begitu deh. Setelah pengunduhan selesai, bukannya mengecek MD5 hashnya (karena males lagi nyari aplikasi md5sum nya), aku buka langsung saja file iso tersebut menggunakan IZarc. Karena bisa dibuka, aku asumsikan file tersebut nggak bermasalah.
Ketika di rumah, aku melewatkan lagi proses kalkukasi MD5 hashnya. Duh.. padahal tinggal menjalankan aplikasinya saja dan memilih file yang akan dikalkulasi. Dengan asumsi filenya tidak rusak, langsung saja aku burn file iso tersebut ke CD. Proses burning pun berjalan mulus tanpa halangan.
Nah.. ketika dilakukan booting dari CD dan memulai proses instalasi, mulai deh nampak error dimana-mana. Kupikir proses burningnya yang bermasalah, setelah melakukan pengecekan CD melalui boot menu nya, ternyata memang ada 81 file yang corrupt. Hiks.. Akhirnya karena kecurigaanku tertuju pada file iso yang sudah aku unduh, aku lakukan kalkulasi MD5 hash pada file tersebut. Dan ternyata hasilnya berbeda dari file aslinya. Duh.. apes deh. Niat untuk mencoba Ubuntu 7.10 beta di akhir minggu pun gagal karena kesalahan sendiri
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
07:37
4
comments
Labels: Iseng, Keseharian
Thursday, October 04, 2007
Nemu HP
Hari rabu lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober kebetulan aku pulang kemaleman dari kantor. Baru jam 10 aku pulang. Di jalan udah ngantuk2 nggak jelas. Pengen cepet-cepet sampe di rumah dan segera tidur.
Seperti biasa, kalo udah kemaleman, aku pulang naik P20 jurusan Senen-Lebak Bulus. Dilanjutkan dengan angkot ke Ciputat lalu ganti angkot lagi yang ke arah rumah. Di P20 aku sempatkan untuk tidur. Lumayan, ceritanya biar nambah jam tidur di hari itu. Ketika sudah sampai di Lebak Bulus, aku terbangun. Masih setengah sadar lah. Penumpangnya udah tinggal sedikit. Saat itu aku melihat penumpang bangku sebelahku turun. Ketika orangnya sudah turun baru kusadari kalo ada barangnya yang ketinggalan yang kemudian aku kenali sebagai tas HP. Mau aku panggil orangnya sudah turun. Mana aku juga masih setengah sadar. Setelah melihat kiri kanan dan memastikan keadaan, aku putuskan untuk menyimpan tas HP tersebut (dan isinya juga tentunya). "Daripada diambil oleh orang lain", begitu pikirku. Rencananya, akan aku tunggu hingga ada yang menghubungi no HP tersebut.
Di sisa perjalananku menuju rumah, aku jadi nggak bisa tidur. Entah, jadi merasa nggak tenang aja. Sesampainya di rumah, aku buka tas HP nya. Didalamnya ada HP Nokia 1600 dan fotokopi KTP pemilik HP tersebut. Pemilik HP tersebut perempuan (iyalah, tas HP nya aja warna pink). Di KTPnya siy kelahiran tahun 1989.
Keesokan harinya ada yang menelepon ke nomor HP tersebut, yang pada akhirnya aku tahu dia adalah teman kerja si pemilik HP. Dari pembicaraan di telepon, si pemilik HP tersebut kerja di daerah Senen dan katanya tempat tinggalnya juga di Ciputat. Akhirnya aku berikan nomorku dan memintanya agar si pemilik HP tersebut menghubungi nomorku.
Sore harinya, akhirnya si pemilik HP tersebut menghubungiku. Dia minta ketemuan. Cuma mentang-mentang jam kerjanya malam, dia mintanya ketemuan malam-malam, dan parahnya di pasar Ciputat pula lagi. Duh, ini orang seenaknya aja. Yang butuh HPnya juga siapa, maen ngasal nentuin tempat aja. Mana di pasar pula lagi + malem-malem. Nggak banget deh. Akhirnya setelah pembicaraan yang cukup alot, aku minta dia saja yang dateng ke kantorku keesokan harinya di waktu jam kerja.
Fiuhh.. Semoga aja besok orangnya benar-benar datang ke kantorku. Biar nggak jadi beban juga. Nggak tenang aja rasanya menyimpan barang yang bukan milik sendiri.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
23:21
9
comments
Labels: Keseharian
Thursday, September 13, 2007
Gempa
Kemaren maghrib, tepatnya 18:10 WIB terjadi gempa yang menurut BMG berlokasi di 4.67 LS - 101.13 BT dengan magnitudo 7.9 SR. Kebetulan pada jam tersebut aku masih berada di kantor dan lagi sholat maghrib di musholla kantor. Begitu selesai sholat, baru nyadar kalau semua pintu untuk masuk ke ruangan kerjaku terkunci semua. Mana nggak ada orang satupun lagi. Untungnya di ruangan lain yang tidak terkunci masih ada orang, yang katanya pada saat itu baru aja terjadi gempa. Bingung juga, soalnya sewaktu sholat tadi nggak kerasa apa-apa. Akhirnya aku bersama orang-orang yang ada di ruangan itu turun ke bawah melalui tangga darurat.
Alhamdulillah banget tempat kerjaku cuma di lantai 3. Nggak kebayang tuh seandainya mesti turun lewat tangga darurat dari lantai 56. Karena kejadian ini, niat untuk pulang cepet pun jadi nggak jadi. Maklum, baru bisa masuk lagi ke kantor sekitar jam 7 lewat. Padahal tadinya mau pulang cepet-cepet buat ngejar sholat tarawih di mesjid, tahunya masih ada kerjaan sampe maghrib. Untungnya aja masih keburu sholat maghrib. Fiuhh..
Parah juga ini gempa. Sejak maghrib kemarin, serasa dapet SMS Spam yang isinya informasi gempa yang rata-rata berkekuatan 5 - 6 SR yang terjadi di daerah sekitar Bengkulu dan Sumbar. Ada kali tuh sekitar 30 - 40 sms. Bahkan menurut informasi yang aku dapet kemaren, di lantai 17 gedung tempat kerjaku, ada retakan akibat gempa yang terjadi pada maghrib tersebut. Jadi ngeri.... Beruntung banget tempat kerja cuma di lantai 3.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
13:59
2
comments
Labels: Keseharian
Wednesday, September 05, 2007
Sakaw Internet
Tepatnya hari senin kemaren, koneksi internet di kantor mengalami masalah. Seharian nggak bisa akses situs-situs dari luar semacam Google atau Yahoo. Cuma bisa akses situs-situs lokal doang. Praktis aja seharian ngeliatin orang-orang kantor cuma membuka situs Detik, Detik, dan Detik lagi. Seolah nggak ada situs lain yang bisa dibuka. Konon menurut isu-isu yang berdar katanya kabel fiber optik yang di Ancol kena jangkar. Ada-ada aja deh. Berhubung katanya link internasional yang dipake di kantor cuma menggunakan satu leased line, dalam artian nggak pake jalur lain, ya otomatis kalo link tersebut bermasalah orang sekantor terisolasi dari dunia luar :P . Dan masalah ini berimbas pula ke semua layanan internet seperti akses GPRS dan Flash.
Seharian nggak ada koneksi internet ke luar serasa aneh dan terisolasi dari dunia luar. Tetapi ada juga untungnya. Karena nggak bisa online pada hari itu, serasa lebih tenang aja. Nggak ada CP-CP yang komplain ^_^, berhubung biasanya komplain nggak pernah lewat jalur telepon, tapi lewat YM. Untungnya sore harinya masalahnya sudah dapat diselesaikan. Entahlah, apakah kabel fiber optiknya udah dibenerin atau jadinya pake jalur lain. Yang penting so far so good lah ;)
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
18:30
0
comments
Labels: Keseharian
