Baru beli bukunya beberapa hari yang lalu di Gramedia. Niatnya sih sebelumnya mau pesen online aja, tapi nanggung. Berhubung beberapa hari ini libur, jadi ada kesempatan untuk segera menyelesaikan bukunya.
Buku ini menceritakan kisah hidup tentang Athena, seorang wanita anak seorang gipsi yang dilahirkan di Transylvania yang kemudian diadopsi oleh pasangan yang berasal dari Lebanon. Yang menarik adalah kisah hidup Athena yang merupakan inti dari novel ini, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, orang-orang yang pernah berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengannya: ibu angkatnya, suaminya (dan mantan suaminya), jurnalis, pendeta, alhi kaligrafi, sejarawan, aktris, hingga numerologis. Dan semuanya disusun secara kronologis kecuali di bagian awal bukunya, karena bukunya diawali dengan kisah kematiannya. Menjadikannya semacam biografi namun fiksi tentunya.
Dalam perjalananan ceritanya Athena selalu berusaha menjati jati dirinya. Mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam diri manusia. Dia mencari sesuatu yang hilang dari hidupnya, yaitu apa yang dia sebut sebagai 'ruang kosong'. Pencariannya ini menuntunnya untuk menjadi seorang pemimpin spiritual yang kontroversial di Portobello.
Novel ini menurutku cukup inspiring, mengajari banyak hal berkaitan dengan cinta, identitas, perubahan, dan sudut pandang. Semua yang ada di dalam hidup ini akan tampak berbeda jika mencoba memandangnya dari sudut pandang dan perspektif yang lain, seperti halnya bagaimana karakter Athena yang digambarkan dari sudut pandang orang-orang sekitarnya.
Walaupun demikian, seperti novel-novel Paulo Coelho yang lain, dimana sarat dengan hal-hal yang berbau spiritual, aku merasa banyak pertentangan-pertentangan ketika membaca novel ini, terutama yang berkaitan dengan keyakinan yang aku anut. Memang inspiring sih jika bisa mengambil pesan moralnya, tapi dibumbui dengan hal-hal yang agak-agak klenik dan kontrovesial. Ini nih yang nggak kusuka dari novel-novelnya dia. Yah, mungkin sisi positif yang bisa aku ambil adalah tak ada salahnya juga mengetahui, hitung-hitung menambah pengalaman. Asal jangan ikut-ikutan aja.
Tuesday, April 14, 2009
Sang Penyihir Dari Portobello
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:43
4
comments
Labels: Artikel, Hobby, Review Buku
Saturday, April 11, 2009
Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al-Quran yang Terlupakan
Berawal dari melihat secara tak sengaja buku tersebut di rumah, dan kebetulan ada salah seorang temanku yang sudah membaca dan merekomendasikan buku ini, akhirnya aku putuskan untuk membacanya. Tadinya buku ini masuk prioritas terakhir, berhubung masih ada beberapa buku yang ingin aku baca duluan. Tapi sesekali, tak apa-apa lah membaca buku sains daripada kebanyakan membaca novel dan buku-buku bacaan ringan.
Dari judulnya, bisa diterka apa isi buku ini. Buku yang ditulis oleh Agus Purwanto, D.Sc, doktor fisika partikel lulusan ITB dan Universitas Hiroshima ini mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran (ayat-ayat tentang alam semesta) dari perspektif sains modern. Di pengantarnya, penulis menyatakan bahwa kelalaian dan pengabaian sains di Dunia Islam terjadi secara luas. Umat Islam masih berkutat dan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk perkara fikih. Meski ayat-ayat yang mengatur fiqih hanya berjumlah seperlima dari ayat kauniyah yang berjumlah 750 ayat, tetapi telah menyedot hampir semua energi ulama dan umat Islam. Sebaliknya ayat-ayat kauniyah yang berjumlah lebih banyak, malah terabaikan.
Berhubung latar belakang penulis adalah fisika, khususnya fisika partikel, jadinya penjelasan-penjelasan yang ada di buku ini juga dikaitkan dengan ilmu fisikanya. Sangat menarik, karena banyak hal yang aku dapat dari buku ini, terutama mengenai fisika, walaupun sekedar kulitnya saja. Sebagian diantaranya mencoba menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang dipelajari ketika SMA, dan sebagian sisanya, nggak pernah aku dapatkan ketika SMA, antara nggak ngerti apa isinya dan sekaligus penasaran.
Yang disayangkan dari buku ini, karena bahasan yang ditulis cukup banyak, jadi penjelasannya kurang mendalam. Sisi negatifnya, aku jadi nggak ngerti apa yang sedang dijelaskan. Sementara sisi positifnya, ini membuatku penasaran dan ingin mempelajari lebih jauh mengenai bahasan tersebut. Dan terkadang apa yang dijelaskan sudah advanced, jadi mesti nyari-nyari artikel pengantarnya biar aku ngerti apa yang sedang dibahas, Harapanku adalah kedepannya ada lagi buku-buku sejenis yang membahas lebih dalam, atau mencoba mengaitkan ayat-ayat kauniyah Al-Quran dengan ilmu-ilmu lain seperti Biologi dan Kimia misalnya.
Buku cocok dibaca oleh orang-orang yang menyukai sains, khususnya fisika. Entah apa kata mereka yang telah membaca buku ini. Tapi untukku, buku ini memberikan banyak inspirasi dan mendorongku untuk mempelajari lebih jauh mengenai ilmu-ilmu fisika, khususnya fisika partikel. Ada yang berminat?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
18:00
2
comments
Labels: Artikel, Hobby, Review Buku
Monday, March 30, 2009
Puteri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Inilah buku ke-4 Jostein Gaarder yang aku baca setelah Dunia Sophie, Gadis Jeruk, dan Misteri Soliter. Buku ini menceritakan kisah Petter si laba-laba. Petter ketika kecil digambarkan sebagai seorang anak yang penyendiri dan jarang bergaul dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian Petter memiliki imajinasi yang kuat sehingga dalam kesendiriannya, dia seringkali menciptakan permainan-permainan dalam bayangannya sendiri.
Gaarder menggambarkan secara implisit Petter kecil sebagai sosok yang bisa dibilang cerdas dan melebihi anak-anak sebayanya yang lain. Ada plot yang menceritakan bagaimana dia mendapatkan uang dengan cara mengerjakan PR teman-temannya. Dan hebatnya lagi, dengan kemampuannya, bahkan dia bisa mengerjakan PR teman-temannya secara kolektif namun hasilnya disesuaikan, sesuai dengan kemampuan temannya. Jadi jika temannya memang dirasa tak mampu, dia tak akan memberikan jawaban yang akan memberinya nilai A. Para guru tidak menyadari jika ternyata PR yang dikerjakan oleh murid-muridnya ternyata hanya dikerjakan oleh satu orang saja.
Dengan daya imajinasinya yang tinggi, Petter seringkali membuat dongeng-dongeng. Dia tak pernah sekalipun kehabisan ide. Selalu saja dia memiliki ide untuk ditulis. Sebenarnya dia bisa saja menjadi penulis hebat, tetapi dia tidak menginginkannya. Petter lebih senang menjadi orang yang berada di belakang layar. Karena dia membutuhkan uang, akhirnya dia jual ide-idenya kepada penulis ataupun calon penulis yang mengalami kebuntuan ide sampai akhirnya terbentuklah jaring rahasia antara Petter dan mereka. Para penulis mengetahui bahwa Petter hanya menjual idenya ke mereka, tanpa tahu bahwa dia juga sebenarnya menjual idenya untuk penulis lain.
Namanya juga cerita, rahasia Petter mulai tercium oleh para penulis tersebut. Para penulis mulai curiga kepada Petter dan tentu saja masalah ini menjadi sangat pelik. Dalam bukunya, diceritakan juga bagaimana Petter diam-diam merekam dan menyimpan bukti setiap transaksi, sehingga bila dia dibunuh, penyebabnya akan diketahui. Benar-benar kisah yang hebat menurutku, karena segala sesuatunya seolah diceritakan secara matang dan penuh rencana.
Kondisi ini tentu saja meresahkan Petter dan dia harus segera mencari cara untuk lepas dari jaring laba-laba yang dia ciptakan sendiri. Dalam pelariannya, dia justru menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka, yang menjadi ending dari novel tersebut.
Tak seperti ketiga bukunya yang aku baca sebelumnya, novel ini tak terlalu sarat dengan filosofi-filosofi. Lebih gampang dipahami lah intinya. Di awal membaca buku ini, rada-rada bosan dan kesel, karena isi buku ini sebenarnya adalah kisah Petter yang diceritakan ulang oleh dirinya sendiri, sehingga kebanyakan bagian dari buku ini menggunakan kalimat-kalimat tak langsung. Agak-agak mengesalkan dan terasa monoton. Tetapi begitu konflik ceritanya mulai kelihatan apalagi setelah mengetahui ending ceritanya sangat tak terduga, rasa-rasanya nggak rugi aku membaca buku ini. Pada akhir kisahnya, aku baru menyadari mengapa judul novel ini adalah 'Puteri Sirkus' yang secara nyata tak ada hubungannya dengan alur cerita utamanya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
11:17
3
comments
Labels: Artikel, Review Buku
Wednesday, March 04, 2009
Misteri Soliter: Antara Filsafat, Dongeng, dan Fantasi
Permainan soliter adalah sebuah kutukan keluarga. Selalu ada seorang joker yang tak tertipu angan-angan. Dari generasi ke generasi, selalu ada orang bodoh yang berjalan di muka bumi dan tak menjadi tua oleh waktu. Seseorang yang mengetahui takdirnya harus menjalaninya.
Misteri Soliter berkisah tentang perjalanan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang bernama Hans Thomas, yang bersama ayahnya mencari ibunya yang telah menghilang dan meninggalkan mereka berdua 8 tahun silam.
Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan kurcaci kecil dan memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar. Tak lama setelah itu, mereka berhenti di sebuah toko roti. Pemilik toko roti yang telah tua itu memberikan beberapa kue kismis kepada Hans Thomas. Ketika memakan kue kismis yang terbesar, dia menemukan sebuah buku mungil yang tulisannya sebegitu kecilnya sehingga tak bisa dibaca menggunakan mata telanjang. Hans Thomas akhirnya membaca buku mungil tersebut menggunakan kaca pembesar yang diberikan oleh sang kurcaci sebelumnya.
Dan setelah itu, cerita dalam buku itu beralih antara kisah perjalanan Hans Thomas beserta ayahnya dan kisah yang diceritakan dalam buku mungil tersebut.
Dalam buku-buku ini akan ditemukan istilah-istilah semacam pulau ajaib, soda pelangi, kartu remi beserta jokernya, filsafat tentang joker, hubungan kartu remi dengan penanggalan, Hari Joker, dan istilah-istilah lain yang menurutku sangat menarik. Apakah hubungan antara Hans Thomas, kurcaci, pemilik toko roti yang sudah tua, semua istilah-istilah aneh yang telah kisebutkan, dan cerita yang ada di dalam buku mungil tersebut? Hmm.. mendingan baca sendiri aja deh. Dalam buku itu juga disebutkan sebuah permainan Joker, dimana seluruh kurcaci di pulau ajaib mendeklamasikan kalimat-kalimat yang jika disusun akan menjadi isi atau inti dari cerita dalam buku Misteri Soliter ini.
Walaupun isi buku ini pada intinya adalah cerita dalam cerita dan cerita tersebut berada dalam cerita yang lain - cukup membingungkan *sigh*, namun isinya sangat menarik. Bintang 5 lah. Dalam buku itu banyak sekali cerita-cerita filosofisnya. Gaarder sangat piawai dalam membungkus filsafat ke dalam dongeng yang penuh fantasi dan menuliskannya dalam sebuah buku. Salah satu pertanyaan yang mengelitik dalam buku ini adalah: 'Siapakah kau? Dari manakah kau berasal?' yang dilontarkan oleh Joker yang selalu ingin tahu. Benar-benar mendalam untuk bahan perenungan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
12:43
0
comments
Labels: Artikel, Review Buku
Tuesday, February 17, 2009
Little Prince: Sederhana namun Mendalam
Little Prince merupakan novel yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, seorang penerbang berkebangsaan Prancis pada tahun 1943. Walaupun novel ini untuk anak-anak, tapi kurasa isinya cukup mendalam. Menurutku, banyak hal-hal yang mendasar mengenai hidup yang seringkali menjadi pertanyaan bagi anak-anak, namun telah diabaikan oleh orang dewasa yang diceritakan dalam novel ini.
Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pangeran kecil dari satu planet ke planet lain. Masing-masing planet dihuni oleh orang satu dewasa. Dalam perjalanannya, sang pangeran kecil seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kepada penghuni planet yang dia kunjungi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meskipun mungkin hanya akan bisa dilontarkan oleh anak kecil, namun cukup mendalam untuk direnungkan.
Salah satu pelajaran moral yang menurutku sangat mendalam adalah ketika sang pangeran kecil bertemu dengan seeokor rubah di planet bumi.
"Kau hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatimu. Hal yang penting yang tak terlihat oleh mata."
Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh rubah kepada sang pangeran kecil. Pangeran kecil memiliki sebatang mawar di planetnya. Namun apakah yang membedakan antara sebatang mawar tersebut dibandingkan dengan kebun yang berisi ribuan bunga mawar? Ternyata jawabannya adalah waktu yang dihabiskan oleh pangeran kecil untuk mawarnya itulah yang membuat sebatang mawar tersebut menjadi begitu penting. Kita diajari untuk bertanggung jawab, selamanya, atas segala sesuatu yang telah kita 'jinakkan'. Yang dalam kasus ini adalah mawar sang pangeran kecil. Dengan 'menjinakkan' sesuatu, artinya kita telah membangun sebuah ikatan, sebuah hubungan. Ikatan tersebut unik, dan kita harus bertanggung jawab atas ikatan tersebut.
Walaupun novel ini ditulis pada tahun 1943, kurasa isinya tak lekang oleh waktu. Pelajaran-pelajaran moralnya pun cukup banyak. Dan hebatnya lagi dikemas dalam bacaan untuk anak-anak. Novel ini tak terlalu tebal, sekitar 100 halaman dan berisi dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar oleh penulisnya sendiri. Untuk orang-orang yang sedang mencari makna hidup, buku ini kurasa bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:22
1 comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi, Review Buku
Tuesday, February 10, 2009
Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Leo Tolstoy
Berawal dari kebaikan seorang teman yang menghibahkan salah satu bukunya, yang akhirnya memaksaku untuk membaca buku ini. Tadinya sih nggak tahu buku ini isinya seperti apa, dan penulisnya Leo Tolstoy juga terdengar asing di telingaku. Sampai akhirnya aku membaca salah satu cerita yang ada di dalam bukunya, yang ternyata mendalam banget. Baru tahu ternyata Leo Tolstoy adalah seorang sastrawan Rusia dan dianggap sebagai novelis terbesar pada jamannya.
Menariknya, sepertinya kumpulan ceritanya diurutkan dari yang paling pendek hingga yang paling panjang. Ketika membaca cerita-cerita yang ada di awal masih bisa dinikmati. Begitu membaca 3 cerita terakhir, rasa-rasanya pening. Maklum, nggak biasa membaca karya-karya sastra yang perlu berpikir secara mendalam dulu untuk mencerna isinya, jadi semakin panjang, semakin membuat pening. Terlebih lagi semua ceritanya disajikan begitu saja. Pesan moral dari masing-masing ceritanya tertulis secara implisit. Jadi memang bener-bener mesti direnungi dulu, baru bisa ngerti. Kalo nggak sih ya seperti membaca cerita biasa aja, lewat begitu saja.
Sayangnya sepertinya karya-karyanya yang lain yang tentunya edisi terjemahan sudah jarang beredar. Ada beberapa yang masih dijual, tapi judulnya nggak banyak. Entah apakah karya-karyanya yang lain pernah diterjemahkan sebelumnya, mengingat karya-karyanya adalah sastra klasik yang ditulisnya saja udah tahun kapan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
11:22
2
comments
Labels: Artikel, Review Buku
Wednesday, January 14, 2009
Sekilas Three Cups of Tea: Inspiratif dan Menyentuh
Buku yang ditulis oleh Greg Mortenson dan Oliver Relin ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Greg Mortenson, seorang pendaki gunung yang pada awal cerita di buku tersebut sedang berusaha mendaki K2, gunung kedua tertinggi di dunia. Pendakian tersebut pada akhirnya gagal karena salah satu anggota tim rombongan pendaki mengalami musibah: paru-parunya dibanjiri cairan dan darah akibat tekanan dan tipisnya atmosfer di ketinggian, dan harus segera diselamatkan dengan membawanya turun ke tempat yang lebih rendah. Akhirnya Mortenson dan salah satu rekannya yang membawanya turun ke base camp yang lebih rendah. Proses penyelamatan ini akhirnya menguras energi Mortenson dan memaksanya turun gunung dan tidak bisa melanjutkan pendakian. Pada saat turun gunung, Mortenson tersesat, dan alih-alih menuju desa yang ia tuju, ia tiba di sebuah desa yang bernama Korphe yang tidak tertera di peta. Dalam kisah ini, Mortenson diselamatkan dan dirawat oleh pemimpin desa, Haji Ali hingga ia sembuh. Mortenson terenyuh dengan kebaikan Haji Ali dan keluarganya, dan untuk membalas kebaikannya, dia berjanji untuk membuat sekolah di Korphe.
Itulah awal kisah yang menjadi inti dari buku ini. Selanjutnya dalam buku tersebut diceritakan perjuangan Mortenson untuk mencari dana sebesar 12 ribu dolar untuk membangun sekolah di Korphe. Pada akhirnya dia mendapatkan dana tersebut dari Jean Hoerni, seseorang yang kaya raya yang ketika mudanya pernah menjadi pendaki gunung. Jean Hoerni akhirnya mendirikan CAI (Central Asia Institute) dan menunjuk Mortenson sebagai direkturnya. CAI memiliki misi untuk membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil di Pakistan dan Afghanistan yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Kisah perjuangan Mortenson dalam membangun sekolah-sekolah yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan inilah yang mewarnai buku ini hingga halaman terakhirnya.
Judul buku Three Cups of Tea diambil pepatah Balti, dimana di dalam buku ini dikutip dari kata-kata Haji Ali:
"...(Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir yang pertama engkau masih orang asing; cangkir yang kedua, engkau teman; dan cangkir yang ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun - bahkan untuk mati."
Rasa-rasanya tak salah mengambil judul seperti itu. Buku ini menceritakan bagaimana tradisi minum teh untuk menjamu seorang tamu seolah menjadi seperti kewajiban. Dan tiap kali Mortenson melakukan suatu kunjungan, baik itu untuk urusan bisnis atau bukan, selalu saja acara minum teh tak pernah terlewat untuk diceritakan.
Buku ini menurutku sangat menarik walaupun ceritanya agak-agak monoton (karena memang bukan novel sih). Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana pembangunan sekolah-sekolah ini bisa menjadi alat untuk melawan terorisme. Pada salah satu plot di buku ini menceritakan kondisi Afganistan dan Pakistan ketika rezim Taliban berkuasa hingga pada akhirnya terjadilah kejadian 9/11, dimana pada saat itu Amerika menyerang Afghanistan dan menyisakan banyak sekali korban. Dari buku tersebut diceritakan bahwa kaum ekstrimis seperti Taliban merekrut prajuritnya melalui sekolah-sekolah yang sumber dananya diselundupkan dari negara-negara yang mendukung tindakan-tindakan terorisme ini. Melalui sekolah ini, anak-anak yang memang di daerahnya tidak memiliki sekolah lain akan terpaksa untuk bersekolah disana, yang kemudian akan didoktrinasi untuk menjadi teroris. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini, diharapkan pengaruh dari sekolah-sekolah kaum ekstrimis ini berkurang. Bukan berarti sekolah-sekolah yang didirikan CAI ini pro Amerika lho. Karena tujuannya semula CAI ini berusaha memerangi kemiskinan dan menyediakan sekolah bagi kaum perempuan yang notabene dilarang disana.
Terlepas dari apakah buku ini terlalu subjektif atau tidak, buku ini layak untuk dibaca. Perjuangan dan kerja keras Mortenson dalam kisah ini patut untuk ditiru. Sangat inspiring menurutku, bahwa hanya dengan satu orang saja, bisa membawa begitu banyak perubahan untuk penduduk di Pakistan dan Afghanistan. Dan satu hal lagi yang patut untuk direnungkan adalah isu pendidikan yang menjadi misi utama Mortenson. Akan seberapa besarkah dampak yang diakibatkan jika daerah-daerah terpencil di Indonesia diberikan sarana pendidikan yang memadai secara merata? Mungkin pengaruhnya tidak akan terasa secara langsung, tetapi dalam beberapa generasi, bisa terlihat dampaknya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:40
4
comments
Labels: Artikel, Review Buku
Wednesday, January 07, 2009
Sekilas The Orange Girl (Gadis Jeruk): Novel Penuh Makna
Buku yang aslinya berjudul Appelsinpiken ini dikarang oleh Jostein Gaarder, pengarang Sophie's World atau Dunia Sophie. Setelah diterjemahkan, bukunya berjudul The Orange Girl atau dalam bahasa Indonesianya menjadi Gadis Jeruk.
Buku ini bercerita tentang Georg Roed, seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Oslo. Georg tinggal bersama ibu, ayah tirinya (Jorgen), dan adik perempuannya dari pernikahan ibu dengan ayah tirinya. Ayah kandung Georg telah meninggal 11 tahun sebelumnya, ketika dia berusia 4 tahun.
Alur cerita dari buku ini muncul ketika nenek Georg menemukan sebuah surat yang ditulis ayah Georg 11 tahun yang lalu beberapa saat sebelum meninggal. Surat tersebut ditujukan untuk Georg. Isi surat inilah yang kemudian dipaparkan dalam buku The Orange Girl dan menjadi inti cerita di dalamnya.
Halaman demi halaman di dalam buku ini menceritakan kisah-kisah pertemuan antara Jan Olav dengan Gadis Jeruk yang misterius yang selalu menghilang tiba-tiba. Diceritakan pula bagaimana di dalam buku ini Jan Olav mengutarakan kepolosannya dengan membuat hipotesis-hipotesis mengapa si Gadis Jeruk membawa jeruk begitu banyak, mengapa si Gadis Jeruk bisa tahu namanya dan dimana dia tinggal. Jostein Gaarder bisa dengan tepat menceritakan keadaan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang berhubungan dengan kekasih hatinya. Dari pertemuan-pertemuan dengan si Gadis Jeruk, aku jadi cukup paham, mengapa cover buku ini didominasi oleh warna oranye tua dan menampilkan seorang gadis yang mengenakan pakaian oranye yang berwarna-warni sambil membawa sekantong besar jeruk.
Setelah melewati 2/3 bagian dari buku, aku mulai menemukan bagian-bagian yang bisa dijadikan pelajaran dan direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan dari Jan Olav kepada si Gadis Jeruk. Jan Olav bertanya mengapa si Gadis Jeruk harus repot-repot membawa puluhan jeruk untuk dilukis. Mengapa tak hanya mengambil satu buah saja dan mengulagi gambar jeruk tadi di atas kanvas. Dan jawabannya sungguh sangat sederhana: Karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sama persis dengan yang lainnya. Bahkan dua batang rumput yang terlihat sama pun tak mungkin benar-benar sama. Dan begitu pula manusia, semuanya unik.
Ketika isi surat dari ayah kandung Georg selesai diceritakan dalam buku ini, inti dari The Orange Girl pun terkuak. Aku menyimpulkan bahwa inti dari buku ini adalah mengenai kehidupan, kematian, dan harapan. Bisa direnungkan bagaimana Georg bisa saja tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika Jan Olav dan si Gadis Jeruk tidak pernah bertemu. Jika dipikirkan lebih lanjut, begitu pula dengan dunia yang sedang kita alami sekarang ini. Bisa jadi hal-hal sepele yang kita lakukan pada akhirnya bisa mengubah dunia ini atau sekedar menciptakan kehidupan baru di dalamnya.
Kembali ke topik sebelumnya, pertemuan antara Jan Olav dan Gadis Jeruk menumbuhkan harapan-harapan baru yang dalam bukunya dikisahkan begitu romantis dan dipenuhi antusiasme diantara keduanya. Bagaimana akhirnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Georg itu sendiri sebelum akhirnya cerita menjadi berakhir pahit karena Jan Olav sakit dan meninggalkan anak dan istrinya untuk selama-lamanya. Ya, Gaarder mencoba menjelaskan kematian, namun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Suatu saat kita semua akan mati, dan Jan Olav menyampaikan pesan tersebut melalui surat yang ditulisnya untuk Georg. Kurasa ini adalah pesan moral terpenting dalam buku ini. Apapun jalan yang kita ambil, suatu saat kita akan mati dan meninggalkan semuanya. Pesan yang bisa diambil adalah: apakah yang akan kita lakukan jika tahu bahwa kita lahir dan ada di dunia ini dan suatu saat akan mati. Jawaban tiap orang tentu saja berbeda mengenai hal ini.
Bahkan di dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan filosofi yang agak-agak sulit dijawab. Jika kita diberi kesempatan, apakah yang akan kita pilih: memilih hidup singkat di dunia yang kita tahu kita akan meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi kesana, atau mengatakan 'tidak, terima kasih', dalam artian kita tidak pernah mengalami hidup itu sendiri. Berat sekali untuk direnungkan dan memilih seandainya ada pilihan seperti itu. Dalam keyakinanku, hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita terlahir sebagai manusia juga sudah ada yang mengatur. Ini hanyalah masalah akan diapakan sisa hidup kita. Banyak harapan-harapan yang bisa dicapai sebelum kita mencapai apa yang disebut dengan kematian.
Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Terutama untuk orang-orang yang menyukai filsafat. Walaupun pada awalnya buku ini seperti novel biasa yang bertema pengejaran cinta, namun bacalah hingga ujung bukunya dan bisa disimpulkan buku macam apa yang ditulis oleh Gaarder. Buku ini adalah buku kedua karangannya yang aku baca setelah Dunia Sophie yang kubaca ketika aku SMP dulu. Udah rada-rada lupa, tapi paling nggak The Orange Girl lebih sederhana dan nggak ribet seperti Dunia Sophie. Rencana berikutnya adalah berburu buku-buku lain karangan Jostein Gaarder, semoga aja masih ada di Kinokuniya / Periplus. Seapes-apesnya paling mesen ke www.inibuku.com edisi terjemahannya.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
12:12
1 comments
Labels: Artikel, Hobby, Review Buku
Friday, December 12, 2008
Sekilas Maryamah Karpov: Dibawah ekspektasi

Kesan pertama ketika aku membuka sampul buku ini adalah sedikit terkejut. Karena tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, bukunya ternyata cukup tebal. Lebih tebal daripada buku pertamanya malah. Dan yang lebih mengesankan lagi, bahan kertas yang digunakan juga menurutku lebih baik dibandingkan ketiga buku sebelumnya. Bahan kertas yang digunakan mirip dengan buku-buku impor yang walaupun tebal tapi ringan. Dengan harga 79.000 rupiah dipotong diskon 15%, kurasa worth lah. Terlebih lagi, buku ini telah berada di meja kantorku hari Jumat pagi, tak lama setelah buku ini resmi di-launch.
Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan kisah Ikal, tokoh utama dalam cerita, setelah menyelesaikan studi masternya di Eropa dan kembali lagi ke kampung halamannya di Belitong. Inti dari cerita di dalam buku ini adalah kisah perjuangan Ikal dalam mencari A Ling. Seorang tokoh perempuan yang dia sukai di buku pertamanya. Perjalanan mengenai pencarian cinta dan orang yang dicintai terkadang memang membuat semuanya seolah tak masuk akal. Dalam bukunya, diceritakan bagaimana Ikal yang seumur hidupnya tak pernah membuat perahu harus membuatnya untuk membuktikan kebenaran yang dia yakini.
Dalam buku ini juga dikisahkan pertemuan Ikal dengan anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Tadinya aku pikir inti buku ini adalah pertemuan kembali para anggota Laskar Pelangi. Ternyata aku salah. Dikisahkan pula dalam bukunya kecerdasan-kecerdasan Lintang yang tak pernah lagi dibahas sejak buku pertamanya.
Pesan moral yang aku tangkap dari cerita ini adalah betapa pentingnya mimpi dan bagaimana seseorang seharusnya menggapai mimpi-mimpinya. Walaupun mungkin terkadang tak masuk akal, namun jangan menyerah sebelum mencoba. Terkadang dalam memandang masalah, seseorang terlalu overestimated, sehingga menganggap masalah tersebut tak bisa dipecahkan. Padahal dengan mengubah sudut pandang, masalah tersebut dapat disederhanakan. Hal ini dibuktikan Ikal dengan keberhasilannya membuat perahu dan keberhasilannya dalam memainkan biola walaupun dalam buku tersebut dia tidak memiliki bakat musik dan tidak memiliki bakat sebagai pembuat perahu. Pelajaran yang bisa ditarik adalah hal-hal yang tak mungkin bisa dibuat menjadi mungkin asal ada keinginan yang kuat walaupun tak memiliki bakat.
Aku masih sedikit penasaran kenapa bukunya diberi judul Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang. Maryamah Karpov adalah salah seorang tokoh dalam buku yang memiliki anak perempuan yang dikisahkan dalam buku itu pandai bermain biola (sesuai dengan covernya). Sementara Mimpi-mimpi Lintang adalah nama perahu buatan si tokoh utama. Diberi nama itu karena Lintang si tokoh cerdas memiliki andil yang besar dalam pembuatan desain perahu yang dibuat oleh Ikal. Keduanya tampak tidak ada hubungannya. Tapi aku rasa, dinamai demikian karena kedua-duanya seolah menunjukkan semuanya bisa diraih jika ada keinginan yang kuat. Mungkin itulah pesan moral tersembunyi dari penulisnya, Andrea Hirata dalam memberikan judul buku ke empatnya.
Namun entah kenapa, secara alur cerita aku agak-agak kurang suka dengan buku ini. Dengan sedikit terpaksa aku memberikan rating 3 di www.goodreads.com, dan secara statistik kebanyakan pembaca lain juga memberikan rating 3 untuk buku ini. Pesan moralnya sih bagus, cuma alur ceritanya menurutku banyak bercabang dan nggak fokus. Tadinya aku pikir akan diceritakan masa depan Laskar Pelangi dalam buku ini. Atau at least, ada semacam kisah penutup lah untuk para anggota Laskar Pelanginya. Di dalam buku ini seolah hanya lewat begitu aja. Padahal bukunya kan bertajuk buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Cukup banyak lah hal-hal yang dibiarkan left unexplained dan menggantung. Terlebih lagi ending ceritanya juga menggantung dan nggak jelas. Rasa-rasanya buku kedua dan ketiga aja nggak separah ini.
Membaca kisah di akhir bukunya, aku malah jadi berpikir, jangan-jangan masih ada lanjutannya nih. Aku merasa ekspektasiku terlalu besar pada buku ini. Sedikit kecewa lah :(. Dan akhirnya kesimpulanku adalah: menurutku isi buku ini seolah dibuat untuk memenuhi keinginan pasar. Seolah telah disiapkan lagi buku lanjutannya sebagai penyambung buku keempat ini. Ujung-ujungnya bukan tetralogi deh. Jadi berasa baca komik, dimana karena laku, ceritanya dipanjang-panjangin dan nggak pernah tamat.
Well, adakah pendapat lain? Atau mungkin pikiran yang serupa denganku?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:34
5
comments
Labels: Artikel, Iseng, Review Buku
Sunday, November 30, 2008
Sekilas Rectoverso: Baca Musiknya, Dengar Fiksinya

Buku yang berisi 11 kisah yang ditulis oleh Dewi Lestari ini aku beli seminggu yang lalu melalui www.inibuku.com. Berawal dari rekomendasi salah seorang temanku kurang lebih sebulan yang lalu - yang waktu itu juga belum membaca bukunya, akhirnya bisa kebeli juga. Maklum, ada beberapa buku yang sebelumnya sudah masuk wish list ku, jadi nunggu listnya abis dulu baru beli Rectoverso. :D
Sewaktu menerima kiriman bukunya, langsung aku bongkar, ada bonus stikernya, tetapi nggak ada CD nya. Baru ngeh, kalo CD nya ternyata dijual terpisah. Harga 75 ribu rupiah dipotong diskon 10% ternyata cuma bukunya doang. Nggak mau rugi, dan emang udah pengen denger lagunya, langsung aja googling, nemu, dan langsung unduh :P. Jadilah sebelum aku 'dengar' bukunya, lagu-lagunya sudah aku 'baca' duluan. Sayang sekali kalo sampe nggak punya album musiknya. Karena album musiknya pun terdiri dari 11 lagu yang merepresentasikan masing-masing kisah dalam bukunya.
Berikut ini adalah 11 judul kisah yang ada di buku maupun album musiknya:
- Curhat Buat Sahabat
- Malaikat Juga Tahu
- Selamat Ulang Tahun
- Aku Ada
- Hanya Isyarat
- Peluk
- Grew A Day Older
- Cicak Di Dinding
- Firasat
- Tidur
- Back To Heaven's Light
Dalam Rectoverso ini, IMHO, kurasa tak ada happy ending atau sad ending. Semuanya diceritakan menggantung, seolah tak berawal dan tak berakhir, hanya menceritakan potongan-potongan kisah. Untuk ujung ceritanya gimana, biarlah masing-masing pembaca yang berimajinasi sendiri. Namun walaupun demikian, dengan adanya lagu yang terpisah jadi berasa saling melengkapi.
Sayangnya, harga bukunya rada-rada 'kemahalan' mengingat jumlah halamannya sekitar 140an. Padahal banyak halaman kosongnya juga yang menjadi pembatas masing-masing kisah. Entah apa karena banyak halaman yg dipenuhi oleh gambar-gambar yang berwarnanya ditambah dengan sampulnya yang hard cover, harganya jadi mahal. Tapi, basically worth it lah ;) .
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:35
2
comments
Labels: Hobby, Review Buku
