Do you feel contented and satisfied with your life? Are you happy at this moment you read this? Everyone has their own point of view about happiness. The definition of happiness is relative, depend on each person who feels it. In my opinion, happiness is not related with richness and wealth. It comes from ourselves and could be influenced by several factors from outside. For example, if we have something that others people don't, we might feel happy. But anyway, the happiness itself, comes from inside.
Having something that others don't, our perhaps we're richer than others is only related with short term happiness. Perhaps we feel happy after buying a new car. We feel happy because we have promoted to higher position in our company. We feel happy because we have achieved our dream. But how long this happiness could last? How long we could feel it?
Sometimes, we feel envious of our friend's success. When we find that others have more than we do, we said: "How lucky he is, he must be happy". But who know? We do not know about his feeling. We do now know that may be he has a huge problem behind it. It is possible that our condition at that time is better than other people whom we treat as happier than us. But because our mind has said he's luckier than us, if affects our heart and allows our mind to develop a negative thinking about ourself.
The real happiness comes from ourselves by having grateful of everything we have: health, beautiful life, money, etc. People tends to want more and more. Never feels satisfied. When one of our needs has been fulfilled, we seek other things that in our opinion it could make us feel satisfied. It has no end. We never looks around us. So many peoples suffer, so many people are ill-fated, so many people worse than us. We should be grateful. Why should we feel unhappy if there are so many people around us suffer and worse. Perhaps they do not have everything like we do, but who knows if they are apparently happier than us? If they could happy with what they have, why we couldn't? Happiness comes from inside, and no one could make us sad or happy unless we allow it. So, why we are still complaining about our life if we could be happy.
Monday, February 23, 2009
Are you happy now?
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:15
0
comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Friday, February 20, 2009
Mengapa Harus Cemas?
Dari sebuah kajian, dijelaskan bahwa rasa cemas dan kegelisahan disebabkan karena pemikiran-pemikiran pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Seringkali kita sebagai manusia terlalu mengkhawatirkan kejadian-kejadian yang belum tentu terjadi di masa depan. Seperti misalnya kekhawatiran apakah besok, minggu depan, bulan depan, ataukah tahun depan semua kebutuhan kita masih bisa terpenuhi seperti sekarang ini. Apakah kelak perusahaan tempat dimana kita bekerja masih sanggup menggaji kita? Apakah pasangan hidup kita kelak akan berselingkuh? Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang mencerminkan kekhawatiran kita yang pada akhirnya membuat kita menjadi tak tenang.
Sebagai solusi dan jawaban atas masalah itu, dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sudah seharusnya manusia tak terlalu memusingkan dengan apa yang belum terjadi. Masa depan yang belum pasti sebaliknya bisa dijadikan sebagai sebuah tantangan, yaitu menjadikannya lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Tidak ada salahnya memikirkan masa depan, tetapi tentunya yang bernilai positif, sebagai harapan yang kita miliki, bukan hal-hal negatifnya yang justru tidak diharapkan.
Selain itu disebutkan pula bahwa daripada terlalu fokus dan memikirkan hal-hal yang belum pasti, lebih baik kita fokus pada keadaan saat ini, yang sedang kita alami, yang lebih pasti. Sayang jika energi yang kita miliki hanya dihabiskan untuk memikirkan hal-hal yang hanya membuat perasaan semakin gelisah dan tidak tenang. Inti yang kudapatkan dari pernyataan tersebut adalah jangan sampai kita terlena dengan perencanaan-perencanaan untuk masa depan sementara keadaan kita saat ini terbengkalai dan terabaikan. Mengapa kita harus cemas? Sementara kejadian yang tidak kita harapkan tersebut belum terjadi. Jika memang tak ada plan B untuk meminimalisir hal-hal yang tak kita harapkan, solusi lain mungkin adalah mempersiapkan diri untuk menerima keadaan yang tak diharapkan tersebut. Ujung-ujungnya, rasa cemas dan gelisah itu juga adalah pilihan kita sendiri. Terserah, kita mau pilih yang mana.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:47
0
comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Tuesday, February 17, 2009
Little Prince: Sederhana namun Mendalam
Little Prince merupakan novel yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, seorang penerbang berkebangsaan Prancis pada tahun 1943. Walaupun novel ini untuk anak-anak, tapi kurasa isinya cukup mendalam. Menurutku, banyak hal-hal yang mendasar mengenai hidup yang seringkali menjadi pertanyaan bagi anak-anak, namun telah diabaikan oleh orang dewasa yang diceritakan dalam novel ini.
Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pangeran kecil dari satu planet ke planet lain. Masing-masing planet dihuni oleh orang satu dewasa. Dalam perjalanannya, sang pangeran kecil seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kepada penghuni planet yang dia kunjungi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meskipun mungkin hanya akan bisa dilontarkan oleh anak kecil, namun cukup mendalam untuk direnungkan.
Salah satu pelajaran moral yang menurutku sangat mendalam adalah ketika sang pangeran kecil bertemu dengan seeokor rubah di planet bumi.
"Kau hanya bisa melihat dengan jelas dengan hatimu. Hal yang penting yang tak terlihat oleh mata."
Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh rubah kepada sang pangeran kecil. Pangeran kecil memiliki sebatang mawar di planetnya. Namun apakah yang membedakan antara sebatang mawar tersebut dibandingkan dengan kebun yang berisi ribuan bunga mawar? Ternyata jawabannya adalah waktu yang dihabiskan oleh pangeran kecil untuk mawarnya itulah yang membuat sebatang mawar tersebut menjadi begitu penting. Kita diajari untuk bertanggung jawab, selamanya, atas segala sesuatu yang telah kita 'jinakkan'. Yang dalam kasus ini adalah mawar sang pangeran kecil. Dengan 'menjinakkan' sesuatu, artinya kita telah membangun sebuah ikatan, sebuah hubungan. Ikatan tersebut unik, dan kita harus bertanggung jawab atas ikatan tersebut.
Walaupun novel ini ditulis pada tahun 1943, kurasa isinya tak lekang oleh waktu. Pelajaran-pelajaran moralnya pun cukup banyak. Dan hebatnya lagi dikemas dalam bacaan untuk anak-anak. Novel ini tak terlalu tebal, sekitar 100 halaman dan berisi dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar oleh penulisnya sendiri. Untuk orang-orang yang sedang mencari makna hidup, buku ini kurasa bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
15:22
1 comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi, Review Buku
Monday, February 09, 2009
Kurindukan Keindahan
Kesunyian ini..
Tak seperti biasanya
Awan kelabu terhampar
Kelam.. Suram.. dan Buram
Hatiku risau
Gelisah oleh kemuraman hari
Rasa pilu meresap
Hilang tersapu awan kelam
Hujan rintik-rintik
Membasahi bumi yang telah kering
Membawa kembali kehidupan yang telah hilang
Menumbuhkan benih-benih harapan
Wahai hujan
Basuhlah kerinduanku ini
Bawalah semua kegalauanku ini
Bersama tetesan-tetesanmu yang penuh berkah
Mengalir ke tempatmu bermuara
Kurindukan keindahan
Dibalik awan-awan mendung nan kelam
Wahai matahari
Ku rindu cahayamu
Sinarilah hatiku dengan harapan
Bawalah semua keresahan ini
Bersama hilangnya hujan terbuang ke lautan
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
12:43
0
comments
Wednesday, February 04, 2009
Begitu Mudahnya Menilai Kegagalan Orang Lain
Apakah arti sebuah kegagalan? Apakah yang akan anda lakukan jika salah seorang teman baik anda mengatakan dan 'men-cap' anda adalah orang gagal? Seolah anda adalah orang yang cukup pantas untuk dikasihani. Seolah anda adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Sementara anda menganggap apa yang telah terjadi pada diri anda adalah sesuatu yang biasa saja.
Itulah yang terjadi pada diriku kemarin. Salah seorang teman yang selama ini aku anggap sebagai teman dekat mengatakan aku adalah orang yang gagal, yang tak pernah bisa membuat kemajuan yang berarti paling tidak sejak dari kami mulai kenal dan menjadi teman. Entah apakah karena dia merasa sudah 'berhasil' lantas mengatakan sesuatu kepadaku yang menurutku cukup menyinggung perasaanku. Bahkan dia berkata kalau dia miris melihat keadaanku sekarang. What the.. @&%$#*(. Mungkin ini adalah bentuk perhatian yang bisa diberikannya padaku, tapi.. kok malah terkesan meledek dan melecehkan yah. Aku nggak se-desperate itu lah.
Jujur, diriku sendiri tidak merasa gagal seperti apa yang dia bilang. Aku merasa baik-baik saja. Walaupun mungkin aku telah gagal untuk mencapai apa yang seharusnya bisa aku raih, tapi aku tak merasa gagal. Justru aku malah mendapat banyak pelajaran berharga dari proses tersebut. Tak semua yang nggak bisa aku raih aku anggap sebagai bentuk kegagalan. Mungkin bagi sebagian orang, hasil lebih penting daripada proses. Tapi bagiku, proses juga tak kalah pentingnya. Justru banyak pelajaran yang tersimpan dibalik proses menuju hasil yang diharapkan. Hasilnya gagal atau berhasil, tak masalah, yang penting aku sudah berusaha dengan sebaik mungkin.
Tapi kata-katanya tak akan aku lupakan. Aku merasa sakit hati dengan kata-katanya. Apakah ada kecenderungan dari orang-orang yang berhasil untuk seolah-olah merendahkan teman dekatnya sendiri yang dianggap gagal olehnya? Nggak pernah terbayang dia bisa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu. Ini sih udah nggak ada hubungannya dengan berhasil atau gagal, ini sudah menyangkut harga diri.
Jangan pernah men-judge orang lain sebagai orang yang gagal. Berhasil atau gagal, hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri. Berpikirlah dua kali sebelum mengatakan kata-kata itu. Sakit hati, merasa direndahkan, dan merasa harga diri diinjak-injak adalah sebagian dari akibat yang mungkin. Luka memang bisa hilang, tapi bekasnya tak akan pernah bisa hilang.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:26
10
comments
Labels: Kehidupan
Monday, January 26, 2009
Sebuah Pilihan
Manusia memiliki impian dan keinginannya sendiri. Terkadang impian tersebut adakalanya mudah diraih dan adakalanya pula sulit diraih dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Permasalahannya disini adalah apakah kita cukup berani untuk bermimpi pada hal-hal yang tidak pasti, dimana faktor-faktor penentunya banyak ditentukan oleh lingkungan luar, diluar diri kita sendiri.
Impian dan keinginan memberikan motivasi yang cukup kuat kepada manusia untuk berusaha menggapai sesuatu yang lebih baik. Memiliki mimpi tentu lebih baik daripada tak memilikinya sama sekali. Tak memiliki mimpi berarti tak ada keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.
Sesuai dengan topik permasalahan yang telah aku sebutkan sebelumnya. Seberapa jauh manusia berani bermimpi, jika penentu pencapaian mimpinya itu tidak hanya ditentukan oleh diri sendiri, tapi oleh pihak lain. Jika tingkat kepastiannya rendah, masihkah berani bermimpi? Seperti misalnya masalah karir dan kenaikan posisi yang sering kali diincar, tapi apa daya keputusan tersebut ada di manajemen perusahaan. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana menyikapi masalah ini. Terus menerus bermimpi dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti menurutku sangat menguras energi dan pikiran. Ujung-ujungnya yang muncul adalah pikiran dan perasaan negatif seperti rasa kecewa dan rasa tidak puas. Istilahnya stress sendiri lah.
Inilah yang aku alami sekarang, dihadapkan diantara dua pilihan. Terus berharap dan mengejar mimpiku atau berusaha untuk melupakannya - at least menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Salah satu impianku terancam tak tercapai, karena tingkat kepastian yang rendah dan banyak faktor luar yang mempengaruhi.
Walaupun kemungkinan tercapainya mimpiku kecil, tapi kurasa aku akan tetap berusaha mengejarnya. It's worth every penny and I deserve it. Layak untuk aku perjuangkan hingga titik darah penghabisan, mengingat aku sudah berada di tengah-tengah dan terlalu sayang untuk aku buang dengan percuma. Hanya saja, tampaknya aku harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pilihanku ini. Well, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, justru seharusnya bisa memotivasi manusia untuk terus memperbaiki dirinya yang pada akhirnya menjadi awal untuk menuju keberhasilan.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
02:19
1 comments
Labels: Kehidupan, Kontemplasi
Friday, April 18, 2008
Mimpi
Apakah arti mimpi itu? Ketika beberapa tahun yang lalu tak terbersit sedikitpun dalam benakku untuk bermimpi. Masih terngiang di pikiranku ketika saat itu temanku menceritakan mimpi-mimpinya padaku. Aku kagum mendengarnya. Karena mimpi-mimpinya begitu luar biasa. Saat itu aku hanya bisa termenung. Merasa ada yang salah dalam diri ini. Karena aku bukan pemimpi seperti dia. Aku terlalu takut untuk bermimpi.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai berani untuk bermimpi. Bermimpi untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Dan tentunya ada pula mimpi-mimpiku yang lain selain yang itu. Bagiku, mimpi itu bak keinginan-keinginan dan tujuan hidupku. Yang tanpanya jelas membuat hidupku terasa hampa.
Perjalanan meraih mimpi sungguh indah. Walaupun pada awalnya terasa mustahil, tetapi seiring waktu berjalan, mimpi-mimpi tersebut terasa semakin dekat selama ada usaha untuk mendekatinya. Walaupun aku belum mencapai semua mimpi-mimpi itu, aku merasa semakin dekat dengannya.
Tanpa kusadari, cerita temanku beberapa tahun yang lalu telah memberikan inspirasi dan kontribusi yang besar dalam pembentukan mimpi-mimpiku. Apalagi kini sepertinya mimpi-mimpinya yang dulu pernah diceritakan padaku, kini sudah terpenuhi. Sepertinya tidak ada yang mustahil di dunia ini, selama ada mimpi dan usaha untuk meraihnya.
Kurasa, janganlah takut untuk bermimpi, walaupun itu tampak mustahil. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa siapkah kita jika mimpi-mimpi tersebut tidak terwujud.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
21:15
1 comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
Thursday, April 10, 2008
Rasa sakit juga berkah
Sudah tiga hari ini kepalaku terasa pusing, demam, badan sakit semua, dan ditambah batuk dan flu. Akhirnya hari selasa kemarin aku memutuskan untuk ijin dan istirahat di rumah, dengan harapan keesokan harinya sudah baikan dan bisa masuk kantor lagi.
Walaupun aku sakit, aku merasa bersyukur. Masih mending cuma kena flu, masih banyak yang lebih parah dari cuma sekedar flu. Sakit juga aku anggap sebagai berkah. Mungkin dengan sakit ini, tubuhku bisa benar-benar beristirahat secara penuh (dua hari terakhir ini sehari bisa tidur sampe 9 jam). Berkah yang lain adalah sebagai perenungan untuk lebih mendekatkan diri padaNya, agar bisa selalu mensyukuri semua nikmatNya. Semoga saja nanti kalo udah sehat nggak jadi kufur nikmat.
Aah.. Selama selalu berpikiran positif, kurasa rasa sakit pun tidak terasa berat. Apalagi dibarengi dengan rasa ikhlas.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
08:49
0
comments
Labels: Kehidupan
Friday, January 18, 2008
Perenungan
e manakah aku harus melangkah
Ketika hati ini dirudung kegalauan
Bimbang menentukan jalan
Arah tujuan yang harus kulalui
Aku bingung
Pijakanku rapuh
Seolah tak ada lagi tempat untuk berlindung
Dan tak ada tempat untuk kembali
Ya Allah...
Aku telah melangkah terlalu jauh
Tunjukkanlah aku jalan lurusMu
Agar aku kembali menemukan tujuan hidupku
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
08:57
0
comments
Labels: Kehidupan
Wednesday, December 19, 2007
Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu
Menemukan artikel yang cukup menarik untuk disimak dan dijadikan bahan perenungan. Siapa tahu bisa bermanfaat khususnya untuk orang-orang yang memiliki angan-angan atau keinginan yang belum atau tidak tercapai, termasuk dalam urusan jodoh :P.
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.
Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.
Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum : harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.
Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid : 22-23).
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah : Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.
Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan firman dari Allah : "… Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya : hidup di akhirat kelak!
Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Sumber: http://kotasantri.com/beranda.php?aksi=Detail&sid=94
Penulis: Firmansyah
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:59
1 comments
Tuesday, October 30, 2007
Memperbaiki Diri
Entah kapan aku bisa menjadi orang yang 'lebih baik'. Ketika aku telah melakukan suatu kebaikan kecil, selalu saja kutemukan hal-hal yang lebih baik yang masih bisa kulakukan. Semakin banyak hal-hal baik yang telah kukerjakan, semakin banyak pula hal-hal yang lebih baik yang telah menungguku. Selalu saja ada hal-hal yang lebih baik dari hal-hal yang aku rasakan lebih baik dari sebelumnya. Yang terkadang malah membuatku berpikir bahwa semua itu tidak ada artinya, karena aku belum merasa menjadi orang yang baik.
Sebaliknya, ketika telah kulakukan suatu keburukan, maka seolah aku lupa diri dan mencari-cari justifikasi alias pembenaran atas tindakan burukku. Tampaknya setan tak henti-hentinya menggoda. Baik ketika aku melakukan kebaikan maupun keburukan.
Ingin ku memperbaiki diri ini agar menjadi seseorang yang lebih baik. Namun sepertinya semakin kesini yang kulihat malah semakin banyak kekurangan yang aku miliki. Hhh.. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk menyendiri.. merenungi dan mengevaluasi semua hal yang telah aku lakukan. Semoga saja keinginanku bisa tercapai..
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
09:12
0
comments
Labels: Kehidupan
Friday, July 20, 2007
@_@
Hhh... cobaan memang tak akan berhenti menghampiri. Setiap hari selalu saja ada masalah yang harus diselesaikan. Belum lagi masalah-masalah yang menyangkut dengan hati dan emosi. Aku harus berusaha untuk tidak mudah mengeluh jika terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Ditambah dengan belakangan ini kerjaan bertambah banyak. Semakin sulit saja rasanya untuk mencari waktu luang untuk berpikir sejenak. Untuk merenungkan semua masalah-masalah yang ada, mencari akar permasalahannya, dan kemudian mencari solusi yang sesuai.
Well... mesti belajar dan belajar lagi untuk menjadi manusia yang lebih sabar dan lebih bisa menerima keadaan. Semua cobaan hidup ini kan pada dasarnya adalah sarana untuk melatih diri agar menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kedepannya aku bisa tetap sabar dan bisa menjadi orang yang lebih baik...
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
11:51
0
comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
Monday, July 16, 2007
Belajar Ikhlas
Beberapa hari ini aku mengalami beberapa hal yang kurang menyenangkan. Wajar lah, yang namanya hidup kan nggak selamanya menyenangkan. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang biasanya aku menyikapinya dengan tindakan-tindakan yang reaktif, kini aku mencoba untuk bersabar. Sebelum aku sempat untuk bertindak secara reaktif (yang biasanya terjadi tanpa aku sadari), aku berpikir dalam-dalam untuk sejenak. Memikirkan reaksi paling baik yang dapat aku lakukan tanpa terpengaruh dengan perasaan yang sedang kurasakan.
Aku mencoba ikhlas menerima keadaan, dan berusaha untuk memperbaiki diri. Hasilnya ternyata cukup menyenangkan. Semua perasaan negatif yang kuraskan menghilang. Dan sebagai gantinya, aku merasakan suatu rasa senang yang meluap-luap. Seolah aku baru saja melepaskan sebuah beban yang berat. Memang tidak mudah untuk menerima dan melupakan hal-hal yang kurang menyenangkan. Tetapi tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Semuanya kembali ke diri masing-masing. Apakah ada keinginan yang kuat untuk melakukan hal-hal yang sulit tersebut atau tidak.
Hmm.. Pelajaran yang kudapat kali ini adalah berpikir dan merenungkan semuanya terlebih dahulu sebelum aku menyikapi suatu hal. Serta sikap ikhlas dalam menerima semua hal yang terjadi. Tak peduli itu menyenangkan atau tidak.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
08:39
2
comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
Thursday, July 05, 2007
Mencoba untuk tidur 8 jam sehari :P
Beberapa hari ini aku mencoba untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Maunya sih supaya bisa tidur 7-8 jam sehari. Mungkin tidur 7-8 jam sehari bisa dibilang kebanyakan. Tetapi menurutku nggak juga. Ada pula yang bilang tidur itu yang penting adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Dan kurasa memang ada benarnya. Tetapi sejauh yang aku rasakan, kualitas tidurku sepertinya baik-baik aja tuh. Setiap hari bisa tidur nyenyak. Namun jika memaksakan cuma tidur 5 atau cuma 6 jam sehari walaupun bisa nyenyak, rasanya keesokan harinya aku merasa nggak fresh.
Masalah kurang fresh ini pun berlanjut. Nggak hanya badan yang capek. Tetapi pikiran juga terpengaruh. Sering sekali emosiku menjadi tidak stabil jika malam sebelumnya aku kurang tidur. Aku menjadi mudah cemas, kurang bisa berpikir dengan jernih, dan terkadang sering menjadi pesimis pada hari itu. Entahlah, apakah ini hanya terjadi padaku atau ada orang lain yang mengalaminya juga. Anehnya, kebiasaan tidur larut malam ini mempunyai efek adiktif. Jika sudah terbiasa tidur larut malam, sulit sekali untuk mengubah pola tidur ini menjadi tidur lebih awal. Seolah malah mencari justifikasi bahwa tidur lebih larut artinya aku dapat memanfaatkan waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal-hal yang lain.
Ada juga temanku yang mengatakan tidak ada masalah untuk tidur larut malam dan seolah jika tidur terlalu awal dia merasa kurang efektif dalam memanfaatkan waktu. Seringkali aku juga berpikir demikian. Namun, sepertinya dari jatah waktu yang aku miliki dalam sehari, rasanya masih banyak waktu-waktu yang aku gunakan untuk hal-hal yang kurang penting. Kurasa daripada mengurangi jatah waktu untuk tidur untuk mengerjakan sesuatu hal yang lain, lebih baik memaksimalkan efektifitas penggunaan waktu di saat-saat yang lain. Hhh... walaupun ini bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan.
Paling tidak, beberapa hari ini pikiranku terasa lebih jernih dan lebih segar. Selain itu, aku merasa bisa lebih tenang dan lebih menikmati hidup ini, berpikir lebih positif, dan mencoba mengabaikan hal-hal yang dapat merusak emosiku pada hari itu yang selanjutnya akan membuatku merasa lebih senang dan bahagia. Ahh... Kebahagiaan memang dapat diciptakan, dan tentu saja itu adalah pilihan :D
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
13:59
2
comments
Labels: Kehidupan
Tuesday, July 03, 2007
Butuh Inspirasi
Beberapa hari ini aku mencoba berburu film-film yang genre nya film anak-anak atau film keluarga. Berhubung rasanya terkadang bosan juga menonton film-film yang genrenya Action, Drama, bahkan Thriller. Alasannya, selain terkadang ujung-ujungnya nggak jelas dan agak-agak mengecewakan, filmnya juga agak-agak berat buat ditonton.
Beberapa hal yang aku suka dengan dengan film-film anak-anak adalah ceritanya ringan dan biasanya selalu happy ending. Jadi bisa aku tonton tanpa tergantung kondisi mood ku. Cukup menghibur ketika mood lagi nggak bagus. Karena memang untuk anak-anak, jadinya alur ceritanya lebih mudah dicerna dan dimengerti. Ada bagian yang menurutku menyenangkan, ada pula bagian-bagian yang mengharukan dan bagian ini biasanya lebih mengena dibandingkan dengan film-film dari genre lain. Terlebih lagi, biasanya film-film seperti ini memiliki tema persabahatan, kasih sayang, dan segala sesuatu yang menurutku malah dapat memberikan inspirasi tentang kehidupan yang sedang aku jalani sekarang.
Menarik sekali rasanya. Justru aku malah mendapatkan banyak pelajaran dari film-film ini. Banyak pelajaran-pelajaran yang bisa aku ambil dan mungkin aku jadikan sebagai bahan perenungan. Entah... aku menyukai hal ini karena aku memang suka dengan cerita-cerita anak kecil ataukah karena memang aku sudah tak menemukan sesuatu yang dapat memberikan aku inspirasi dari film-film dari genre lain.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
17:28
10
comments
Thursday, June 21, 2007
Sebuah perenungan...
"Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita merupakan hal kecil dibanding dengan apa yang ada di dalam kita."
Sebagai contohnya adalah misalnya ketika kita ditimpa suatu musibah atau mungkin berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Daripada terus menggerutu dan mengeluh dengan keadaan yang terjadi, aku rasa lebih baik jika kita mencoba mengambil hikmahnya dan mencari jalan keluarnya. Semua hal buruk yang telah terjadi biarkanlah seperti adanya. Toh, semuanya sudah terjadi. Lebih baik berpikir saat ini. Apa yang bisa dilakukan saat ini yang dapat memperbaiki keadaan kita? Apa pula yang harus kita kerjakan agar musibah yang telah terjadi tidak terjadi lagi di masa yang akan datang?
Aku rasa untuk memiliki pola pikir yang seperti ini tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mengeluh pada keadaan bukanlah suatu solusi, karena itu diluar kendali kita. Tetapi kita bisa memilih respon yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Apakah kita akan terus menyalahkan keadaan? Atau apakah kita akan melupakan kejadian ini dan bangkit untuk memperbaiki diri dan berfokus pada hal-hal yang memang bisa kita lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik?
~semakinNggakJelasAjaNih....
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
16:06
3
comments
Friday, June 15, 2007
User, Developer, dan Notulis
Setelah bersantai-santai dalam beberapa minggu terakhir, akhirnya minggu ini bisa sibuk juga. Empat hari terakhir ini aku kerja lembur. Rata-rata pulang dari kantor jam 9 malam. Sampai di rumah sekitar jam setengah 11. Capek juga sih, namun aku merasa puas. Akhirnya aku bisa produktif juga dalam urusan pekerjaan, walaupun beberapa rutinitasku terganggu karena pulang larut malam setiap hari.
Diawali dari hari Senin. Saat itu aku kebagian kerjaan sebagai "User", melakukan UAT bersama bagian IT dan vendor yang telah aku sebutkan dalam postinganku sebelumnya. Menjadi "User" memang harus jeli pada setiap celah yang mungkin ada. Jika memang terjadi sesuatu yang salah pada sistem, mau nggak mau mesti menunggu vendor menambal celah tersebut. Untungnya di UAT yang kemarin hal-hal yang seperti itu tidak terjadi. Malahan yang terjadi kesalahan banyak terjadi dari internal perusahaan. Maklum, setahuku ini UAT nya juga mendadak, jadi kurang persiapan. Seharusnya bisa pulang cepat, akhirnya malah mesti lembur hingga jam 10 malam.
Hari Selasa dan Rabu, aku menjadi "Developer" atau disini bisa lah disebut sebagai "Programmer". Berhubung kebagian pekerjaan yang memang sudah aku nanti-nantikan, ya nggak apa-apa lah lembur. Maksudnya biar kerjaan cepet beres. Aku berharap minggu depan jam kerjaku bisa normal lagi. Dalam kasus ini, aku bisa dibilang menjadi vendor untuk Departemen Content yang berada satu divisi denganku. Dari sisi "Vendor" ini, aku harus bisa membuat sistem yang sempurna (kalo nggak bisa ya paling nggak mendekati lah) yang sesuai dengan permintaan mereka.
Sistem yang aku kembangkan berurusan dengan salah satu perusahaan di luar sana yang berurusan dengan "email dan mesin pencari". Yang perlu aku lakukan hanya membaca data, membuat file XML dan mengirimkannya ke mereka. Aktivitas ini akan dilakukan rutin setiap hari. Menurutku cukup simple dan seharusnya dalam waktu kurang dari satu minggu bisa beres. Tetapi kenyataannya tak seperti itu. Beberapa hari ini koneksi ke server yang biasa aku pakai mengalami masalah. Anehnya ini cuma terjadi di divisiku. Sepertinya router untuk akses ke server di lantaiku mengalami masalah. Sehingga terkadang untuk melakukan upload atau download file dari server internal saja lama sekali. Tentunya hal ini mempengaruhi kecepatanku dalam menyelesaikan pekerjaan ini.
Hari Kamis, terpaksa aku harus menghentikan pekerjaanku untuk sementara waktu karena ada acara workshop dari pagi hingga sore. Workshop ini membahas perencanaan-perencanaan yang akan dilakukan divisiku pada kuartal ke-3 dan ke-4 tahun ini sekaligus mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan pada dua kuartal sebelumnya. Pada workshop itu aku menjadi notulis yang bertugas mencatat semua hal yang disiskusikan. Sejauh ini sih, aku belum pernah mendapat kerjaan yang 'resmi' seperti ini. Lumayan juga buat nambah-nambah pengalaman sekaligus melatih indera pendengaranku. Karena sejauh ini, aku tipe orang visual yang lebih mengandalkan penglihatan dibanding pendengaran.
Setelah workshop, akhirnya aku bisa melanjutkan kembali kerjaanku sebagai "Developer". Setelah memaksakan untuk lembur di hari itu dan sempat frustasi akibat ulah PHP yang aneh, akhirnya selesai juga pekerjaanku. Walaupun hanya untuk tahap awal, aku merasa senang karena semuanya sudah beres.
Minggu ini benar-benar aneh. Aku telah mengerjakan tiga hal yang menurutku cukup berarti dan ketiga-tiganya sangat berlainan. Walaupun demikian, aku sangat puas. Karena seminggu ini aku cukup produktif. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Apalagi ketiga hal ini tentunya menambah pengalaman dan pelajaran untuk memandang sesuatu dari sudut pandang lain. Kurasa inilah cara untuk mengaktualisasikan diri: mengerjakan apa saja yang bisa aku kerjakan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Tak masalah apakah pekerjaan itu aku suka atau tidak, selama bisa aku kerjakan dan bisa kubuat lebih baik, mengapa tidak???
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
20:01
0
comments
Labels: Kehidupan, Kerjaan, Keseharian
Wednesday, June 06, 2007
Kebahagiaan adalah pilihan
Hidup tak selamanya menyenangkan. Dalam menjalani kehidupan ini selalu ada masalah-masalah dan cobaan-cobaan yang harus dilalui. Selalu ada hal-hal yang mungkin membuat kita merasa kecewa, sedih, menderita, dan mungkin putus asa. Seperti ketika ada seseorang yang telah menyakiti hati dan membuat kita sedih. Untuk sebagian orang, tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja. Sementara untuk sebagian yang lain dapat dengan ikhlas menerima hal ini.
Ketika kita mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, kita dapat memilih respons terhadap perlakuan tersebut. Apakah kita memilih untuk menderita atau memilih untuk tidak menderita. Eleanor Roosevelt mengemukakan, "Tak seorang pun dapat menyakiti anda tanpa persetujuan anda." Kita memiliki kebebasan untuk memilih apakah kita ingin bahagia atau tidak. Berhentilah untuk menyalahkan orang lain atas perlakuan mereka terhadap diri kita sendiri. Jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh perlakuan orang lain. Kita bukan sasaran tindakan dari perlakuan orang lain.
Kita bisa saja merasa sedih dan kecewa. Tetapi, kita juga bisa menerima keadaan ini dan mencoba untuk mengintrospeksi diri kita sendiri mengapa orang lain bisa memberikan perlakuan yang kurang menyenangkan pada diri kita. Jangan berpikir untuk memberikan perlakuan yang sama, karena hal ini tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita. Jangan terlalu berharap agar orang lain dapat berubah karena itu diluar kendali kita. Beruntung jika orang tersebut dapat berubah. Jika tidak, bukannya mendapat kebahagiaan, tetapi rasa kecewa yang kita dapat. Terkadang hal yang paling sulit dari semua ini adalah mengenali hal-hal mana yang dapat kita ubah menjadi lebih baik dan hal-hal mana yang memang berada diluar kendali kita.
Inti dari semua ini adalah sikap ikhlas dalam menerima semua keadaan yang terjadi pada diri kita, baik keadaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Mengapa kita harus larut dalam kesedihan dan kekecewaan jika kita bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki diri dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan dapat kita ciptakan sendiri dan untuk menciptakannya, kita mempunyai pilihan apakah kita mau melakukannya atau tidak.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:53
0
comments
Labels: Kehidupan
Monday, June 04, 2007
Selalu ada hikmah dibalik kejadian
Ah... senangnya hari ini. Tadi pagi aku mendapat sms dari dua temanku yang berada nun jauh disana. Entah kenapa ini kebetulan atau tidak. Isinya berupa nasehat-nasehat untukku. Walaupun isinya pendek dan sederhana, nasehat-nasehat itu sangat mengena untukku. Aku merasa ini sebagai peringatan dan pendorong semangat untukku agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Memang selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian, dan aku rasa semua ini bukanlah sebuah kebetulan. Melainkan semua ini sudah ada yang mengatur. Aku merasa bersyukur, karena aku masih diberi petunjuk dan peringatan yang datangnya melalui kedua orang temanku. Terlebih lagi, ternyata teman-temanku yang berada nun jauh disana masih inget ama aku dengan mengirim nasehat-nasehat yang mungkin secara sekilas sederhana sekali. Alhamdulillah....
Walaupun telah menerima masukan-masukan dan nasehat-nasehat dari sana-sini, mengapa aku merasa sulit sekali untuk mengamalkan nasehat-nasehat itu. Hhh.... entahlah apakah ini cuma terjadi padaku saja atau semua orang pernah mengalami hal ini. Padahal, aku tahu bahwa nasehat-nasehat itu bisa membawaku ke arah yang lebih baik. Hidup ini adalah pilihan. Dan menurutku pilihan-pilihan itu sudah jelas. Namun, sulit sekali untuk mengikuti pilihan yang membawaku ke arah yang lebih baik. Duh... godaannya banyak banget. Ujungnya, ketika akhirnya aku mengambil pilihan yang kurang baik, malah mencari-cari alasan untuk justifikasi atas pilihan yang aku ambil. Rasanya perlu tambahan semangat lagi niy untuk menguatkan hati dan memantapkan niat untuk menjadi orang yang lebih baik.
Aku berharap, semoga peringatan-peringatan yang telah aku terima ini tak berakhir hanya sampai disini. Semoga esok, lusa, dan seterusnya aku masih dapat menjaga semua hal-hal baik yang aku miliki dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi...
Terimakasih ya Allah, atas petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan yang kau berikan padaku hari ini...
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
11:28
2
comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
Monday, May 28, 2007
Menata Hidup
Dulu sekali, bahkan sebelum aku lulus kuliah, aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjalani hidup yang lebih baik dibandingkan dengan keadaanku saat itu. Pada saat itu aku menjalani masa-masa yang bisa kubilang 'nggak bener'. Ngurusin proyek-proyek yang sebenarnya cuma memenuhi hobiku aja. Ujung-ujungnya kurang tidur dan hidup serasa berantakan. Untungnya gara-gara itu aku nggak sampe sakit. Terlebih lagi setelah ngerjain proyek-proyek di kampus. Tempat tinggalku pun pindah ke kampus. Selama setahun aku biasa menginap di kampus. Dalam jangka waktu tersebut, rasanya udah nggak karuan banget. Hidup itu serasa cuma buat kerja, maen game, dan download. Aku merasa ada bagian yang hilang.
Keinginanku dulu adalah aku suatu saat nanti bisa menjalani kehidupan yang normal. Yang aku maksud dengan normal disini adalah aku dapat menggunakan waktu yang aku miliki secara proporsional, nggak berat sebelah, yang waktu itu kebanyakan aku gunakan untuk bekerja. Bahkan kalau bisa aku kerja di lingkungan yang core businessnya bukan IT (Alhamdulillah keinginanku terkabul). Pikiranku saat itu adalah: aku sudah lelah menjadi programmer. Sebenarnya itu adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan dan menantang menurutku. Tapi karena sangat menyenangkan itu lah, aku khawatir aku jadi lupa waktu dan nggak bisa menata hidupku dengan baik. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa terkadang pekerjaan sebagai programmer itu memang berat. Apalagi jika usernya rewel dan minta perubahan yang nggak-nggak. Duh, bisa-bisa nggak tidur semaleman cuma untuk membereskan potongan-potongan kode yang salah. Pernah dapet user yang rewelnya minta ampun, yang nggak konsisten, minggu pertama minta A, minggu kedua minta A diganti jadi B, besoknya lagi minta B diganti jadi C, dan yang terakhir, minta ganti lagi jadi A. Hhh.... sebagai programmer aku juga nggak bisa apa-apa. Soalnya posisi tawarku kan rendah banget. Memang bener tuh apa kata temenku dulu. Kalau udah kedua bos sudah setuju (dalam artian bos kita ama bos klien), ya susah deh jadinya.
Saat ini, aku mempunyai banyak waktu luang. Walaupun aku merasa jadi kurang produktif, aku mencoba membuang pikiran-pikiran itu. Sudah saatnya aku membuka pikiranku pada hal-hal lain diluar 'produktif' atau 'kurang produktif' tadi. Aku mencoba untuk menemukan tujuan jangka panjangku, yaitu tujuan hidupku yang selama ini aku abaikan. Selama ini, aku merasa hidupku seolah tanpa tujuan yang jelas. Ibaratnya aku cuma menjalani hidup ini tanpa mengetahui apa tujuan hidupku selama ini. Hidup seolah untuk bekerja dan bekerja, padahal masih banyak hal-hal lain yang seharusnya mendapat prioritas yang lebih baik.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, aku telah mencoba untuk menemukan jati diriku. Memang kedengarannya lucu juga. Dalam usiaku yang sudah mau beranjak ke 23 tahun pada tahun ini, aku masih mengurusi apa yang namanya jati diri. Dengan waktu yang aku miliki, aku mencoba untuk menata hidupku dengan membuat perencanaan-perencanaan dalam beberapa waktu ke depan. Mencoba membuat target-target yang harus aku penuhi dalam jangka waktu tertentu. Aku juga berusaha untuk membuat target-target harian dan membuat hidupku menjadi teratur dan lebih baik dari sebelumnya. Harapanku adalah, ketika aku mengetahui dan dapat menetapkan apa tujuan hidupku, sepanjang hidupku aku akan memiliki pegangan, sehingga aku tahu jika sewaktu-waktu aku tersesat lagi. Selain itu, aku juga akan selalu berusaha mencapai tujun hidupku ini, karena aku tahu apa yang seharusnya aku tuju.
Mencapai tujuan hidup menjadi orang yang lebih baik itu aku rasa sangat sulit. Apalagi ketika aku harus membuang kebiasaan-kebiasaanku yang kurang mendukung dan memulai untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Walaupun sulit, semuanya harus aku coba, dan tentunya aku harus konsisten dengan rencana-rencana yang telah aku buat. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan menuai hasil dari kebiasaan-kebiasaan yang baik ini.
Posted by
Eko Budi Prasetyo
at
22:15
4
comments
Labels: Kehidupan, Keseharian
