Do you feel contented and satisfied with your life? Are you happy at this moment you read this? Everyone has their own point of view about happiness. The definition of happiness is relative, depend on each person who feels it. In my opinion, happiness is not related with richness and wealth. It comes from ourselves and could be influenced by several factors from outside. For example, if we have something that others people don't, we might feel happy. But anyway, the happiness itself, comes from inside.
Having something that others don't, our perhaps we're richer than others is only related with short term happiness. Perhaps we feel happy after buying a new car. We feel happy because we have promoted to higher position in our company. We feel happy because we have achieved our dream. But how long this happiness could last? How long we could feel it?
Sometimes, we feel envious of our friend's success. When we find that others have more than we do, we said: "How lucky he is, he must be happy". But who know? We do not know about his feeling. We do now know that may be he has a huge problem behind it. It is possible that our condition at that time is better than other people whom we treat as happier than us. But because our mind has said he's luckier than us, if affects our heart and allows our mind to develop a negative thinking about ourself.
The real happiness comes from ourselves by having grateful of everything we have: health, beautiful life, money, etc. People tends to want more and more. Never feels satisfied. When one of our needs has been fulfilled, we seek other things that in our opinion it could make us feel satisfied. It has no end. We never looks around us. So many peoples suffer, so many people are ill-fated, so many people worse than us. We should be grateful. Why should we feel unhappy if there are so many people around us suffer and worse. Perhaps they do not have everything like we do, but who knows if they are apparently happier than us? If they could happy with what they have, why we couldn't? Happiness comes from inside, and no one could make us sad or happy unless we allow it. So, why we are still complaining about our life if we could be happy.
Monday, February 23, 2009
Are you happy now?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:15
0
comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Friday, February 20, 2009
Mengapa Harus Cemas?
Dari sebuah kajian, dijelaskan bahwa rasa cemas dan kegelisahan disebabkan karena pemikiran-pemikiran pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Seringkali kita sebagai manusia terlalu mengkhawatirkan kejadian-kejadian yang belum tentu terjadi di masa depan. Seperti misalnya kekhawatiran apakah besok, minggu depan, bulan depan, ataukah tahun depan semua kebutuhan kita masih bisa terpenuhi seperti sekarang ini. Apakah kelak perusahaan tempat dimana kita bekerja masih sanggup menggaji kita? Apakah pasangan hidup kita kelak akan berselingkuh? Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang mencerminkan kekhawatiran kita yang pada akhirnya membuat kita menjadi tak tenang.
Sebagai solusi dan jawaban atas masalah itu, dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sudah seharusnya manusia tak terlalu memusingkan dengan apa yang belum terjadi. Masa depan yang belum pasti sebaliknya bisa dijadikan sebagai sebuah tantangan, yaitu menjadikannya lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Tidak ada salahnya memikirkan masa depan, tetapi tentunya yang bernilai positif, sebagai harapan yang kita miliki, bukan hal-hal negatifnya yang justru tidak diharapkan.
Selain itu disebutkan pula bahwa daripada terlalu fokus dan memikirkan hal-hal yang belum pasti, lebih baik kita fokus pada keadaan saat ini, yang sedang kita alami, yang lebih pasti. Sayang jika energi yang kita miliki hanya dihabiskan untuk memikirkan hal-hal yang hanya membuat perasaan semakin gelisah dan tidak tenang. Inti yang kudapatkan dari pernyataan tersebut adalah jangan sampai kita terlena dengan perencanaan-perencanaan untuk masa depan sementara keadaan kita saat ini terbengkalai dan terabaikan. Mengapa kita harus cemas? Sementara kejadian yang tidak kita harapkan tersebut belum terjadi. Jika memang tak ada plan B untuk meminimalisir hal-hal yang tak kita harapkan, solusi lain mungkin adalah mempersiapkan diri untuk menerima keadaan yang tak diharapkan tersebut. Ujung-ujungnya, rasa cemas dan gelisah itu juga adalah pilihan kita sendiri. Terserah, kita mau pilih yang mana.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:47
0
comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Tuesday, February 17, 2009
Little Prince: Sederhana namun Mendalam
Little Prince merupakan novel yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, seorang penerbang berkebangsaan Prancis pada tahun 1943. Walaupun novel ini untuk anak-anak, tapi kurasa isinya cukup mendalam. Menurutku, banyak hal-hal yang mendasar mengenai hidup yang seringkali menjadi pertanyaan bagi anak-anak, namun telah diabaikan oleh orang dewasa yang diceritakan dalam novel ini.
Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pangeran kecil dari satu planet ke planet lain. Masing-masing planet dihuni oleh orang satu dewasa. Dalam perjalanannya, sang pangeran kecil seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kepada penghuni planet yang dia kunjungi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meskipun mungkin hanya akan bisa dilontarkan oleh anak kecil, namun cukup mendalam untuk direnungkan.
Salah satu pelajaran moral yang menurutku sangat mendalam adalah ketika sang pangeran kecil bertemu dengan seeokor rubah di planet bumi.
"Kau hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatimu. Hal yang penting yang tak terlihat oleh mata."
Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh rubah kepada sang pangeran kecil. Pangeran kecil memiliki sebatang mawar di planetnya. Namun apakah yang membedakan antara sebatang mawar tersebut dibandingkan dengan kebun yang berisi ribuan bunga mawar? Ternyata jawabannya adalah waktu yang dihabiskan oleh pangeran kecil untuk mawarnya itulah yang membuat sebatang mawar tersebut menjadi begitu penting. Kita diajari untuk bertanggung jawab, selamanya, atas segala sesuatu yang telah kita 'jinakkan'. Yang dalam kasus ini adalah mawar sang pangeran kecil. Dengan 'menjinakkan' sesuatu, artinya kita telah membangun sebuah ikatan, sebuah hubungan. Ikatan tersebut unik, dan kita harus bertanggung jawab atas ikatan tersebut.
Walaupun novel ini ditulis pada tahun 1943, kurasa isinya tak lekang oleh waktu. Pelajaran-pelajaran moralnya pun cukup banyak. Dan hebatnya lagi dikemas dalam bacaan untuk anak-anak. Novel ini tak terlalu tebal, sekitar 100 halaman dan berisi dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar oleh penulisnya sendiri. Untuk orang-orang yang sedang mencari makna hidup, buku ini kurasa bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:22
1 comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi, Review Buku
Monday, January 26, 2009
Sebuah Pilihan
Manusia memiliki impian dan keinginannya sendiri. Terkadang impian tersebut adakalanya mudah diraih dan adakalanya pula sulit diraih dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Permasalahannya disini adalah apakah kita cukup berani untuk bermimpi pada hal-hal yang tidak pasti, dimana faktor-faktor penentunya banyak ditentukan oleh lingkungan luar, diluar diri kita sendiri.
Impian dan keinginan memberikan motivasi yang cukup kuat kepada manusia untuk berusaha menggapai sesuatu yang lebih baik. Memiliki mimpi tentu lebih baik daripada tak memilikinya sama sekali. Tak memiliki mimpi berarti tak ada keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.
Sesuai dengan topik permasalahan yang telah aku sebutkan sebelumnya. Seberapa jauh manusia berani bermimpi, jika penentu pencapaian mimpinya itu tidak hanya ditentukan oleh diri sendiri, tapi oleh pihak lain. Jika tingkat kepastiannya rendah, masihkah berani bermimpi? Seperti misalnya masalah karir dan kenaikan posisi yang sering kali diincar, tapi apa daya keputusan tersebut ada di manajemen perusahaan. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana menyikapi masalah ini. Terus menerus bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti menurutku sangat menguras energi dan pikiran. Ujung-ujungnya yang muncul adalah pikiran dan perasaan negatif seperti rasa kecewa dan rasa tidak puas. Istilahnya stress sendiri lah.
Inilah yang aku alami sekarang, dihadapkan diantara dua pilihan. Terus berharap dan mengejar mimpiku atau berusaha untuk melupakannya - at least menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Salah satu impianku terancam tak tercapai, karena tingkat kepastian yang rendah dan banyak faktor luar yang mempengaruhi.
Walaupun kemungkinan tercapainya mimpiku kecil, tapi kurasa aku akan tetap berusaha mengejarnya. It's worth every penny and I deserve it. Layak untuk aku perjuangkan hingga titik darah penghabisan, mengingat aku sudah berada di tengah-tengah dan terlalu sayang untuk aku buang dengan percuma. Hanya saja, tampaknya aku harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pilihanku ini. Well, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru seharusnya bisa memotivasi manusia untuk terus memperbaiki dirinya yang pada akhirnya menjadi awal untuk menuju keberhasilan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
02:19
1 comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Wednesday, October 22, 2008
Cepat 2x sholat atau cepat 2x pulang?
Sedikit miris ketika sore kemarin aku melihat sesuatu yang menurutku agak-agak nggak sreg. Kejadiannya ketika aku sedang menunggu kereta di Stasiun Sudirman. Kereta yang sebenarnya aku tunggu - Sudirman Express tujuan Serpong - telah datang. Namun bukannya dari arah Manggarai, tapi dari arah Tanah Abang menuju Manggarai yang kemudian akan kembali lagi ke Tanah Abang lalu ke Serpong. Pada saat itu, telah masuk waktu maghrib. Waktunya cukup jika aku gunakan untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu, sambil menanti keretanya kembali lagi dari arah Manggarai. 15 menit cukup lah.
Tetapi pemandangan yang aku lihat ternyata lain pikiranku saat itu. Ketika kereta datang, orang-orang berebut masuk ke dalam kereta. Kereta langsung terisi penuh. Agak-agak aneh aja menurutku. Kurasa lebih baik sholat dulu sembari menunggu keretanya kembali lagi. Karena, dengan jadwal keberangkatan 18:15 dan itupun juga telat, bisa-bisa sampe stasiun tujuan sudah keburu Isya. Sehari sebelumnya, naik yang pukul 17:30 saja baru sampe di rumah sekitar 18:30, tepat ditengah-tengah waktu antara Maghrib dan Isya. Masa iya mereka non muslim semua? Terlebih lagi, jika memang takut kereta tak terkejar karena sholat terlebih dahulu, masih ada kereta berikutnya pukul 18:25 yang berselisih 10 menit.
Mungkin karena fasilitas untuk sholat di Stasiun Sudirman kurang memadai sehingga menyebabkan orang-orang enggan untuk menunaikan sholat disana dan prefer sholat di rumah (walaupun udah telat bangat bahkan waktunya sudah habis). Tapi apapun alasannya, menurutku sholat di awal waktu lebih baik jika memungkinkan. Tampaknya saat ini orang-orang lebih banyak yang ingin cepat-cepat sampai di rumah dibandingkan dengan cepat-cepat menunaikan waktu sholat. Tanya kenapa...
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:31
1 comments
Labels: Kontemplasi
